Mawar Si Dugong Nampak Bermain dengan Bayinya di Laut Alor

EXISTENSIL – Laut tak pernah kehabisan cara untuk memberi kejutan. Di antara riak tenang perairan Pantai Mali, Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) seekor dugong jantan bernama Mawar muncul ke permukaan dengan lembut, diikuti dua bayangan tubuh lain di bawah sinar sore yang keemasan.

Di punggungnya, seekor bayi dugong mungil menempel erat, sementara di sisinya tampak Melati, dugong betina yang selama ini dikenal lebih pemalu. Momen itu berlangsung hanya kurang dari satu menit tapi cukup untuk menggetarkan siapa pun yang melihatnya.

Di luar data dan angka, ada sesuatu yang lebih halus mengalir di kisah ini, relasi antara manusia dan laut yang dijaga dengan kesetiaan. Nelayan Kabola tak hanya mencari ikan, tetapi juga menjaga lamun menyadari bahwa keberlangsungan laut berarti keberlangsungan hidup mereka sendiri.

Mungkin inilah makna terdalam dari penampakan Mawar dan bayinya. Ia bukan sekadar berita alam, tapi sebuah alegori tentang harapan bahwa kehidupan bisa tumbuh di tengah ketidakpastian, bahwa laut masih punya ruang untuk cinta dan keberlanjutan.

Di tengah dunia yang semakin cepat menenggelamkan empati, laut Alor memberi kita pelajaran sederhana, bahwa keindahan bukan hanya tentang melihat, tapi juga menjaga.

Mawar, Melati, dan bayi kecil mereka tak tahu bahwa keberadaan mereka kini menjadi berita nasional. Tapi kehadiran mereka adalah pengingat bahwa manusia masih bisa hidup berdampingan dengan alam, bila mau menahan tangan dari kerakusan dan membuka hati untuk memahami bahasa laut.

Bagi masyarakat Alor, Mawar bukan sekadar hewan laut. Ia adalah “tetangga” yang setia muncul di perairan dangkal, menjadi simbol keterhubungan manusia dan laut.

Maka ketika anggota Forum Komunikasi Nelayan Kabola, Engky Bain, berhasil merekam video singkat tentang Mawar yang berenang bersama bayi dugong, kabar itu tersebar cepat dari desa ke desa, dari layar ponsel ke ruang rapat lembaga konservasi. “Kami sudah lama melihat Melati dan seekor bayi dugong, tapi mereka selalu menghindari kapal,” ujar Ketua Forum Nelayan Kabola Onesimus La’a, atau akrab disapa Pak One, Jumat (11/10/2025)

“Baru kali ini mereka terlihat begitu dekat. Kami ingin pastikan lamun di sini cukup untuk tiga ekor dugong itu. Kalau perlu, kami siap bantu rehabilitasi,” lanjut Pak One.

Ucapan Pak One mungkin terdengar sederhana, tapi sesungguhnya mengandung makna ekologis yang dalam. Dugong bukan hanya makhluk laut yang ramah dan eksotis; mereka adalah indikator kesehatan laut tropis. Tempat di mana dugong hidup adalah tempat di mana laut masih bernafas.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), dugong (Dugong dugon) termasuk dalam kategori “Vulnerable” rentan punah di alam liar. Populasinya di seluruh dunia diperkirakan hanya tersisa sekitar 85.000 ekor, tersebar di wilayah Samudra Hindia dan Pasifik Barat.

Di Indonesia, yang dulunya menjadi rumah bagi ribuan dugong, kini jumlah pastinya tak lagi diketahui. Beberapa penelitian menunjukkan indikasi penurunan populasi signifikan akibat kerusakan habitat dan aktivitas manusia di pesisir.

Dugong adalah mamalia laut herbivora satu-satunya yang masih hidup dari famili Dugongidae. Ia memakan berbagai jenis lamun seperti Halophila ovalis dan Halodule uninervis tumbuhan laut yang menjadi “paru-paru” ekosistem pesisir. Seekor dugong dewasa dapat mengonsumsi hingga 40 kilogram lamun setiap hari. Karena itulah, keberadaan dugong selalu menjadi penanda bahwa padang lamun di suatu kawasan masih sehat.

Namun, di balik pesona lembutnya, dugong menyimpan kerentanan yang besar. Ia hanya melahirkan satu anak setiap lima hingga tujuh tahun, dengan masa kehamilan sekitar 13 hingga 15 bulan. Bayi dugong biasanya hidup dekat dengan induknya selama dua tahun pertama. Itulah mengapa penampakan bayi dugong di Pantai Mali tergolong sangat langka ia menandakan keberhasilan reproduksi alami, sesuatu yang jarang terlihat di perairan Indonesia belakangan ini.

“Keberadaan dua individu lain selain Mawar membuktikan bahwa ekosistem lamun di Pantai Mali masih memiliki kualitas ekologis tinggi,” ujar Koordinator Nasional Program Spesies Laut Dilindungi WWF-Indonesia Ranny R. Yuneni.

Ranny menambahkan, tahun ini WWF bersama pemerintah dan masyarakat akan melaksanakan survei mamalia laut di Alor, mencakup dugong, lumba-lumba, dan paus. Survei itu diharapkan memberi dasar ilmiah untuk pengelolaan habitat mamalia laut di kawasan tersebut.

Hasil survei tahun 2024 memberikan harapan. Padang lamun di Pantai Mali termasuk dalam kategori “padat hingga sangat padat” dengan tutupan 73–76 persen angka yang mengindikasikan habitat kaya dan sehat. Delapan jenis lamun dari dua famili ditemukan, termasuk Halophila ovalis, makanan favorit Mawar. Temuan ini menunjukkan bahwa perairan Alor masih menjadi salah satu benteng terakhir bagi dugong di Indonesia Timur.

Namun laut yang sehat tidak hidup dalam ruang hampa. Di tengah tumbuhnya aktivitas wisata bahari di Alor, ancaman baru mengintai. Dugong yang lembut dan mudah mendekati manusia justru sering menjadi korban perilaku wisata yang tidak terkendali kapal yang terlalu dekat, suara mesin yang keras, atau wisatawan yang ingin “berenang bersama dugong” demi unggahan media sosial.

Ranny mengingatkan pentingnya kode etik wisata dugong, seperti jarak minimal pengamatan, batas jumlah kapal, dan larangan mengubah arah pergerakan hewan. “Keseimbangan antara konservasi dan pariwisata adalah kunci,” ujarnya.

“Interaksi dengan dugong harus aman, berjarak, dan tidak mengganggu perilaku alaminya,” tambah Ranny.

Pemerintah pun menyambut baik kabar bahagia ini. Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sarmintohadi, menyebut kemunculan bayi dugong di Alor sebagai bukti keberhasilan konservasi berbasis masyarakat. “Dugong adalah biota laut dilindungi nasional. Kehadiran dua individu baru di Alor adalah tanda bahwa upaya menjaga padang lamun membuahkan hasil,” pungkasnya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *