Menghitung Sayap yang Tersisa di Pesisir Jakarta, Generasi Muda Membaca Tanda Krisis Iklim

EXISTENSIL – Pagi di pesisir utara Jakarta selalu membawa dua wajah. Di satu sisi, matahari terbit memantul di antara akar-akar mangrove yang mencuat dari lumpur, menghadirkan ketenangan yang jarang ditemukan di jantung ibu kota. Di sisi lain, bayang-bayang gedung dan geliat urbanisasi mengingatkan bahwa kawasan ini berada dalam tekanan yang terus membesar.

Suasana di Hutan Lindung Angke Kapuk berbeda. Puluhan anak muda berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, sebagian memegang teropong. Sebagian lagi mencatat dengan saksama setiap pergerakan burung di langit dan permukaan air. Mereka bukan wisatawan. Mereka adalah relawan citizen science yang terlibat dalam Asian Waterbird Census (AWC) 2026.

Gerakan sensus burung air terbesar di Asia ini kembali digelar secara serentak di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Jakarta, pengamatan dilakukan di tiga kawasan penting, yaitu Hutan Lindung Angke Kapuk, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, dan Suaka Margasatwa Muara Angke. Ketiganya merupakan sisa-sisa benteng ekologis di tengah laju pembangunan pesisir.

Tema yang diusung tahun ini “Kenali dan Lindungi Burung Air di Sekitar Kita” terasa sederhana, tetapi mengandung pesan mendalam, mengenali adalah langkah pertama untuk peduli, dan peduli adalah awal dari perlindungan.

Burung Air sebagai Penanda Zaman

Burung air bukan sekadar penghuni rawa atau mangrove. Mereka adalah indikator ekologis. Ketika populasi mereka stabil, itu pertanda lahan basah masih berfungsi. Ketika jumlahnya menurun atau pola migrasinya berubah, ada sesuatu yang terganggu.

Dalam satu hari pengamatan dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, para relawan mencatat temuan yang cukup signifikan. Di Hutan Lindung Angke Kapuk teridentifikasi 38 jenis burung dengan total 289 individu; 18 jenis di antaranya merupakan burung air dengan total 206 individu. Di TWA Angke Kapuk tercatat 34 jenis (117 individu), dengan 12 jenis burung air (54 individu). Sementara di Suaka Margasatwa Muara Angke ditemukan 27 jenis (126 individu), 13 jenis di antaranya burung air (42 individu).

Spesies yang terpantau mencakup blekok sawah (Ardeola speciosa), pecukpadi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecukular asia (Anhinga melanogaster), cangak abu (Ardea cinerea), dan cangak merah (Ardea purpurea). Nama-nama ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi kehadiran mereka adalah tanda bahwa ekosistem masih bekerja meski dalam tekanan.

“Burung air adalah indikator kesehatan lahan basah. Jika terjadi penurunan populasi atau perubahan pola migrasi, kita perlu membaca itu sebagai sinyal ekologis,” ujar Perwakilan Biodiversity Warriors Ahmad Baihaqi, Sabtu (14/2/2026)

Menurut Baihaqi, perubahan suhu global, kenaikan muka air laut, hingga degradasi habitat akibat alih fungsi lahan menjadi faktor yang saling terkait. “Krisis iklim mempercepat perubahan di kawasan pesisir. Habitat yang hilang bukan hanya berarti hilangnya tempat tinggal burung, tetapi juga terganggunya rantai kehidupan yang lebih luas,” katanya.

Baihaqi menyebut, kawasan pesisir Jakarta memiliki nilai ekologis yang sangat strategis. Mangrove berfungsi sebagai penyerap karbon, penahan abrasi, sekaligus habitat bagi berbagai spesies. Lahan basah juga berperan sebagai penyangga alami terhadap banjir rob yang kian sering terjadi.

Namun, realitas di lapangan tidak selalu seideal fungsi ekologisnya. Pencemaran, reklamasi, aktivitas industri, dan pembangunan infrastruktur telah menggerus sebagian besar kawasan alami. Apa yang tersisa kini menjadi ruang yang harus dipertahankan dengan upaya kolektif.

Kegiatan Biodiversity Warriors bersama pelajar mengamati burung air di Hutan Lindung Angke Kapuk (Foto: Ist)

Pelaksanaan AWC 2026 di Indonesia melibatkan berbagai lembaga dan komunitas, termasuk Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Wetlands International Indonesia, serta sejumlah organisasi konservasi lainnya. Di Jakarta, kegiatan ini digerakkan oleh Biodiversity Warriors program dari Yayasan KEHATI yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan komunitas pengamat burung.

Bagi Baihaqi, kolaborasi lintas sektor menjadi krusial, sebab konservasi tidak bisa berdiri sendiri. Kita membutuhkan sinergi antara peneliti, komunitas, pemerintah, dan masyarakat. “Data yang dikumpulkan melalui AWC ini akan memperkaya basis data nasional dan regional untuk membaca tren jangka panjang,” ujarnya.

Baihaqi menyebut, sebanyak 83 peserta muda terlibat dalam kegiatan ini mulai dari siswa SMA hingga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta. Mereka belajar mengenali spesies, menggunakan teropong dengan teknik yang benar, hingga mencatat data sesuai metodologi ilmiah.

Di tengah derasnya informasi digital, pengalaman turun langsung ke lapangan memberi makna berbeda. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana sains bekerja, teliti, sabar, dan berbasis bukti.

Baihaqi menekankan bahwa pelibatan generasi muda bukan sekadar simbolis. “Kita ingin membangun kapasitas sains warga yang kredibel. Ketika anak muda terlibat dalam pengumpulan data, mereka memahami bahwa konservasi bukan hanya soal empati, tetapi juga soal metodologi dan akurasi,” jelasnya.

Pendekatan ini penting dalam konteks advokasi kebijakan. Data yang konsisten dari tahun ke tahun memungkinkan para peneliti mendeteksi tren penurunan populasi, perubahan pola migrasi, hingga tekanan habitat. Dari sana, rekomendasi kebijakan dapat dirumuskan secara lebih tepat.

Di antara akar mangrove dan genangan air payau, kegiatan sensus burung air mungkin terlihat sederhana: menghitung, mencatat, memotret. Namun di balik itu, tersimpan makna yang lebih besar. “Setiap angka yang dicatat adalah bagian dari cerita panjang tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan alam. Jika populasi stabil, itu kabar baik. Jika menurun, itu alarm yang harus ditanggapi,” papar Baihaqi.

Krisis iklim sering kali terasa abstrak dipahami melalui grafik suhu global atau laporan ilmiah internasional. Namun di pesisir Jakarta, krisis itu hadir dalam bentuk yang lebih konkret yaitu garis pantai yang mundur, mangrove yang tertekan, dan burung-burung yang mungkin tak lagi singgah. “Konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa. Ini tentang menjaga sistem kehidupan yang menopang manusia,” tegas Ahmad.

Melalui AWC 2026, lanjut Baihaqi, generasi muda Jakarta tidak hanya menghitung burung. Mereka sedang belajar membaca tanda-tanda zaman. “Mereka sedang memahami bahwa menjaga lahan basah berarti menjaga keseimbangan ekologi, ketahanan pesisir, dan keberlanjutan kehidupan,” pungkasnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *