Menafsir Ulang Makna ‘Mencintai’ dalam Film Rangga & Cinta ala Gen Z

EXISTENSIL – Film musikal “Rangga & Cinta” menandai kembalinya dua nama yang tak lekang oleh waktu dalam sejarah perfilman Indonesia. Dua puluh tiga tahun setelah Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) mengguncang layar bioskop dan menjadi ikon generasi milenial awal, kini “Cinta” lahir kembali bukan sekadar tokoh romantis, melainkan simbol baru perempuan muda yang mencari dirinya di tengah dunia yang berubah cepat.

Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduseri oleh Mira Lesmana, film ini bukan proyek nostalgia semata. Ia adalah eksperimen sinematik yang berani, menyatukan musikalitas, puisi, dan sinematografi lembut untuk menafsir ulang kisah klasik tentang cinta, identitas, dan keberanian perempuan menjadi diri sendiri.

Dalam versi Nicolas Saputra dan Dian Santro (2002), Cinta dikenal sebagai gadis populer cantik, berkarisma, pemimpin geng sekolah, tapi kerap terjebak antara loyalitas pada sahabat dan perasaannya pada Rangga, si penyair penyendiri. Ia adalah simbol remaja ideal di masanya: kuat, tapi tetap harus “disukai”.

Dua dekade kemudian, Leya Princy memerankan Cinta yang baru, lebih reflektif, lebih sadar, dan lebih berani menantang norma yang mengekang. Ia bukan lagi gadis yang menunggu Rangga di bandara, melainkan perempuan yang memilih menulis puisinya sendiri meski dunia belum siap mendengarnya.

Film ini mengembalikan kita ke suasana awal tahun 2000-an masa sebelum media sosial, tapi tekanan sosial terhadap perempuan sudah terasa. Dalam salah satu adegan musikal, Cinta menatap cermin dan bernyanyi, “Haruskah aku cantik agar kau percaya,atau cukup jujur agar aku nyata?”

Lirik itu menjadi resonansi lintas generasi, mengingatkan bahwa perempuan kerap dipaksa memilih antara menjadi “disukai” atau menjadi “diri sendiri”.

Format musikal dalam “Rangga & Cinta” bukan sekadar estetika. Ia adalah strategi bercerita yang memberi ruang bagi perempuan untuk bersuara tanpa batas. Melalui musik, Cinta menemukan kebebasan untuk mengekspresikan emosi yang sering kali tak bisa diucapkan dalam percakapan.

Dalam adegan di ruang redaksi majalah sekolah, Cinta menulis puisi sambil bernyanyi “Aku Tak Ingin Diam Lagi”. Kamera bergerak mengelilinginya di antara papan tulis dan mesin ketik, menandai betapa sempitnya ruang bagi ekspresi perempuan namun semangatnya untuk menulis tetap tak terbendung.

Musikal di sini menjadi metafora agency, perempuan yang menolak dibungkam. Lagu-lagu ciptaan Melly Goeslaw dan Anto Hoed tidak sekadar bernostalgia, tetapi membawa semangat baru, bahwa cinta bisa menjadi medium pembebasan, bukan pengekangan.

Rangga dan Dekonstruksi Maskulinitas

Sosok Rangga (diperankan El Putra Sarira) kini tak lagi menjadi figur penyelamat. Ia hadir sebagai laki-laki yang juga belajar memahami, bukan menguasai.

Jika di film lama Rangga menjadi pusat misteri yang menggerakkan Cinta, kali ini ia hanyalah satu bagian dari perjalanan hidup Cinta. Dalam beberapa adegan, Rangga mendengarkan benar-benar mendengarkan ketika Cinta berbicara tentang mimpi, kemarahan, dan ketidakadilan.

Hubungan mereka kini bertransformasi dari cinta yang hierarkis menjadi dialog antar individu yang setara.
Rangga bukan lagi tujuan, melainkan teman perjalanan.

Salah satu kekuatan film ini terletak pada penggambaran ulang persahabatan Cinta dan gengnya. Mereka bukan hanya “pendukung drama cinta”, tetapi hadir sebagai komunitas yang membangun kesadaran sesama perempuan.

Dalam satu percakapan, salah satu sahabatnya berkata. “Kenapa kita selalu takut salah, padahal yang salah itu aturan tentang kita.”

Dialog itu sederhana, tapi kuat. Ia menyoroti bagaimana norma sosial sering kali memenjarakan perempuan muda: harus tampil ideal, harus lembut, harus menahan ambisi. Film ini menantang semua itu, namun tanpa kehilangan kelembutan khas remaja.

Dengan cara yang halus, “Rangga & Cinta” mempopulerkan semangat feminisme dalam bahasa yang bisa dirasakan penonton muda, lewat tawa, persahabatan, dan keberanian kecil untuk berkata “tidak.”

Secara visual, film ini mempertahankan atmosfer klasik AADC warna pastel, pencahayaan lembut, musik yang melankolis tapi kali ini dengan pesan yang lebih politis. Nostalgia digunakan bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk mengoreksinya.

Mencintai Tanpa Kehilangan Diri

Cinta tidak lagi menjadi “hadiah” dari perjalanan emosional Rangga. Ia berdiri di tengah cerita sebagai tokoh dengan kehendak dan tujuan. Dalam satu adegan penting, ketika Rangga memintanya menunda cita-cita demi hubungan mereka, Cinta menjawab dengan tenang. “Kalau aku berhenti demi kamu, lalu siapa yang melanjutkan aku?”

Kalimat itu menjadi semacam manifesto generasi baru perempuan muda Indonesia mereka yang ingin mencintai tanpa kehilangan dirinya.

“Rangga & Cinta” sejatinya berbicara pada dua generasi, generasi yang dulu tumbuh bersama AADC, dan generasi Z yang kini hidup dalam dunia digital.

Bagi penonton lama, film ini adalah jembatan nostalgia mengingat masa ketika puisi cinta masih dikirim lewat kertas, bukan pesan instan. Tapi bagi penonton muda, film ini adalah refleksi tentang keberanian perempuan untuk menulis narasinya sendiri di tengah budaya yang terus berubah.

Riri Riza dan Mira Lesmana, dua nama yang dulu menciptakan ikon Cinta dan Rangga, kini seolah berdialog dengan versi muda diri mereka sendiri. Mereka tidak memaksa kisah lama untuk tetap romantis, tapi membiarkannya tumbuh seiring waktu dan konteks sosial.

Film berakhir dengan Cinta menulis kalimat terakhir di buku puisinya. “Aku mencintai bukan untuk dimiliki,
tapi untuk mengerti diriku sendiri.”

Kalimat itu menutup film dengan kesan yang tenang tapi menggugah. Cinta kini menjadi simbol perempuan yang tak lagi tunduk pada narasi cinta sebagai akhir bahagia, melainkan menjadikannya sebagai proses menjadi manusia seutuhnya.

“Rangga & Cinta” berhasil memutar arah pandangan publik, dari romansa klasik menjadi refleksi feminis yang lembut. Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa mencintai tanpa kehilangan identitasnya, dan cinta sejati justru dimulai ketika seseorang berani mencintai dirinya sendiri.

“Rangga & Cinta”, yang tayang perdana di bioskop pada 2 Oktober 2025, mungkin tidak sempurna secara teknis. Beberapa penonton menganggap musikalitasnya belum meledak, atau narasinya masih terlalu hati-hati. Namun jika dilihat dari kacamata gender, film ini memberi kontribusi penting, ia menegaskan bahwa perempuan berhak menjadi pusat cerita.

Dalam dunia perfilman Indonesia yang masih sering menempatkan perempuan sebagai objek romantisasi, kehadiran film ini seperti napas segar. Ia mengingatkan kita bahwa perempuan tidak hanya ada untuk dicintai, tapi juga untuk berkarya, bersuara, dan menentukan arah hidupnya.

Maka ketika penonton keluar dari bioskop pada malam rilisnya, barangkali mereka tak hanya membawa nostalgia AADC, tapi juga pemahaman baru, bahwa Cinta bukan sekadar nama karakter ia adalah metafora tentang keberanian perempuan Indonesia hari ini. Dan mungkin, itulah jawaban paling jujur atas pertanyaan legendaris itu. “Ada apa dengan Cinta?”. Kini kita tahu, ada perlawanan, ada suara, dan ada masa depan di sana.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *