Existensil – Di tengah urgensi krisis iklim yang makin nyata, muncul sekelompok perempuan muda Indonesia yang tak hanya bersuara, tapi juga bertindak. Mereka hadir dengan energi segar, pendekatan kreatif, dan keberanian khas generasi baru. Bukan sekadar pengikut, mereka kini menjadi pionir perubahan, dari ruang kelas kampus hingga wilayah pesisir dan desa-desa terpencil.
Aktivisme dengan Wajah Baru
Nama-nama seperti Syaharani, Fafa, Ebi, Gita, Theresia, dan Zahra menjadi simbol dari transformasi gerakan iklim di Indonesia. Dengan latar belakang dan pendekatan yang berbeda, mereka bersatu dalam misi yang sama: menyelamatkan bumi.
Syaharani mendalami kebijakan transisi energi dan riset litigasi iklim di Cirebon. Fafa, yang baru berusia 24 tahun, memimpin upaya konservasi laut dan restorasi terumbu karang, termasuk lewat proyek “Penjaga Laut Anambas” yang diluncurkan 2023. Ebi, mahasiswa Ilmu Politik, mengangkat isu keadilan sosial melalui Social Justice Indonesia, menyoroti ruang kota yang inklusif dan ruang hijau publik.
Gita, 20 tahun, aktif dalam kampanye Bicara Udara, menjembatani dialog antara generasi muda, komunitas perempuan, dan pemerintah terkait bahaya pembakaran sampah. Theresia, meski masih berusia 19 tahun, telah menggerakkan ratusan warga Jakarta dalam kampanye ekonomi hijau dan berhasil mengumpulkan dana dari barang daur ulang untuk membantu tunawisma. Sementara Zahra telah terjun dalam isu kebencanaan dan iklim sejak usia 16 tahun, terinspirasi dari pengalamannya di kamp pengungsi korban banjir bandang di Garut.
Mereka tidak hanya turun ke jalan, tetapi juga memulai proyek konservasi, menggelar diskusi publik, mendorong kebijakan ke parlemen daerah, dan aktif membangun kolaborasi lintas komunitas dan organisasi. Media sosial menjadi alat strategis mereka dalam memperluas pengaruh dan menyebarkan edukasi lingkungan.
Keterlibatan Kaum Muda
Keterlibatan perempuan dalam isu iklim bukan kebetulan. Riset WALHI (2023) menunjukkan bahwa perempuan, terutama yang tinggal di komunitas rentan, merasakan dampak perubahan iklim secara langsung, dari urusan air, pangan, hingga kesehatan keluarga. Inilah yang memicu kesadaran dan komitmen mereka untuk bertindak.
UN Women (2022) mencatat bahwa lebih dari 60% inisiatif komunitas terkait iklim di Asia Tenggara dipimpin oleh perempuan muda. Fakta ini memperkuat keyakinan bahwa perempuan bukan hanya korban, tetapi agen penting dalam penciptaan solusi.
“Perempuan muda punya kepekaan sosial dan kekuatan komunikasi yang luar biasa. Mereka cepat belajar, cepat bertindak, dan mampu menggerakkan komunitas,” kata Siti Maemunah dari WEGO-ITN.
Dr. Sri Wiyanti Eddyono, peneliti isu gender dan lingkungan dari UGM, menambahkan, “Mereka membawa warna baru dalam kepemimpinan gerakan iklim; inklusif, empatik, dan sangat strategis dalam memanfaatkan teknologi.”
Menghadapi Tantangan dengan Ketangguhan
Keterbatasan dana, tekanan sosial, bahkan risiko kriminalisasi tak menyurutkan langkah mereka. Sebaliknya, mereka membangun solidaritas melalui jejaring komunitas, menggalang dana di platform digital seperti Kitabisa atau Change.org, dan memperkuat kapasitas lewat pelatihan dari organisasi global.
Gerakan ini berkembang pesat, terlebih setelah pandemi COVID-19 yang menjadi momentum refleksi kolektif akan pentingnya keadilan ekologis. Dari Jakarta hingga Cirebon dan Garut, semangat mereka menjalar menjadi penyambung suara bumi yang selama ini terpinggirkan.
Apa yang dilakukan para perempuan muda ini bukan tren sesaat. Ini adalah wujud cinta pada bumi dan tanggung jawab pada masa depan. Dengan pendekatan yang tegas namun lembut, idealis tapi solutif, mereka menjadi wajah baru perjuangan lingkungan di Indonesia.
Tahun 2024–2025 menjadi momen penting, seiring meningkatnya perhatian global terhadap COP30 di Brasil dan makin seringnya bencana iklim di Asia. Tapi jauh sebelum itu, para perempuan muda Indonesia ini telah bergerak membuktikan bahwa perubahan tak harus menunggu izin siapa pun.