Beban Ganda Perempuan Pekerja, Antara Karier dan Kompor

Perempuan pekerja bukan cuma tulang punggung keluarga, tapi juga tulang rusuk yang harus tetap lentur, bahkan saat patah. Siang bekerja demi upah, malam bergelut dengan kompor dan popok.
Semua dianggap wajar, bahkan mulia. Lelah? Ah, itu risiko jadi “superwoman”. Toh katanya, perempuan kuat itu yang bisa semuanya, tanpa mengeluh, tanpa berhenti. Inilah double burden atau beban ganda yang banyak perempuan pekerja alami.
Perempuan buruh bekerja penuh waktu di pabrik atau sektor informal. Saat kembali ke rumah, mereka kembali memikul tanggung jawab lain, unpaid care work yang serasa tak pernah selesai. Di antaranya memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak, hingga merawat lansia. Tak ada gaji tambahan tak ada cuti.
Laporan UN Women mencatat, perempuan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menghabiskan waktu hampir tiga kali lebih banyak dari laki-laki untuk pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar ini.
Yang lebih berat lagi, sistem kerja yang berlaku saat ini masih jauh dari ramah bagi perempuan. Minimnya cuti melahirkan, ketiadaan fasilitas penitipan anak, dan lemahnya perlindungan dari kekerasan seksual di tempat kerja hanyalah sedikit dari sederet persoalan yang perempuan buruh Indonesia hadapi.
Realita Maya
Di masyarakat Indonesia, perempuan yang mengerjakan pekerjaan rumah atau domestic masih dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau bahkan merupakan kodratnya. Perempuan sering kali tidak merasa berhak untuk mengeluh karena pekerjaan rumah dianggap kewajiban alami.
Padahal, pekerjaan tak ada bayarannya ini tetap menuntut tenaga, waktu, bahkan keterampilan emosional. Akibatnya, kontribusi perempuan di sektor rumah tangga nyaris tak tercatat dalam statistik ekonomi.
“Satu hal yang harus kita pahami: kerja domestik adalah kerja yang menopang ekonomi. Bayangkan jika semua pekerjaan rumah tangga itu dibayar dan dihitung secara nasional, nilainya sangat besar,” ujar Nur Hasyim, pendiri Aliansi Laki-Laki Baru, dalam diskusi publik tentang kesetaraan peran gender (2023).
Menurut Komnas Perempuan, meski perempuan buruh menghadapi tekanan ganda dan makin parah dengan sistem kerja yang masih jauh dari kata adil, negara dan perusahaan seringkali abai terhadap situasi ini. Hal ini diungkapkan Andy Yentriyani, Ketua Komnas Perempuan, dalam siaran persnya memperingati Hari Perempuan Sedunia 2024.
Efek Double Burden Mengintai
Sadar atau tidak, beban ganda para perempuan buruh ini memicu kelelahan fisik, psikologis dan sosial. Efek jangka panjang dari kelelahan ini akan mempengaruhi bahkan menghambat karier perempuan. Kurang tidur, stres, atau kecemasan terhadap urusan rumah membuat mereka kurang fokus di tempat kerja. Sayangnya, banyak atasan atau perusahaan yang tidak menyadari beban tersebut.
Riset dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan, perempuan yang bekerja dan tetap memikul beban kerja domestik lebih rentan mengalami kelelahan kronis, gangguan tidur, hingga hipertensi dan masalah pencernaan.
Di sisi lain, waktu untuk merawat diri hampir tidak tersedia. Makan terburu-buru, kurang olahraga, apalagi rekreasi. Ini menjadi pola hidup banyak perempuan butuh. Akibatnya, kualitas hidup dan produktivitas mereka bisa menurun secara perlahan namun pasti.
Selain kelelahan fisik, perempuan buruh yang memikul beban ganda juga rentan mengalami tekanan psikologis. Tuntutan untuk menjadi professional di tempat kerja, plus harus menjadi ibu, istri, perawat, guru, hingga asisten rumah tangga di rumah akan membuat tekanan menumpuk dan berdampak pada kesehatan mental.
“Banyak perempuan merasa bersalah jika tidak bisa memberikan yang terbaik, baik di kantor maupun di rumah. Ini menciptakan rasa cemas, stres, bahkan depresi,” ungkap psikolog klinis Ratih Ibrahim dalam sebuah seminar daring tentang Burnout Perempuan (2023).
Peran ganda juga membuat perempuan kehilangan waktu untuk membangun jejaring sosial. Bertemu teman, mengikuti kegiatan komunitas, atau sekadar beristirahat, menjadi hal mewah yang sulit mereka jangkau. Dampaknya, banyak perempuan pekerja yang merasa kesepian, kehilangan ruang untuk berbicara, dan mengalami keterasingan emosional.
Tak jarang, relasi dengan pasangan pun terganggu karena ketimpangan peran. Beban domestik yang tidak terbagi secara adil menyebabkan konflik dan rasa tidak terhargai. Ini makin parah dengan budaya patriarki yang masih kuat, di mana laki-laki wajar tak turun tangan di dapur atau ruang cuci.
Kurangi Beban Ganda Perempuan Pekerja, Begini Solusinya
Beban ganda yang perempuan pekerja tanggung harus segera mendapatkan solusi. Tentu saja, jalan keluar dari masalah ini tak cukup dari satu atau dua pihak terkait. Perlu pendekatan holistic, selain peran individu itu sendiri, juga ada kewajiban dari keluarga, masyarakat hingga pemerintah.
Sebagai langkah awal, individu tersebut harus memiliki kesadaran diri untuk menetapkan batasan dan membagi peran secara adil. Terutama dengan anggota penghuni rumah yang lain termasuk suami, anak bahkan orang tua.
Dalam penelitian oleh Wisna Amalia yang tertuang dalam skripsi berjudul Beban Ganda Pekerja Perempuan di Era Pandemik Covid-19, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif hidayatullah tahun 2022, ditemukan bahwa strategi seperti manajemen waktu yang baik, meluangkan waktu untuk diri sendiri, dan berbagi tanggung jawab dengan pasangan atau anggota keluarga lain efektif dalam mengurangi beban ganda.
Dengan adanya kesepakatan yang melibatkan anggota keluarga dalam berbagi tugas domestic, artinya keluarga telah memiliki andil dalam mengurangi beban ganda yang perempuan pekerja tanggung. Artinya, keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan keseimbangan peran gender.
Melansir dari artikel di Mubadalah.id berjudul ‘Beban Ganda Perempuan, Bagaimana Solusinya?’ yang rilis pada 2022 lalu, idealnya, jika kedua pasangan bekerja, maka tanggung jawab domestik seharusnya terbagi secara adil. Hal ini menekankan pentingnya komunikasi dan kerjasama antara pasangan untuk menciptakan lingkungan rumah tangga yang setara.
Sementara itu, masyarakat dan lingkungan kerja juga memiliki peran dalam mendukung perempuan pekerja. Penyediaan layanan seperti penitipan anak yang terjangkau dan aman, serta kampanye kesetaraan gender di lingkungan kerja dan komunitas lokal, dapat membantu mengurangi tekanan yang perempuan rasakan.
“Memberikan kesempatan bagi perempuan untuk dapat mengaktualisasikan diri tidak hanya akan berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sekitarnya,” kata Januari Pratama Nurratri Trisnaningtyas dari Konde.co.
Selanjutnya, negara juga harus menunjukkan perannya dalam membantu mengurangi beban ganda perempuan pekerja. Negara memiliki wewenang dalam bentuk penciptaan kebijakan-kebijakan yang mendukung kesetaraan gender.
Di antaranya, kebijakan terkait cuti melahirkan dan cuti ayah yang memadai. Selain itu juga adanya fasilitas penitipan anak di tempat kerja, serta perlindungan terhadap pekerja rumah tangga dan pekerja informal perempuan.
Mari Lebih Baik
Zaman semakin terbuka dan berkembang. Saatnya beban ganda para perempuan pekerja itu tak lagi dianggap wajar. Sudah mereka tak mendapat keadilan di tempat kerja, setelah di rumah, para pekerja perempuan ini masih harus menyelesaikan kewajiban dan tanggung jawab mereka sebagai ibu atau anak perempuan dewasa.
Dengan kerjasama dari semua pihak, harapannya, perempuan dapat menjalankan peran mereka di ranah domestik dan publik tanpa harus menanggung beban yang berlebihan.