Energi Hijau, Jalan Menuju Kesejahteraan Baru: Pelajaran dari Andhra Pradesh untuk Indonesia

Existensil – Di tengah perlombaan global menuju ekonomi hijau, negara bagian Andhra Pradesh, India, menegaskan bahwa transisi energi bukan hanya tentang keberlanjutan, melainkan juga tentang keadilan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, terutama bagi generasi muda dan perempuan.

Menteri Pendidikan dan IT Andhra Pradesh, Nara Lokesh, menegaskan bahwa energi hijau akan menjadi motor transformasi sosial-ekonomi yang nyata. “Energi hijau, terutama tenaga surya dan angin, tidak hanya menyelamatkan planet ini, tetapi juga menciptakan peluang bagi jutaan orang. Kami menargetkan penciptaan dua juta pekerjaan dalam lima tahun,” tegas Lokesh seperti dikutip Times of India (6 Agustus 2025).

Ia menambahkan, pemerintahnya akan meluncurkan portal keterampilan nasional pada 1 September mendatang, menghubungkan talenta dengan sektor swasta. Selain itu, “green industrial clusters” akan dibangun setiap 100 km, mempercepat akselerasi ekonomi rendah karbon secara merata.

Indonesia: Sudah Siapkah Kita?

Dari sudut pandang Indonesia, langkah Andhra Pradesh seolah menjadi cermin dan sekaligus tantangan. Sebab negeri ini pun memiliki potensi besar dalam sektor energi terbarukan—termasuk potensi tenaga surya hingga 207 GW dan tenaga angin sebesar 60 GW, menurut data Kementerian ESDM.

Namun, hingga awal 2025, kontribusi energi baru dan terbarukan (EBT) masih di kisaran 13,1% dari bauran energi nasional. Target menuju 23% pada 2025 tampak semakin berat tanpa gebrakan struktural yang mirip seperti yang dilakukan Andhra Pradesh.

Berbagai inisiatif di Indonesia sebenarnya sudah mulai menjawab tantangan ini, seperti Program Desa Mandiri Energi oleh Kementerian Desa, Inisiatif koperasi surya perempuan di Lampung, Pembangunan PLTS Terapung Cirata oleh PLN, dan Proyek mikrohidro berbasis masyarakat oleh tokoh seperti Tri Mumpuni.

Namun, Indonesia belum sepenuhnya mengintegrasikan pendekatan inklusif tenaga kerja dalam peta jalannya. “Transisi energi harus berpihak pada masyarakat bawah. Kalau tidak menciptakan pekerjaan hijau, kita hanya berpindah energi, bukan berpindah paradigma,” ujar Maryam Karimah, aktivis energi komunitas dari Maluku, dalam wawancara sebelumnya.

Portal Keterampilan & Industri Hijau Lokal

Apa yang menarik dari Andhra Pradesh adalah pendekatan digital dan regionalisasi industri hijau. Mereka tak hanya mendorong pengembangan teknologinya, tapi juga menata ekosistem kerja lokal untuk mendukungnya.

Ini hal yang bisa dicontoh oleh Indonesia, terutama dalam menciptakan hub pelatihan keterampilan energi terbarukan di daerah-daerah, dari Nusa Tenggara Timur hingga Kalimantan Timur, yang menyimpan potensi energi besar namun kerap jadi lokasi eksploitasi energi fosil.

“Jika kita ingin anak muda kita tidak hanya mencari pekerjaan, tapi menciptakan pekerjaan, maka energi hijau adalah jawabannya.” – Lokesh

Kini saatnya Indonesia tak hanya mengejar target emisi, tetapi menempatkan rakyat, terutamanya perempuan dan pemuda desa di jantung transisi energi. Sebab energi hijau sejatinya bukan hanya sumber listrik, tapi juga sumber harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *