EXISTENSIL – Berawal dari mimpi sederhana semasa remaja, Sandika Dewi Rosalini kini menjelma menjadi sosok CEO inspiratif di balik Speak Project, sebuah platform pelatihan public speaking dan MC yang telah memberdayakan ribuan individu lintas profesi. Didirikan pada Februari 2016, perjalanan Sandika merupakan bukti nyata bahwa kerja keras, integritas, dan tekad dapat mengubah visi menjadi realitas.
Lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menuturkan bahwa cikal bakal Speak Project lahir dari mimpi lamanya: mendirikan sekolah public speaking. “Ini mimpi yang sudah aku simpan sejak lama,” tutur Sandika. Ketertarikannya pada dunia komunikasi sudah tumbuh sejak SMA, di mana ia pertama kali menjadi MC. Saat kuliah, ia aktif menjadi penyiar radio kampus sekaligus membimbing adik tingkat dalam keterampilan komunikasi.
Kepekaannya terhadap kebutuhan soft skill masyarakat, terutama dalam hal public speaking, memicunya untuk membentuk sebuah komunitas pembelajaran. Ia mengajak beberapa temannya untuk bergabung dalam inisiatif yang saat itu masih bernama Speak Community.
“Waktu itu aku bilang ke temen-temen, ‘Aku mau bikin komunitas, yuk support!’ Dari sana kita jalan pelan-pelan,” kenangnya.
Lebih dari sekadar pelatihan komunikasi, Speak Project menjadi ruang aman bagi mereka yang pernah merasa tidak percaya diri, dibully, atau memiliki pengalaman traumatis lainnya.
Sandika sendiri mengaku masa sekolahnya tidak mudah. Ia pernah mendapat nilai rendah dan tidak pernah berprestasi secara akademik. Namun, ia tidak larut dalam kekurangan tersebut. Justru dari situlah ia menemukan kekuatannya di bidang non-akademik, terutama komunikasi.
“Aku gak jago akademis, tapi aku tahu aku bisa di hal lain. Skill komunikasi adalah jalanku,” ujarnya mantap.
Di tengah dunia yang serba cepat dan kompetitif, kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan publik seringkali menjadi pembeda antara mereka yang bersuara dan mereka yang bungkam. Namun, bagaimana jika suara itu sempat padam karena trauma, tertindas oleh stigma, atau tak terdengar karena keterbatasan fisik?
Di sinilah Speak Project hadir. Didirikan oleh Sandika Dewi, Speak Project bukan sekadar tempat belajar public speaking. Ini adalah ruang aman, tempat orang-orang yang sebelumnya terbungkam karena bullying, karena ketidakpercayaan diri, bahkan karena keterbatasan fisik, mulai menemukan suaranya kembali.
Maski, sebagai perempuan pemimpin, Sandika mengaku kerap menemui stigma. Di sela pencapaiannya ada yang menyebut dirinya “terlalu mandiri”, bahkan menganggap perempuan sukses sebagai ancaman.
“Aku rasa itu bukan masalahku, tapi masalah mereka. Kalau perempuan punya mimpi besar, kenapa tidak?” tukasnya.
Ia percaya, perempuan bisa dan berhak berdiri setara, termasuk di dunia bisnis dan kepemimpinan. Yuk, kita simak sepak terjangnya bersama Speak Project!

Membentuk Speak Project
Sejak resmi bergerak, Speak Project tumbuh sebagai rumah belajar public speaking yang tidak hanya mengajarkan teknik, tapi membangun kepercayaan diri dan komunikasi intrapersonal.
“Di kita, kamu boleh ngefans sama siapa pun. Tapi kamu gak perlu jadi mereka. Kamu harus tetap jadi diri kamu sendiri,” ungkap Sandika. Ini bukan sekadar pelatihan bicara, tapi sebuah proses mengenal dan menerima diri.
Program-program di Speak Project membekali peserta dengan keterampilan komunikasi, namun yang lebih penting: membangun kesadaran diri, menyembuhkan luka batin, dan memperkuat mental. Fokus mereka adalah proses, bukan hasil instan. “Kita ngajarin mereka untuk menikmati proses. Kamu mungkin baru jago setelah setahun belajar, atau bahkan dua tahun. Gak apa-apa, semua orang punya timeline masing-masing,” tambahnya.
Seiring waktu, Sandika menemukan bahwa keterampilan komunikasi tidak hanya penting bagi MC atau penyiar. Semua profesi membutuhkannya; dari guru, dokter, pengusaha, hingga aparatur pemerintahan. Maka dari itu, Speak Project memperluas segmen pelatihannya untuk menjangkau beragam kalangan.
“Banyak yang bingung, ‘belajar public speaking buat apa?’ Padahal skill ini bisa dipakai di mana saja: negosiasi, presentasi, bahkan membangun relasi,” jelasnya.
Saat ini, lulusan Speak Project berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang menjadi penyiar, MC profesional, dosen, hingga karyawan korporasi. Mereka juga tergabung dalam komunitas daring yang aktif saling mendukung.
