Indonesia Eco Jambore 2026 dan Kerja Kolektif ala Kalira

EXISTENSIL – Masalah sampah sering kali dibicarakan sebagai urusan teknis: tempat pembuangan akhir yang penuh, plastik yang menumpuk di sungai, atau kebijakan yang tak kunjung sinkron. Namun bagi Komunitas Kalira, sampah bukan semata soal limbah, melainkan cermin relasi sosial, budaya konsumsi, dan cara masyarakat memandang alam. Dari kesadaran itulah Indonesia Eco Jambore 2026 digagas sebuah pertemuan lintas komunitas yang mencoba merajut ulang hubungan manusia dengan lingkungannya melalui kerja kolektif.

Di tengah tumpukan sampah dan kebisingan krisis, Eco Jambore mengajukan satu tawaran sederhana namun radikal, berhenti bekerja sendiri, dan mulai bergerak bersama.

Gagasan ini disampaikan Rusman Rusli, penggerak Komunitas Kalira sekaligus pengelola Divisi Sosial dan Kemanusiaan. Dengan nada tenang namun reflektif, Rusman menjelaskan bahwa Eco Jambore bukanlah acara yang lahir secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang, tertunda, dan kembali dirawat dengan kesabaran.

“Sebetulnya ide ini sudah ada sejak 2019, tapi saat itu banyak kondisi yang membuat kegiatan batal. Baru di 2026 ini kami mencoba kembali, dengan semangat yang sama bahkan mungkin lebih kuat,” Ujar Rusman Rusli dalam The Exist Talk edisi Rabu (28/01/2026)

Indonesia Eco Jambore 2026 akan digelar pada 4–6 Februari 2026, mengusung tema zero waste dan gaya hidup minim sampah. Tema ini terdengar familiar, namun Kalira menempatkannya dalam kerangka yang lebih luas, perubahan besar hanya mungkin terjadi jika dimulai dari kebiasaan kecil, dilakukan secara konsisten, dan dikerjakan bersama.

Bagi Rusman, persoalan sampah tidak bisa dilepaskan dari konteks urban dan perubahan gaya hidup masyarakat. Ia mencontohkan Jakarta kota tempat ia berdomisili sebagai gambaran krisis yang nyata. “Jakarta punya problem sampah yang luar biasa. Tapi masalahnya bukan hanya di Jakarta. Hampir semua daerah menghadapi persoalan serupa,” katanya.

Pengalaman Rusman sebagai jurnalis dan pegiat lingkungan membentuk cara pandangnya. Sejak remaja, ia terbiasa masuk ke kawasan hutan, berdiskusi dengan masyarakat desa dan melihat langsung bagaimana alam dan manusia saling memengaruhi. Dari Gunung Padang hingga berbagai wilayah wisata alam, satu persoalan terus berulang, ialah sampah.

“Kunjungan wisata tinggi, ekonomi bergerak, tapi persoalan sampah tidak pernah selesai, di titik itulah ia melihat bahwa krisis ekologis tak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan krisis sosial, budaya individualisme, dan terkikisnya nilai gotong royong,” bebernya.

Kalira memandang isu sampah sebagai pintu masuk untuk membicarakan krisis yang lebih luas krisis relasi antara manusia, komunitas, dan negara.

Indonesia Eco Jambore 2026 dirancang sebagai ruang temu, bukan sekadar perayaan simbolik. Salah satu agenda utamanya adalah Eco Craft Display, sebuah pameran yang menghadirkan komunitas-komunitas pengolah limbah. Daun-daunan, sampah rumah tangga, dan material yang kerap dianggap tak berguna, diolah menjadi produk fungsional yang memiliki nilai ekonomi.

“Bukan hanya soal kreatif, tapi soal keberlanjutan, kami ingin menunjukkan bahwa sampah bisa dikelola, bahkan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” cetusnya.

Selain pameran, Kalira juga membuka workshop terbuka untuk umum, mulai dari pembuatan tas berbahan limbah hingga pengelolaan sampah rumah tangga. Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan ini gratis. Tidak ada tiket masuk, tidak ada biaya pendaftaran. “Kerja lingkungan tidak boleh eksklusif, semua orang harus punya akses,” jelas

Komunitas yang terlibat pun beragam: bank sampah, komunitas kreatif lingkungan, akademisi, hingga pegiat akar rumput. Keragaman ini bukan kebetulan. Bagi Kalira, kolaborasi adalah prasyarat mutlak dalam kerja konservasi.

Rangkaian Eco Jambore ditutup dengan Seminar Nasional yang digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional. Narasumbernya datang dari latar belakang yang berbeda, mulai dari pakar persampahan BRIN hingga perwakilan Greenpeace. Kehadiran Greenpeace, menurut Rusman, penting untuk menjaga perspektif kritis dalam diskusi publik. “Greenpeace konsisten dan kritis. Kami butuh suara seperti itu agar diskusi tidak berhenti di permukaan,” ujarnya.

Rusman menyebut, Eco Jambore juga sengaja digelar berdekatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap 21 Februari. Momentum ini dimaknai Kalira sebagai pengingat bahwa persoalan sampah bukan isu musiman, melainkan agenda jangka panjang.

Kerja Kolektif, Bukan Kolaborasi Proyek

Salah satu gagasan kunci yang terus diulang Rusman adalah kerja kolektif. Ia membedakan kerja kolektif dengan kolaborasi berbasis proyek semata. “Kalau hanya proyek, selesai kegiatan ya selesai juga relasinya, kerja kolektif itu soal visi, soal saling percaya dan soal keberlanjutan,” jelas dia.

Ia mengakui bahwa kerja kolektif tidak selalu mulus. Gesekan kepentingan, perbedaan visi, bahkan konflik antar-lembaga adalah hal yang tak terhindarkan. Namun di situlah komunikasi menjadi krusial.

Kalira memosisikan diri sebagai ruang antara penyeimbang antara kebijakan negara dan kebutuhan masyarakat. Dalam isu lingkungan, relasi dengan pemerintah tetap penting, terutama terkait regulasi. Namun bagi Kalira, kekuatan utama tetap berada di masyarakat.

Kesadaran lingkungan, menurut Rusman, tidak bisa hanya diserahkan pada forum besar. Ia harus dimulai dari ruang terkecil, rumah tangga. Rusman bercerita bagaimana ia mulai memilah sampah di rumah, mengajak anak-anaknya untuk belajar membedakan jenis limbah.

“Mengubah mindset itu sulit, dari tidak peduli menjadi peduli, itu proses panjang. Tapi kalau konsisten, perubahan itu mungkin,” ujarnya.

Pengalaman personal ini menjadi cermin dari tantangan yang lebih besar. Banyak program lingkungan gagal bukan karena idenya salah, melainkan karena tidak berkelanjutan.

Di tengah krisis ekologi, krisis iklim, dan krisis sosial yang saling berkelindan, Kalira memilih bersikap optimistis. Mereka sadar bukan organisasi besar, bukan pula yang paling dikenal secara nasional. Namun mereka percaya pada ikhtiar kecil yang dikerjakan bersama.

“Kalira hanya bagian kecil dari banyak gerakan lingkungan yang ada, tapi kami punya niat baik dan komitmen,” cetusnya.

Menurut Rusman, Indonesia Eco Jambore 2026 diharapkan menjadi awal dari pertemuan-pertemuan berikutnya, dialog berkelanjutan, dan program bersama lintas komunitas. Bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai proses panjang merawat bumi dan relasi sosial.

Poster Eco Jambore

Catatan: 

The Exis Talk adalah ruang dialog kritis dan reflektif yang dihadirkan oleh Existensil untuk membicarakan isu-isu sosial, ekologi, disabilitas, gender, hingga keadilan struktural dari perspektif yang berpihak pada kelompok rentan. Melalui obrolan mendalam bersama aktivis, akademisi, jurnalis, pembuat kebijakan, dan komunitas akar rumput, The Exis Talk tidak sekadar menyajikan opini, tetapi menghadirkan pengalaman, data, dan suara-suara yang kerap disisihkan dari ruang publik.

Setiap episodenya dirancang sebagai percakapan yang jujur, kritis, dan membumi mendorong publik untuk berpikir lebih dalam tentang relasi kuasa, kebijakan yang timpang, serta masa depan yang lebih adil dan inklusif. The Exis Talk menjadi ruang belajar bersama, sekaligus ruang aman untuk bertanya, menyimak, dan merawat empati.

Jangan lewatkan The Exis Talk setiap hari Rabu Pukul 20.00-21.00 WIB, live di Instagram @existensilcom. Mari bertemu, berdiskusi, dan menumbuhkan kesadaran kolektif karena perubahan selalu berawal dari percakapan yang berani.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *