UMKM Perempuan Menyambut Panggung Ekspor Dunia

EXISTENSIL – Di tengah perubahan pola konsumsi global yang semakin berorientasi pada nilai-nilai etika dan keberlanjutan, ekonomi halal menjelma sebagai kekuatan baru yang tak bisa diabaikan. Dari makanan, kosmetik, fashion, hingga pariwisata, industri halal tumbuh pesat melampaui ekspektasi pasar. Tak lagi terbatas pada konsumen Muslim, produk halal kini dicari karena kualitas, transparansi, dan jaminan keamanannya.

Menyambut tren lonjakan tren halal dunia, PERPINA (Perempuan Pemimpin Indonesia) dan Istiqlal Halal Center (IHC) menyatukan tangan dan komitmen lewat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Tujuannya satu: memberdayakan UMKM perempuan untuk melangkah mantap ke panggung ekspor dunia.

Kerja sama ini menjadi tonggak baru bagi jutaan pelaku usaha perempuan di Indonesia. Mereka yang selama ini bekerja senyap di dapur rumah, kios kecil, dan pasar tradisional, kini diberi akses untuk naik kelas. Melalui sinergi ini, mereka akan dibekali keterampilan baru dari sertifikasi halal berstandar ekspor hingga strategi branding yang relevan di pasar global.

“Perempuan bukan hanya pelaku ekonomi rumah tangga, mereka adalah tulang punggung ekonomi bangsa. Kini saatnya mereka naik kelas,” ujar  Ketua Umum PERPINA Endraswari Safitri, atau akrab disapa Veve, Kamis (24/7/2025).

Baginya, kerja sama ini bukan hanya soal bisnis, melainkan juga misi peradaban—membangun perekonomian Indonesia yang inklusif, berbasis etika, dan berakar dari kekuatan komunitas perempuan.

Dalam dokumen kerja sama yang ditandatangani, PERPINA dan IHC sepakat untuk mengembangkan program-program strategis seperti edukasi dan pelatihan sertifikasi halal, pendampingan bisnis dan legalitas, kolaborasi branding produk halal unggulan, serta pembukaan akses jejaring pasar domestik dan internasional.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam acara tersebut. Dari IHC: Uswatun Chasanah, Ita Kurniawati, dan Ridwan Hidayat. Dari PERPINA: Nira Brassisca Chinensis dan Teti Irawati, yang mewakili kekuatan kolektif perempuan dari berbagai daerah.

Bagi PERPINA, kerja sama ini merupakan bagian dari strategi besar menuju Indonesia Emas 2045. Di dalamnya tercermin visi jangka panjang: menjadikan ekonomi perempuan sebagai fondasi pertumbuhan yang inklusif dan menjadikan Indonesia sebagai pusat budaya, etika, dan produk halal berkualitas dunia.

Veve menekankan bahwa ekonomi halal tak sekadar tren industri, tetapi jalan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan baru yang mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan, etika, dan solidaritas sosial.

Ketika tangan-tangan perempuan bersentuhan dengan nilai-nilai halal dan diberi akses ke pasar global, maka yang lahir bukan hanya produk unggulan, tetapi juga wajah baru perekonomian Indonesia: lebih adil, lebih tangguh, dan lebih manusiawi.

Kolaborasi Strategis

Di sisi lain, Direktur IHC Nur Khayyin Mudhor, melihat kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk menjangkau pelaku usaha mikro yang selama ini belum tersentuh. “Kami percaya perempuan adalah gerbang besar dari ekosistem halal yang kuat. Sinergi dengan PERPINA akan memperluas dampak, menjangkau UMKM binaan hingga ke daerah-daerah,” ungkapnya.

Sebagai Informasi, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 65 juta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang mencakup sekitar 99% dari seluruh unit usaha di tanah air. UMKM juga menyerap lebih dari 120 juta tenaga kerja, dan menjadi penyumbang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yakni sebesar 60,5% per tahun menurut data Kementerian Koperasi dan UKM.

Peran vital UMKM semakin terasa saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika sektor formal goyah, UMKM justru menjadi penyangga ekonomi rakyat. Banyak pelaku usaha kecil beradaptasi cepat dengan digitalisasi, menjual makanan rumahan, masker kain, jamu herbal, hingga produk edukatif dari rumah. Tak sedikit dari mereka adalah perempuan mengelola bisnis dari ruang tamu, sambil tetap mengurus keluarga.

Menurut laporan Research and Markets (Januari 2025), nilai pasar makanan halal global diperkirakan melonjak dari US $2,67 triliun pada 2024 menjadi US $5,96 triliun pada 2033, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 9,33%.

Lebih luas lagi, nilai total ekonomi halal global (mencakup makanan, kosmetik, farmasi, pariwisata, keuangan syariah, dan lainnya) diproyeksikan mencapai US $9,5 triliun pada 2030, dan bisa menembus US $10,5 triliun dalam skenario akselerasi pertumbuhan.

Sementara itu, laporan Salaam Gateway 2024/25 mencatat bahwa pengeluaran konsumen Muslim global untuk produk makanan halal saja mencapai US $1,434 triliun pada 2023, dan diperkirakan meningkat menjadi US $1,939 triliun pada 2028, dengan laju pertumbuhan 6,2% per tahun. Di sektor pariwisata halal, pertumbuhan bahkan lebih tinggi, mencapai 12,1% CAGR dalam lima tahun ke depan.

Dalam konteks Indonesia, Bappenas memperkirakan bahwa konsumsi halal global akan menembus US $3,1 triliun pada 2027, dan Indonesia punya peluang besar untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen utama produk halal global, berkat kekuatan demografis dan budaya yang kaya.

PERPINA dan IHC sadar betul bahwa potensi ini belum tergarap maksimal. Banyak UMKM, khususnya yang berbasis perempuan, masih terkendala legalitas, akses pembiayaan, dan standarisasi produk termasuk sertifikasi halal yang kini menjadi syarat penting untuk ekspor ke negara-negara dengan populasi muslim tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *