Ada masa ketika menulis berita terasa seperti menulis sejarah. Ketika setiap kalimat yang terbit di koran punya bobot moral, dan setiap nama yang disebut menanggung tanggung jawab publik. Aku masih ingat hari-hari di ruang redaksi yang sibuk menyiapkan naik cetak koran, setiap hari aku pulang pukul 00.00 WIB.
Penulis: Devi P.Wihardjo
Setiap hari aku pulang setelah memastikan beritaku di edit redaktur dan naik ke mesin cetak, telingaku juga kututup ketika tetangga mengira aku kerja di Club malam hanya karena setiap hari pulang jelang subuh demi menunggu naik cetak berita, bisik-bisik tetangga mengular, lalu pekikan ibuku membuat diam tentangga yang mulai khawatir aku menjalani hidup tak bermoral.”Anakku wartawan!” memecah gunjingan itu.
Dulu tahun 2007 sebagai reporter muda, aku percaya kata-kata bisa mengubah sesuatu mungkin kecil, tapi nyata. Aku menulis tentang perbankan, kebijakan publik, dan pasar yang tak pernah tidur. Tapi di balik angka dan analisis, aku diam-diam mencari denyut manusia di dalamnya: kisah tentang ketimpangan, ambisi, dan harapan kecil yang terselip di antara laporan ekonomi.
Sepuluh tahun berlalu. Dunia media berubah seperti gelombang yang tak bisa ditahan. Berita kini berpacu dengan algoritma. Di mana dulu jurnalis bersaing dalam akurasi, kini mereka berlomba dalam kecepatan. Redaksi menyusut, sementara ruang sunyi semakin besar. Aku berpindah ke berbagai ruang dari Koran Jakarta ke Infobank, dari dunia berita ke dunia kebijakan publik di DPR RI. Tapi ada satu hal yang tak berubah: hasrat untuk menulis.
Mungkin karena menulis adalah bentuk perlawanan paling tenang yang kupunya.
Di sela pekerjaan yang menuntut formalitas, aku mulai menyadari bahwa jurnalisme bukan hanya profesi, tapi cara hidup. Dan di tengah riuhnya dunia politik dan birokrasi, aku menemukan bahwa jurnalis dan seniman ternyata bersaudara: keduanya sama-sama berjuang mempertahankan rasa di tengah dunia yang makin beku.
Aku melihat banyak rekan lama beralih profesi. Ada yang menjadi konsultan media, ada yang mengelola bisnis, ada pula yang berhenti menulis sama sekali.
Mereka yang dulu menatap dunia dengan semangat, kini menatap layar dengan diam.
Bukan karena kehilangan minat, tapi karena kehilangan ruang.
Aku paham perasaan itu. Karena di satu titik, aku juga nyaris berhenti menulis.
Tapi mungkin, manusia selalu kembali pada hal-hal yang membuatnya merasa hidup. Maka lahirlah Existensil.com ruang kecil yang kuisi dengan suara yang sering tak terdengar: tentang kepemimpinan perempuan, keadilan sosial, dan masa depan yang lebih manusiawi. Di sana, aku kembali menjadi jurnalis, tapi juga sedikit seniman; menulis bukan untuk memenuhi tenggat, melainkan untuk memahami diri.
Aku sering berpikir tentang para seniman yang nasibnya mirip dengan para jurnalis.
Mereka yang dulu bisa hidup dari karya, kini menggantungkan hidup dari pekerjaan lain.
Data Kemendikbud mencatat lebih dari 40 ribu seniman kehilangan pekerjaan selama pandemi, dan sebagian besar belum kembali ke panggung hingga kini. Namun yang paling menyedihkan bukan hilangnya penghasilan, melainkan hilangnya keyakinan bahwa seni bisa memberi kehidupan.
Aku mengenal seorang kartunis, sehari-hari ia bekerja di kantor notaris, menggambar adalah hobi dan uang tambahan.”Nggak terlalu ngoyo seperti dulu, sekarang buat hobi aja sist,” akunya.
Aku tersenyum. Mungkin kami sama: menulis dan menggambar sudah bukan pekerjaan, tapi semacam doa yang diucapkan diam-diam agar jiwa tak padam.
Lain cerita sama situasi, seorang seniman teater yang juga sutradara ini punya pekerjaan utama sebagai guru SD. “Tidak bisa lagi kita hidup jadi seniman saja sekarang, berteater adalah hobi namun tidak bisa lagi menjadi tumpuan hidup,” ucap dia
Dalam buku catatan tuaku, aku pernah menulis kalimat begini: “Jurnalis adalah seniman yang bekerja dengan fakta, dan seniman adalah jurnalis yang bekerja dengan rasa.”
Kini, kalimat itu terasa makin benar.
Karena pada akhirnya, yang tersisa dari profesi bukanlah status atau gaji, melainkan keinginan untuk tetap bermakna. Ketika jurnalisme kehilangan ruangnya di media, ia pindah ke blog pribadi, ke esai-esai kecil, ke podcast independen.
Ketika seni kehilangan galeri, ia hidup di dinding rumah, di ruang komunitas, di panggung kecil di kampung. Mereka berdua mencari cara untuk bertahan kadang dengan luka, kadang dengan cinta.
Mungkin profesi kita tidak lagi bisa dijadikan pekerjaan utama. Tapi barangkali, itulah cara dunia menguji ketulusan: apakah kita menulis hanya karena dibayar, atau karena ingin menyala.
Aku menulis bukan karena aku wartawan, tapi karena aku tak bisa berhenti mendengarkan dunia.
Aku menulis karena ingin mengingat bahwa di balik statistik, kebijakan, dan laporan pasar, masih ada manusia.
Dan setiap manusia, betapapun kecilnya, punya cerita yang layak didengar.
Di malam yang hening, aku sering kembali ke halaman kosong di layar laptopku.
Aku menulis seperti orang yang berdoa. Perlahan, tapi pasti.
Menulis bukan lagi pekerjaan, bukan pula ambisi, tapi cara untuk tetap hidup di dunia yang terus berubah.
Seperti seniman yang melukis tanpa pameran, aku menulis tanpa janji pembaca.
Dan barangkali, di situlah letak kebebasan yang sesungguhnya.
Karena kelak, ketika algoritma menggantikan profesi dan pasar menghapus nilai, yang tersisa bukanlah pekerjaan kita melainkan apa yang kita cintai diam-diam:
menulis, melukis, mendengar, dan percaya bahwa dunia masih bisa disentuh dengan kata.
Di masa kecilku, kata “wartawan” selalu terdengar seperti nama panggilan bagi orang yang berani. Seseorang yang berjalan dengan buku catatan di tangan, mencatat dunia dengan keyakinan bahwa kata-kata bisa mengguncang kekuasaan.
Wartawan adalah sosok yang berdiri di antara rakyat dan tirani, di antara berita dan kebohongan. Begitu pula dengan “seniman” mereka dulu bukan sekadar penghibur, melainkan nabi-nabi kecil yang memaknai kesunyian, mengubah luka menjadi lukisan, derita menjadi nada, cinta menjadi puisi.
Kini, dua pekerjaan itu perlahan menjadi kenangan.
Di kafe-kafe kota, kita sering mendengar obrolan: “Dulu aku mau jadi jurnalis, tapi gajinya kecil.” Atau, “Aku dulu senang melukis, tapi sekarang cuma sempat akhir pekan.” Pekerjaan-pekerjaan yang dulu membentuk kebudayaan kini tergeser oleh algoritma dan layar-layar yang tak mengenal rasa. Wartawan tergantikan oleh mesin pencari, dan seniman oleh konten kreator.
Kita hidup di masa ketika kebenaran tak lagi memerlukan wartawan, dan keindahan tak lagi memerlukan seniman. Yang dibutuhkan hanyalah “engagement rate”.
Dalam laporan UNESCO tahun 2022, disebutkan bahwa industri media kehilangan lebih dari 250 ribu pekerja jurnalisme profesional secara global dalam satu dekade terakhir.
Di Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat lebih dari 1.000 jurnalis terdampak PHK sepanjang pandemi COVID-19. Sebagian kini beralih menjadi content creator, penulis iklan, atau pengelola media sosial. Kata “wartawan” yang dulu bergema di kantor-kantor redaksi kini terdengar samar di balik gawai pribadi.
