Kanker di Indonesia: Ancaman Serius yang Perlu Diwaspadai

Existensil – Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang kini menjadi ancaman serius di Indonesia. Data menunjukkan bahwa angka kejadian dan kematian akibat kanker terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi ini menempatkan kanker sebagai salah satu tantangan besar dalam sektor kesehatan nasional.

Salah satu permasalahan utama dalam penanganan kanker di Indonesia adalah tingginya proporsi kasus yang terdiagnosis pada stadium lanjut. Sekitar 70% pasien kanker diketahui mengidap penyakit ini ketika sudah berada pada stadium III atau IV. Pada tahap ini, pengobatan menjadi lebih kompleks dan peluang kesembuhan menurun drastis.

Padahal, apabila kanker dapat terdeteksi sejak dini, peluang kelangsungan hidup pasien dalam lima tahun dapat meningkat secara signifikan, yakni mencapai 90 hingga 99 persen. Deteksi dini memungkinkan pengobatan dimulai lebih awal dan efektif, sehingga memperbesar kemungkinan pasien untuk sembuh atau mempertahankan kualitas hidup yang baik.

Menurut Dr. Ronald A. Sjarif, SpPD-KHOM, Ketua Umum Perhimpunan Onkologi Indonesia, “Sebagian besar kasus kanker di Indonesia terlambat terdiagnosis. Padahal, jika kanker ditemukan lebih awal, peluang hidup pasien bisa meningkat tajam. Ini sebabnya edukasi dan skrining sangat krusial sebagai pilar utama dalam strategi penanggulangan kanker nasional.”

Lebih lanjut, Dr. Kartika Dewi, SpOG(K), konsultan onkologi ginekologi, menyampaikan, “Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang sangat bisa dicegah dan dideteksi sejak dini. Pemeriksaan HPV DNA jauh lebih sensitif dibanding metode lama dan bisa mendeteksi risiko sebelum kanker berkembang.”

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap risiko kanker. Langkah-langkah pencegahan, seperti menjalani pola hidup sehat, menghindari faktor risiko (seperti merokok, konsumsi alkohol, dan paparan zat karsinogenik), serta melakukan skrining atau pemeriksaan kesehatan secara rutin, perlu ditanamkan sejak dini.

Gebyar Kesehatan HUT Jakarta 2025

Sebagai bagian dari upaya deteksi dini kanker serviks, pada Sabtu, 5 Juli 2025 pukul 08.00 – 12.00 WIB, Dinas Kesehatan DKI menggelar gebyar kesehatan HUT Jakarta 2025 skrining kanker serviks menggunakan metode DNA HPV secara serentak di 42 Puskesmas DKI Jakarta. Layanan ini bersifat gratis dan terbuka untuk seluruh warga Indonesia, tanpa syarat domisili.

Sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan deteksi dini kanker serviks dan menyemarakkan Gebyar Kesehatan HUT Jakarta 2025, redaksi turut ambil bagian dalam program skrining kanker serviks massal yang digelar serentak di 42 puskesmas DKI Jakarta pada Sabtu, 5 Juli 2025. Redaksi telah melakukan pendaftaran melalui tautan resmi bit.ly/hpvhutjakarta sejak sebulan yang lalu.

Tepat pukul 09.00 WIB, redaksi tiba di Puskesmas Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Suasana pagi itu tampak ramai, namun tetap tertib. Para peserta yang hadir didominasi oleh perempuan usia 30 hingga 50-an tahun, tampak antusias menanti giliran pemeriksaan.

Di halaman depan, redaksi disambut oleh petugas keamanan yang ramah dan sigap menanyakan keperluan kedatangan. Setelah dijelaskan bahwa tujuan kami adalah untuk melakukan pemeriksaan serviks, ia langsung mengarahkan agar menuju lantai 4, lokasi pelaksanaan skrining, dan menginformasikan untuk mengambil nomor antrean di sana.

Setibanya di lantai 4, petugas kesehatan menyambut dengan ramah dan langsung memberikan nomor antrean. Kami kemudian diarahkan ke meja pertama untuk proses pendaftaran. Di sana, kartu identitas kami diperiksa dan dicatat.

Proses berikutnya berlanjut ke meja kedua, di mana dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, pengecekan gula darah, serta wawancara singkat mengenai riwayat penyakit keluarga, khususnya orangtua.

Setelah itu, kami menuju meja dokter, di mana dilakukan pengisian data riwayat kesehatan pribadi secara lebih mendetail. Semua proses berlangsung efisien dengan alur yang jelas dan petugas yang komunikatif.

Setelah rangkaian administrasi selesai, kami menunggu panggilan untuk memasuki kamar tindakan yang terdiri dari Ruang 1 dan Ruang 2. Sekitar setengah jam kemudian, nama saya dipanggil dan saya diarahkan masuk ke Ruang 2.

Di ruang tindakan, saya diminta melepas celana dalam dan pengait bra untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan dimulai dengan deteksi dini kanker payudara secara manual oleh petugas kesehatan. Syukurlah, hasilnya dinyatakan normal.

Selanjutnya, petugas mempersiapkan spekulum, alat yang digunakan dalam pemeriksaan serviks. Setelah alat berhasil dimasukkan, dilakukan tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), metode sederhana yang menggunakan asam asetat untuk mendeteksi kelainan pada serviks. Hasil dari tes IVA saya adalah negatif, yang berarti tidak ditemukan indikasi awal kanker.

Langkah berikutnya adalah pengambilan sampel untuk pemeriksaan DNA HPV, metode yang lebih canggih dan akurat dalam mendeteksi infeksi human papillomavirus (HPV), penyebab utama kanker serviks. Proses ini berlangsung cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti.

Selesai! Seluruh proses skrining memakan waktu kurang lebih dua jam dari awal hingga akhir. Untuk hasil tes DNA HPV, saya diinformasikan akan menerima notifikasi melalui WhatsApp dalam waktu 1–2 minggu ke depan sesuai dengan kontak yang sudah dicantumkan dalam formulir pendaftaran.

Melalui pengalaman langsung ini, redaksi merasakan betapa pentingnya inisiatif seperti skrining gratis ini dalam meningkatkan kesadaran dan akses masyarakat terhadap layanan deteksi dini. Penanganan kanker tidak bisa ditunda, dan langkah awal selalu dimulai dari kepedulian terhadap diri sendiri.

Masyarakat dan Multipihak sebagai Garda Depan dalam Upaya Pencegahan Kanker

Pencegahan kanker tidak dapat dilakukan secara parsial. Ini adalah tantangan kesehatan yang kompleks dan membutuhkan keterlibatan lintas sektor, termasuk masyarakat sipil, komunitas lokal, organisasi massa, dan lembaga non-pemerintah. Peran aktif seluruh pemangku kepentingan sangat penting untuk membangun kesadaran, menyediakan layanan yang merata, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat secara menyeluruh.

Langkah awal yang krusial adalah memperluas edukasi publik secara berkelanjutan. Kampanye pencegahan melalui media digital, radio komunitas, televisi lokal, dan media cetak dapat meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Namun, edukasi akan jauh lebih efektif bila disampaikan melalui tokoh masyarakat, pemuka agama, dan figur publik yang dipercaya. Komunitas lokal seperti kader posyandu, karang taruna, hingga kelompok pengajian, bisa menjadi jembatan yang sangat strategis untuk menjangkau kelompok-kelompok masyarakat yang belum terakses.

Dr. Rina Agustina, Ketua Departemen Gizi Kesehatan FKUI, menyatakan bahwa pendekatan komunitas adalah kunci dalam upaya pencegahan kanker. “Perubahan gaya hidup tidak bisa dipaksakan dari atas. Harus ada pendekatan yang partisipatif, dari dalam komunitas sendiri. Ketika komunitas terlibat, kepedulian dan partisipasi menjadi lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Civil Society Organization (CSO) dan organisasi masyarakat sipil lainnya juga berperan penting dalam menjembatani program pemerintah dengan kelompok rentan. Mereka dapat menyediakan edukasi, advokasi, dan layanan langsung kepada masyarakat, sekaligus memastikan bahwa pelaksanaan kebijakan kesehatan berpihak pada warga. Di sisi lain, organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan dapat menjadi mitra strategis untuk menjangkau anak muda dan kelompok keluarga, dengan pendekatan nilai dan edukasi formal.

Akses terhadap layanan kesehatan juga harus diperluas dan dimudahkan. Misalnya, layanan skrining kanker serviks gratis di puskesmas perlu dipadukan dengan mobilisasi sosial yang kuat, serta layanan keliling di daerah padat penduduk atau yang sulit dijangkau. Jadwal layanan yang fleksibel, seperti di akhir pekan, penting untuk mengakomodasi masyarakat yang bekerja.

Dr. Kartika Dewi, SpOG(K), konsultan onkologi ginekologi, menegaskan pentingnya deteksi dini dalam mencegah kematian akibat kanker serviks. “Dengan skrining menggunakan metode DNA HPV, kita bisa mendeteksi potensi kanker sejak sebelum gejala muncul. Ini sangat menentukan keberhasilan pengobatan dan keselamatan pasien,” jelasnya.

Insentif kecil seperti sembako, pemeriksaan tambahan gratis, atau penghargaan bagi komunitas yang aktif juga bisa menjadi pendorong partisipasi. Tak kalah penting, kisah nyata dari para penyintas kanker dapat menjadi sumber motivasi dan harapan bagi masyarakat. Pendekatan emosional semacam ini membantu menumbuhkan kesadaran bahwa pencegahan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.

Akhirnya, pendekatan yang menghargai budaya dan lokalitas menjadi kunci. Bahasa daerah, simbol budaya, dan nilai-nilai komunitas perlu dimanfaatkan dalam menyampaikan pesan kesehatan agar lebih mudah diterima. Ketika semua pihak; pemerintah, masyarakat, CSO, komunitas lokal, dan lembaga keagamaan bekerja bersama, pencegahan kanker bisa menjadi gerakan nasional yang inklusif dan berdampak luas.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *