
EXISTENSIL – Di balik geliat UMKM yang menjalar dari lorong desa ke rak-rak digital, ada sosok perempuan yang berjalan tanpa gegap gempita, namun konsisten menyalakan lentera harapan bagi ribuan pelaku usaha kecil di negeri ini. Dialah Triana Wulandari Ketua Umum Cahaya Ladara Nusantara (CLN), perempuan kelahiran Magelang, 13 Desember 1962, yang mengabdikan hidupnya untuk budaya, sejarah, dan kini: pemberdayaan ekonomi perempuan.
Cahaya Ladara Nusantara (CLN) adalah sebuah organisasi yang didedikasikan untuk memajukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh Indonesia, dengan fokus khusus pada pemberdayaan perempuan pelaku usaha. Didirikan oleh tokoh-tokoh perempuan terkemuka, termasuk pengusaha, pecinta UMKM, dan istri pejabat, CLN berkomitmen untuk membina UMKM agar siap bersaing di pasar global.
Perjalanannya bukan sekadar jejak kaki di koridor birokrasi, melainkan tarikan benang halus yang menenun nilai budaya ke dalam kehidupan sosial. Dari bangku kuliah di Universitas Negeri Surakarta hingga meraih gelar Master Ilmu Antropologi di Universitas Indonesia, kecintaan Triana pada budaya tak pernah padam. “Saya memang mencintai sejarah dan budaya. Dan dari sanalah saya memulai semuanya,” tuturnya kepada Existensil, Rabu (30/04/2025)
Langkahnya memasuki dunia pemerintahan dimulai pada 1988 di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Namun baru pada 2015, api pengabdiannya menyala terang saat dipercaya menjadi Kepala Bidang Diplomasi Budaya Dalam Negeri. Setahun berselang, ia menjadi Direktur Sejarah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan—mengawal narasi sejarah bangsa dengan kepekaan seorang antropolog.
Namun, ketika pensiun menghampiri pada 2023, Triana justru membuka babak baru: dari museum ke pasar rakyat, dari naskah kuno ke rak-rak UMKM. Ia menjadi Deputi I Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) dan pembina Komunitas 22 Ibu, sebuah gerakan yang menyulam seni batik lilin dingin dengan pemberdayaan perempuan pendidik di berbagai daerah. “Saya percaya bahwa seni dan budaya bukan sekadar ekspresi, tapi juga jalan perubahan sosial,” ujarnya mantap.
2024 lalu, Triana menapaki medan baru sebagai Sekretaris Jenderal Cahaya Ladara Nusantara (CLN) organisasi yang mewadahi ribuan UMKM dari seluruh penjuru Indonesia. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Ketua Umum CLN, membawa visi besar: menciptakan ekosistem pemberdayaan ekonomi yang memberdayakan, terutama bagi perempuan.
“Motivasi saya sederhana. Saya ingin memberi andil dalam pembangunan sosial-ekonomi bangsa. CLN memberikan saya panggung untuk mewujudkannya, khususnya lewat peran perempuan pelaku usaha,” ujarnya, penuh keyakinan.
Nyala Ekonomi Indonesia, UMKM
Di Indonesia, dari dataKementerian Koperasi dan UKM, lebih dari 64% pelaku UMKM adalah perempuan mereka yang mengolah dapur, menyulam kreativitas, dan menata arus kas rumah tangga dengan tangan terbuka dan kepala tegak. Dari sekitar 66 juta UMKM, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai Rp9.580 triliun, atau sekitar 61% PDB Indonesia.

Namun, data juga menunjukkan bahwa hanya 12–13% UMKM perempuan yang mampu mengakses teknologi digital secara optimal. Di sinilah Triana mengambil peran: menjembatani mimpi dan keterampilan, membuka akses dan memberdayakan dengan pelatihan, kerja sama, dan keberpihakan.
“Tantangan terbesar kita adalah mindset. Banyak perempuan tak percaya diri membangun usaha. Padahal mereka mampu. Perubahan harus dimulai dari dalam diri—berani mencoba, berani gagal, dan terus belajar,” tegasnya.
Di bawah kepemimpinan Triana, CLN tak hanya menjadi organisasi payung, tapi juga rumah bagi transformasi. Melalui pelatihan kewirausahaan, pendampingan digital, hingga pameran internasional, Triana membuka jalan agar perempuan tak hanya berdagang di pasar lokal, tetapi juga berani menembus pasar global.
“UMKM perempuan tak hanya butuh ruang, tapi juga sorotan. Kami di CLN menyediakan keduanya,” ujarnya.
Kolaborasi pun menjadi mantra. CLN menggandeng OJK, Kementerian UMKM, lembaga pendidikan, hingga BUMN. Tujuannya satu: memberi perempuan alat untuk berkembang. Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan jembatan emas menuju ketahanan ekonomi keluarga dan kemandirian perempuan.
“Berikan perempuan akses pendidikan dan pelatihan, beri ruang untuk mencipta, dan libatkan mereka dalam kemitraan usaha yang sehat. Maka hasilnya akan luar biasa,” ucap Triana, seolah membisikkan mantra masa depan.
Bagi Triana, perempuan bukanlah bayang-bayang dalam narasi pembangunan. Mereka adalah matahari pagi yang menyinari sawah ekonomi kerakyatan. Mereka bukan hanya menghidupi rumah, tapi menopang bangsa.
“Yakinlah bahwa perempuan punya potensi untuk membangun usaha, bahkan dari nol. Jangan takut mencoba. Teruslah berpikir maju, belajar, dan berkarya untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa,” pungkasnya.