Sementara itu, di dunia seni, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan bahwa hanya 2,6% pekerja di sektor seni dan hiburan yang bisa hidup sepenuhnya dari karya seni mereka. Selebihnya, menjadikan seni sekadar “sampingan” hobi yang diselipkan di sela kerja kantoran atau pekerjaan daring.
Padahal, pada masa 1970-an hingga 1990-an, nama-nama seperti Affandi, Sapardi Djoko Damono, atau W.S. Rendra hidup dari kesenian. Kini, seni tak lagi dianggap profesi, melainkan “passion” sebuah kata yang terdengar indah tapi menyiratkan kemiskinan yang sopan.
Perubahan ini bukan sekadar akibat teknologi, tetapi juga akibat dari cara berpikir kita yang semakin dangkal tentang nilai. Dunia kerja hari ini mencintai efisiensi, bukan makna. Mesin bisa menulis berita dalam dua detik, dan algoritma bisa menciptakan lagu dalam dua menit. Namun, yang hilang adalah jiwa sesuatu yang tidak bisa dikalkulasi oleh data atau diukur oleh “click rate”.
Jurnalis dulu menulis untuk menyingkap kebenaran. Kini, banyak yang menulis untuk mengejar klik. Seniman dulu menciptakan karya untuk menyentuh batin manusia. Kini, banyak yang berkarya untuk memenuhi target algoritma.
“Orang bisa menggambar setiap hari,” kata seorang teman pelukis, “tapi belum tentu melukis.” Ia kini bekerja sebagai desainer iklan digital. Kuasnya digantung di dinding, hanya dipakai jika waktu senggang datang seperti tamu yang jarang diundang.
Di era kapitalisme digital, profesi yang berakar pada perenungan dan ketulusan memang sulit bertahan. Jurnalis dan seniman sama-sama lahir dari kesadaran untuk melihat, bukan sekadar melihat-lihat. Tapi dunia kini tidak memberi ruang untuk lambat. Padahal, kebenaran dan keindahan membutuhkan waktu.
Kita tidak lagi hidup di zaman ketika koran pagi dibaca sambil menyeruput kopi, atau pementasan teater menjadi ruang perenungan sosial. Kini, berita bersaing dengan meme, dan puisi bersaing dengan reels berdurasi lima belas detik.
Namun barangkali, justru dalam kepunahan inilah kita diuji: apakah jurnalisme dan kesenian benar-benar mati, atau sekadar berganti bentuk. Mungkin wartawan masa depan adalah mereka yang berani merekam kenyataan di TikTok dengan kejujuran. Mungkin seniman masa depan adalah mereka yang menyusup ke dunia digital, membawa nilai yang dulu nyaris hilang.
Suatu kali, aku bertemu dengan jurnalis senior yang kini menulis blog pribadi tanpa dibayar. Ia berkata pelan, “Saya tidak lagi mengejar berita. Saya menulis karena masih ingin mengingat bagaimana rasanya jadi manusia.”
Di situ aku sadar, profesi boleh lenyap, tapi panggilan batin tidak.
Mungkin jurnalis masa depan tidak lagi bekerja di redaksi, dan seniman tidak lagi hidup dari galeri. Tapi keduanya masih akan ada tersembunyi di antara algoritma, menulis di malam hari, melukis di ruang sempit, mengingatkan kita bahwa dunia tidak hanya tentang efisiensi, tapi juga tentang makna.
Dan ketika nanti generasi baru lahir dari layar dan data, mungkin mereka akan menemukan kembali nilai yang pernah kita tinggalkan: bahwa menjadi manusia bukan sekadar bekerja, tapi bermakna.
Referensi:
- UNESCO (2022). World Trends in Freedom of Expression and Media Development.
- Aliansi Jurnalis Independen (AJI Indonesia), Laporan Tahunan 2023.
- Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, Data Ketenagakerjaan Sektor Seni dan Hiburan 2023.
- Rifai, Achmad (2024). Seni di Tengah Ekonomi Digital. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.