Melawan Bullying: Memberdayakan Mereka yang Pernah Terkubur Rasa Takut
Banyak peserta yang datang ke Speak Project membawa luka lama: trauma dibully, ditertawakan saat presentasi, atau dianggap “aneh”. Tapi di sini, mereka tidak langsung dilempar ke panggung.
Sebaliknya, mereka diajak berbicara, mengenal perasaan mereka, dan perlahan diberikan ruang untuk mencoba, tanpa tekanan. Speak Project menyediakan layanan konseling, dan dalam sesi privat, peserta bisa terlebih dahulu menjalani sesi bersama konselor sebelum masuk ke pelatihan.
Pendekatan ini humanis dan sangat personal. Speak Project menolak metode pelatihan seragam. Di sini, setiap peserta adalah individu dengan cerita, luka, dan potensi masing-masing.
Sebagai pelatih, Sandika menekankan pentingnya empati dalam proses belajar. Ia menyadari bahwa banyak peserta pelatihannya adalah korban perundungan yang membawa luka batin.
“Fungsi pendidikan adalah menyediakan ruang aman. Kita nggak bisa hanya fokus ke peserta yang pintar saja. Justru tantangan kita adalah meningkatkan kepercayaan diri mereka yang merasa kurang mampu,” tegasnya.
Sandika kerap menemani peserta yang kesulitan memahami materi, bahkan memberikan sesi tambahan secara pribadi. Prinsipnya adalah inklusivitas: setiap orang berhak belajar tanpa dihakimi.
Disabilitas Bagian dari Dialog, Bukan Objek Amal
Semua bermula dari tahun 2018, ketika Sandika mengikuti Pemilihan Pemuda Inspiratif yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dalam pencarian isu yang akan ia angkat, ia berdiskusi dengan seorang teman Tuna Netra. Dari percakapan itulah muncul ide: mengajarkan public speaking kepada penyandang disabilitas, khususnya Tuna Netra.
Gagasan itu membawanya menjadi juara 1 tingkat regional dan juara 3 nasional. Namun kemenangan itu menyisakan kegelisahan. “Aku merasa kayak menjual isu disabilitas tanpa kontribusi nyata,” kenang Sandika. Dari rasa bersalah itu lahirlah sebuah tekad: jangan hanya bicara tentang mereka, tapi bekerja bersama mereka.
Salah satu pencapaian monumental Speak Project adalah komitmennya memberdayakan teman-teman Tuna Netra. Dimulai dari workshop pertama pada 2019, kolaborasi dengan komunitas Peduli Sahne, Speak Project belajar banyak; tak hanya soal teknik, tapi tentang bagaimana menciptakan pelatihan yang inklusif.
“Dulu aku ngajar pakai PPT, terus aku bilang, ‘teman-teman lihat layar ya,’ langsung sadar, wah, gak bisa dong,” cerita Sandika sambil tertawa. Dari situ, mereka belajar bagaimana menyampaikan materi tanpa visual, bagaimana mendampingi Tuna Netra ke toilet, bahkan merancang panggung dan acara agar inklusif.
Kini, alumni Tuna Netra Speak Project telah menorehkan prestasi luar biasa: ada yang menjadi penyiar radio, content creator, MC acara kementerian, hingga pelatih podcast. Yang lebih penting: mereka kini percaya diri mengenalkan diri sebagai “MC Tuna Netra”, sebuah identitas yang dulunya dianggap tabu.
“Mereka bilang, ‘Kak, kalau mau jual nama kita gak apa-apa, karena siapa lagi kalau bukan teman-teman awas yang bantu jual nama kita dengan positif,’” cerita Sandika dengan haru.
Legacy: Speak Project Sebagai Gerakan Berdaya, Bukan Sekadar Kelas Komersial
Speak Project bukan hanya lembaga pelatihan. Ia telah menjadi gerakan yang melampaui ruang kelas. Alumni mereka adalah bukti nyata: orang-orang yang dulu tidak percaya diri, kini memandu acara besar, menjadi kreator konten, bahkan membentuk komunitas sendiri.
Sandika dan timnya menyadari: mereka hanya fasilitator. Kunci perubahan ada pada semangat belajar para peserta. “Kita hanya bantu mereka menemukan suaranya kembali. Selebihnya, mereka yang berjuang dan berkembang,” tutupnya.
Kelas-kelas Speak Project didesain agar personal dan efektif. Program unggulan seperti Masterclass dibatasi maksimal 10 peserta agar mentor bisa fokus. Untuk pelatihan dengan peserta lebih dari 30 orang, fasilitator disiapkan agar pembagian kelompok tetap terjaga.
“Mentor gak boleh sendirian. Harus ada fasilitator supaya setiap peserta tetap mendapat perhatian,” kata Sandika.
Di dunia yang sering memuja kesempurnaan, Speak Project berdiri sebagai suara bagi mereka yang sempat terdiam. Ia tak hanya melatih public speaking, tapi membentuk manusia: yang mengenal dirinya, menyembuhkan dirinya, dan akhirnya mampu menyuarakan dirinya.
Bagi korban bullying, bagi teman-teman disabilitas, bagi siapa pun yang merasa kecil: Speak Project adalah bukti bahwa semua orang berhak bicara, dan dunia wajib mendengarkan.