Ekofeminisme, Jalan Pulang bagi Bumi dan Kemanusiaan

Dalam pusaran krisis iklim yang semakin akut mulai dari kebakaran hutan yang meluas di Kalimantan, kekeringan ekstrem di Nusa Tenggara, hingga banjir yang menelan wilayah pesisir utara Jawa kita menyaksikan satu hal yang sama, rusaknya keseimbangan alam akibat kerakusan manusia dan sistem ekonomi yang menindas. Namun di tengah keputusasaan ini, muncul satu paradigma yang menawarkan penyembuhan, bukan hanya bagi bumi, tetapi juga bagi kemanusiaan, yaitu ekofeminisme.

Oleh: Devi P.Wihardjo

 

Ekofeminisme lahir dari pemikiran bahwa penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi terhadap alam berakar pada sistem patriarki yang sama. Tokoh seperti Vandana Shiva dan Maria Mies mengungkapkan bahwa kapitalisme modern dibangun atas logika dominasi, laki-laki atas perempuan, manusia atas alam, Utara atas Selatan. Dalam bukunya Ecofeminism (1993), Shiva dan Mies menegaskan bahwa keberlanjutan tidak akan pernah terwujud jika relasi kuasa yang menindas itu tidak diubah secara mendasar.

Teori ini kemudian berkembang dalam berbagai cabang. Ekofeminisme spiritual menekankan kembalinya hubungan sakral antara manusia dan bumi, ekofeminisme sosial menyoroti keadilan lingkungan dan distribusi sumber daya, sementara ekofeminisme materialis menyoroti hubungan langsung antara kerja reproduktif perempuan seperti merawat anak, menanam pangan, dan menjaga air dengan sistem ekonomi ekologis yang berkelanjutan.

Di Indonesia, pendekatan ini mulai menemukan relevansinya dalam konteks masyarakat agraris dan pesisir yang masih bertumpu pada kearifan lokal. Banyak perempuan di akar rumput petani, nelayan, dan penjaga hutan adat—telah lama menerapkan prinsip-prinsip ekofeminis tanpa menyebutnya demikian: hidup selaras, bukan melawan alam.

Isu lingkungan saat ini bukan lagi sekadar soal polusi atau emisi karbon. Ia telah menjadi persoalan eksistensial. Laporan World Bank (2024) memperkirakan bahwa lebih dari 140 juta orang di dunia akan menjadi pengungsi iklim pada tahun 2050 jika pola pembangunan tidak berubah. Di Indonesia, kementerian ESDM mencatat suhu rata-rata meningkat 0,8°C dalam dua dekade terakhir, sementara produktivitas pertanian menurun hingga 15% di wilayah rawan kekeringan.

Namun, dampak paling berat justru dirasakan oleh perempuan. Mereka yang menjadi penanggung jawab utama atas air, pangan, dan kesehatan keluarga kini menghadapi tantangan berlapis: akses terbatas terhadap sumber daya, ketidakadilan dalam pengambilan keputusan, serta kekerasan berbasis gender yang meningkat di tengah bencana.

Inilah yang disebut Shiva sebagai “ekologi kehidupan”, di mana perempuan tidak hanya menjadi korban perubahan iklim, tetapi juga agen penyembuh yang paling penting. Dalam banyak komunitas di Asia Selatan dan Afrika, perempuan telah menjadi garda depan gerakan konservasi tanah, air, dan benih lokal. Hal yang sama terjadi di Indonesia.

Salah satu isu yang mencerminkan semangat ekofeminisme hari ini adalah transisi energi bersih. Di banyak wilayah Indonesia, proyek energi terbarukan seperti PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di desa terpencil tidak hanya membawa listrik, tetapi juga memberdayakan perempuan.

Contohnya bisa dilihat di NTT dan Sulawesi Tengah, di mana program Solar Mama yang diinisiasi Barefoot College melatih perempuan desa menjadi teknisi surya. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, melainkan pengambil keputusan dalam pengelolaan energi komunitas. Inilah manifestasi nyata ekofeminisme, menggabungkan kesadaran ekologis dengan keadilan gender.

Namun, di sisi lain, banyak proyek energi bersih yang masih dikelola dengan pendekatan top-down menyingkirkan perempuan dari ruang partisipasi. Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Ynestra King, salah satu pelopor ekofeminisme Amerika, “Tidak ada keberlanjutan tanpa demokrasi ekologis, dan tidak ada demokrasi tanpa keadilan gender.”

Ekofeminisme tidak hanya bicara tentang kebijakan, tapi juga cara hidup. Ia menantang logika kompetisi dan pertumbuhan tanpa batas, menggantikannya dengan nilai-nilai perawatan (care), empati, dan relasi saling ketergantungan.

Teori “ethic of care” dari Carol Gilligan dan Nel Noddings memberi landasan moral bagi ekofeminisme, bahwa tindakan etis tidak berangkat dari hukum universal yang kaku, tetapi dari kepedulian dan tanggung jawab terhadap makhluk hidup lainnya. Dengan demikian, ekofeminisme bukan hanya strategi melawan perubahan iklim, tapi paradigma baru untuk memperbaiki relasi antar manusia dan antara manusia dengan alam.

Dalam praktiknya, hal ini bisa diterapkan melalui ekonomi sirkular berbasis komunitas, urban farming, produksi pangan lokal yang ramah lingkungan, atau bahkan perubahan kecil dalam pola konsumsi rumah tangga. Semua itu bukan hal kecil, karena sebagaimana ditulis oleh Donna Haraway, “kita hidup di dunia yang terbuat dari praktik-praktik perawatan kecil yang membentuk masa depan besar.”

Ekofeminisme: Visi Utuh Kemanusiaan

Lebih dari sekadar teori lingkungan, ekofeminisme menawarkan visi kemanusiaan yang utuh. Ia mengajarkan bahwa kesejahteraan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan bumi. Dengan menghormati siklus alam, manusia justru menemukan cara hidup yang lebih sehat, lebih setara, dan lebih bermakna.

Penelitian oleh UN Women (2023) menunjukkan bahwa komunitas yang memberi ruang kepemimpinan bagi perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam mengalami peningkatan ketahanan ekonomi hingga 20% lebih tinggi dibanding komunitas yang tidak. Ini bukti bahwa keadilan ekologis berjalan beriringan dengan kesejahteraan sosial.

Selain itu, pendekatan ekofeminis mendorong keseimbangan mental dan spiritual. Di tengah gaya hidup modern yang konsumtif dan terasing dari alam, gerakan ini mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa, melainkan bagian dari ekosistem kehidupan. Dengan memulihkan hubungan itu, manusia tidak hanya menyelamatkan bumi, tetapi juga dirinya sendiri.

Kita membutuhkan politik baru: politik perawatan. Politik yang tidak mengukur keberhasilan dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kualitas hidup manusia dan daya hidup bumi. Ini berarti memberi ruang bagi perempuan, masyarakat adat, dan komunitas lokal untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Seperti kata Vandana Shiva, “Jika kita ingin masa depan yang lestari, kita harus belajar dari perempuan dari cara mereka menanam, merawat, dan memelihara kehidupan.”

Ekofeminisme bukan sekadar wacana akademik, tetapi seruan moral agar umat manusia kembali pada prinsip dasar, bahwa hidup adalah tentang saling menjaga. Dalam dunia yang semakin panas dan tak pasti, mungkin inilah saatnya kita mendengarkan bumi dan para perempuan yang selama ini paling setia menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *