Antara Krisis dan Harapan dalam Sistem Pangan Indonesia

EXISTENSIL – Jakarta kembali menjadi ruang perjumpaan bagi para penggerak pangan berkelanjutan. Pada 24 Oktober 2025 mendatang, Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) akan menggelar Festival Jejak Pangan Lestari di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM).

Menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia pada 2045, pertanyaan besar yang diangkat festival ini terasa semakin relevan, akankah Indonesia mampu menciptakan sistem pangan yang tidak hanya menyejahterakan manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan alam?

Jawabannya mungkin belum sepenuhnya jelas, tetapi langkah-langkah kecil seperti Festival Jejak Pangan Lestari menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang dialog, seni, dan kebersamaan. Di sanalah jejak pangan lestari mulai dirajut perlahan, namun pasti.

Di bawah payung peringatan Hari Pangan Sedunia, festival ini bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah upaya untuk menegaskan kembali urgensi transformasi sistem pangan nasional di tengah ancaman krisis global, perubahan iklim, dan ketimpangan akses terhadap pangan bergizi.

Tahun lalu, festival ini berhasil menarik ratusan peserta dari berbagai kalangan pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan media. Tahun ini, antusiasme serupa kembali diharapkan, terutama karena KSPL menempatkan acara ini sebagai wadah berjejaring lintas sektor, tempat ide dan aksi bertemu dalam satu panggung. “Kami mengajak semua lapisan masyarakat untuk hadir karena transformasi sistem pangan membutuhkan gotong royong dari semua pihak,” kata Kepala Sekretariat KSPL Gina Karina dalam keterangan pers, Jumat (10/10/2025)

Gina menekankan bahwa upaya menuju sistem pangan yang sehat, beragam, adil, dan tangguh tidak bisa digerakkan oleh satu pihak saja. “Kami berharap kesempatan ini menjadi jembatan kolaborasi baru yang melahirkan inisiatif konkret bagi masa depan pangan Indonesia,” tambahnya.

Menurut Gina, ini yang melatarbelakangi acara ini tak bisa dilepaskan dari tantangan besar yang dihadapi sistem pangan nasional. Indonesia, dengan potensi agraris yang luas, masih berjuang mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi pada awal 2025 mencapai 8,67 juta ton gabah kering gilingnaik dari 5,69 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini tampak menggembirakan, namun laporan Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa ketersediaan pangan nasional masih bergantung pada faktor eksternal seperti impor, distribusi, dan daya beli masyarakat. Artinya, peningkatan produksi belum tentu menjamin kesejahteraan petani atau akses pangan yang merata di tingkat konsumen.

Menurut Global Food Security Index (GFSI) 2024, skor ketahanan pangan Indonesia berada di angka 55,2, dengan aspek ketersediaan mencapai 58,2 dan kualitas serta keamanan pangan hanya 44,5. Angka ini menempatkan Indonesia di bawah beberapa negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand. Ketimpangan ini mencerminkan bahwa meskipun bahan pangan tersedia, kualitas gizi dan keamanan pangan masih menjadi tantangan.

Laporan Badan Pangan Nasional juga menunjukkan bahwa konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia masih jauh di bawah rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 400 gram per hari. Rata-rata konsumsi harian masyarakat Indonesia hanya sekitar 173 gram.

Faktor sosial dan pendidikan turut berpengaruh terhadap kualitas konsumsi pangan. Studi “Statistik Konsumsi Pangan” yang diterbitkan Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa masyarakat dengan pendidikan menengah ke atas memiliki tingkat konsumsi makanan sehat 31 persen lebih tinggi dibanding mereka yang berpendidikan rendah.

Sementara itu, konsumsi makanan ultra-proses dan bergula tinggi justru meningkat di kelompok masyarakat urban berpendapatan rendah. Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi pangan berperan penting dalam membentuk kebiasaan makan dan, lebih jauh, dalam mewujudkan ketahanan pangan yang sejati.

Di sisi lain, nasib petani kecil masih menjadi titik lemah sistem pangan nasional. Sensus Pertanian 2023 mencatat ada 15,5 juta rumah tangga petani di Indonesia, sebagian besar mengelola lahan di bawah satu hektar.

Skala usaha yang kecil, keterbatasan akses modal, serta perubahan pola iklim yang ekstrem membuat banyak petani berada dalam posisi rentan.

Tanpa intervensi kebijakan yang kuat dan dukungan kelembagaan, regenerasi petani akan terancam. Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan rata-rata usia petani di Indonesia kini mencapai 52 tahun, sementara minat generasi muda terhadap pertanian menurun drastis.

Dalam konteks inilah, Festival Jejak Pangan Lestari 2025 hadir sebagai upaya membangun kesadaran kolektif dan menggugah kembali nilai-nilai gotong royong yang menjadi fondasi sistem pangan lokal. Acara ini akan diisi dengan berbagai kegiatan lintas disiplin.

Di panggung utama, diskusi bertema “Pangan Lestari untuk Manusia, Alam, dan Iklim yang Sehat” akan menghadirkan berbagai narasumber dengan latar belakang berbeda, mulai dari akademisi hingga pegiat lingkungan. Ada Saskia Tjokro dari ANGIN yang akan menyoroti peran investasi sosial dalam rantai nilai pangan berkelanjutan, Umi Fahmida dari Fakultas Kedokteran UI yang berbicara tentang hubungan antara gizi dan keanekaragaman pangan, Britania Sari, praktisi zero waste yang menekankan pentingnya perubahan gaya hidup, serta Muhammad Rafly dari komunitas Imah Maggot Bantaran yang memperkenalkan inovasi pengelolaan limbah organik menjadi sumber protein alternatif.

Selain diskusi, festival ini juga menyajikan pementasan teater berjudul “Surat dari Ladang” oleh Komunitas Teater Paradoks FISIP UI. Pertunjukan ini mengangkat kisah nyata petani dan masyarakat desa yang berjuang mempertahankan lahan serta menjaga hubungan spiritual dengan tanah.

Panggung teater menjadi ruang refleksi bahwa pangan bukan sekadar produk konsumsi, melainkan hasil relasi manusia dengan alam yang sarat makna dan perjuangan. Di sisi lain, pameran foto dan poster riset akan memperlihatkan potret-potret kehidupan pangan di berbagai daerah Indonesia, mulai dari lahan gambut di Kalimantan hingga pesisir Sulawesi.

Festival ini juga menghadirkan booth icip-icip pangan lokal, memperkenalkan bahan pangan nusantara seperti sorgum, kelor, sukun, dan berbagai umbi-umbian yang mulai dikembangkan kembali sebagai alternatif beras. Kehadiran pangan lokal tidak hanya memperkaya pilihan konsumsi masyarakat, tetapi juga menjadi strategi penting dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga ketahanan pangan di tingkat lokal.

KSPL bekerja sama dengan sebelas mitra utama CIFOR-ICRAF, CIPS, GAIN, Garda Pangan, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, IBCSD, Yayasan Kehati, KRKP, Parongpong RAW Lab, Systemiq, dan WRI Indonesia serta jejaring seperti Sebumi dan Sendalu Permaculture. Mereka berbagi pengalaman riset, inovasi, dan kebijakan yang diharapkan menjadi dasar pembentukan sistem pangan yang lebih berkeadilan dan tangguh.

Dalam konteks global, Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober sejak 1981 merupakan inisiatif Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) untuk mengingatkan bahwa kelaparan, malnutrisi, dan ketimpangan akses pangan masih menjadi persoalan global.

Tahun 2024, FAO mencatat sekitar 735 juta orang di dunia mengalami kerawanan pangan kronis, sementara 2,4 miliar lainnya menghadapi ketidakamanan pangan moderat. Di Indonesia sendiri, angka stunting masih berada di kisaran 21,5 persen berdasarkan survei status gizi nasional 2024 turun, tetapi masih jauh dari target 14 persen pada 2025.

Dari panggung hingga pameran, Festival Jejak Pangan Lestari menjadi cermin kecil tentang bagaimana isu pangan seharusnya didekati tidak hanya dari sisi produksi, tapi juga nilai-nilai budaya, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekologis.

Dalam teater, diskusi, dan cita rasa yang ditawarkan, festival ini menanamkan gagasan bahwa sistem pangan lestari hanya mungkin terwujud ketika manusia kembali mengakui keterhubungannya dengan bumi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *