“Menjadi penjilat itu sulit, tidak sembarang orang bisa menjilat,” kata Hasan Hasbi mantan Presidential Communication Office/PCO) yang kini menjadi Komisaris PT Pertamina (Persero). Hasan Hasbi cukup fenomenal ketika ditanya wartawan soal teror kepala babi ke kantor Tempo, lalu tanggapannya cukup mencengangkan, “Dimasak aja!”.
Oleh: Devi P. Wihardjo
Tapi menjadi pengkritik di rezim Prabowo-Gibran juga lebih sulit, padahal seharusnya penguasa harusnya menyediakan dana untuk opisisi agar kekuasaan berjalan seimbang, namun dalam gaya politik Jokowi, bentuk memelihara oposisi berubah menjadi politik konsolidatif yang tidak menyediakan ruang bagi oposisi, demikian juga Prabowo saat ini.
Menurut data dari International IDEA, Sekitar 120 negara menyediakan pendanaan publik (Dana untuk oposisi) langsung untuk partai-partai politik. Pendanaan publik di banyak negara menggunakan kriteria seperti: “jumlah suara yang diperoleh”, “jumlah kursi”, atau “jumlah kandidat yang diajukan”.
Pendanaan publik yang adil memungkinkan partai oposisi untuk memiliki sumber daya, melakukan penelitian, merumuskan kebijakan alternatif dan menjalankan fungsi kontrol, bukan hanya bersuara tanpa alat.
Jikalau seperti ini, mungkin orang Seperti Hasan Hasbi akan lebih memilih untuk menjadi oposisi.Tapi menjadi manusia yang jujur di tengah dua kutub itu mungkin yang paling berat dari semuanya.
Dalam dunia yang kian pragmatis di mana keberhasilan diukur dari angka, jabatan, dan kedekatan—kita hidup di antara dua godaan ekstrem: tunduk demi aman, atau melawan demi benar. Keduanya punya harga. Satu dibayar dengan nurani, satu lagi dengan kenyamanan hidup.
Kita hidup di masa di mana menyampaikan kebenaran tidak selalu berarti dihargai. Sering kali, yang berkata jujur justru disingkirkan, sementara yang pandai menyenangkan atasan naik pangkat dengan cepat.
Fenomena ini bukan hal baru. Sosiolog Max Weber sudah mengingatkan sejak awal abad ke-20 bahwa sistem birokrasi modern melahirkan manusia yang tunduk pada aturan tanpa makna moral. Dalam sistem seperti itu, yang paling aman adalah menjadi penjilat profesional—mereka yang mampu berkata “ya” bahkan ketika hatinya ingin berkata “tidak.”
Namun mereka pun tidak benar-benar bebas. Penjilat hidup dengan ketakutan: takut kehilangan posisi, takut kehilangan perhatian, bahkan takut kehilangan ilusi bahwa mereka “berarti.”
Nasib Para Pengkritik
Sebaliknya, menjadi pengkritik bukan hanya soal keberanian berbicara, tapi juga soal kesediaan menanggung konsekuensi. Kritik sering dibaca bukan sebagai kepedulian, melainkan ancaman. Dalam dunia yang dikendalikan oleh ego dan kepentingan, suara jujur sering terdengar seperti gangguan sistem.
Psikolog sosial Solomon Asch dalam eksperimen konformitasnya menunjukkan bahwa kebanyakan orang akan memilih ikut arus, bahkan jika tahu arus itu salah. Sebab yang ditakuti manusia bukan kesalahan, melainkan penolakan sosial. Dan di situlah tragedi moral modern terjadi: kebenaran dikalahkan oleh kebutuhan untuk diterima.
Banyak orang idealis akhirnya belajar menyesuaikan diri. Mereka menahan kritiknya, melunakkan kata, atau memilih diam. Diam menjadi strategi bertahan bukan karena tak tahu apa yang benar, tapi karena tahu dunia tidak siap mendengar yang benar.
Menurut Albert Bandura dalam teori moral disengagement-nya, manusia punya kecenderungan untuk merasionalisasi perilaku salah agar tampak benar di hadapan dirinya sendiri. Itulah mengapa penjilat bisa merasa “wajar” menjilat, dan pengkritik bisa merasa “tidak berguna” karena tak diterima sistem.
Idealisme adalah kemewahan
Dalam konteks sosial-ekonomi Indonesia, dilema ini makin kompleks. Menurut data Bank Dunia, lebih dari 60% rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, banyak tenaga kerja berada di sektor informal dengan penghasilan tidak pasti. Dalam kondisi seperti ini, idealisme bisa menjadi kemewahan.
Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut hal ini sebagai habitus struktur sosial yang membentuk cara berpikir dan bertindak seseorang. Dalam sistem patronase yang mengakar, menjilat bukan lagi penyimpangan moral, melainkan adaptasi sosial. Ia menjadi semacam “mata uang” untuk bertahan.
Namun, ironinya, hari ini bahkan mereka yang hidupnya tidak dalam survival mode ikut menjilat. Mereka melakukannya bukan demi bertahan, melainkan untuk mempertahankan kekuasaan dan kekayaan. Dalam dunia semacam ini, penjilat menjadi pembenaran, sementara idealis menjadi bahan ejekan.
Namun hidup tidak sesederhana hitam-putih antara penjilat dan pengkritik. Keduanya sama-sama manusia yang berhadapan dengan tekanan sistem.
Maka, solusinya bukan memilih salah satu ekstrem, melainkan mencari jalan tengah yang bermoral dan strategis seperti diajarkan Aristoteles dalam Etika Nikomakea, bahwa kebajikan sejati terletak di tengah antara dua ekstrem: bukan pengecut, bukan nekat; bukan penjilat, bukan pemberontak buta.
Menjadi pengkritik yang efektif bukan berarti berteriak lebih keras, tapi berbicara lebih cerdas. Bukan menebar amarah, tapi menyentuh kesadaran. Karena kritik sejati bukanlah perlawanan, melainkan ajakan untuk berpikir bersama.
Kritik tanpa empati hanya menimbulkan jarak. Sebaliknya, empati tanpa keberanian hanya melanggengkan kepalsuan. Yang dibutuhkan adalah kritik dengan kasih keras terhadap ketidakadilan, tapi lembut terhadap manusia.
Keberanian untuk Tetap Berpikir
Dalam dunia kerja modern entah di kantor, lembaga, politik, atau media, kita sering dipaksa memilih antara menyesuaikan diri atau tersingkir. Padahal sebenarnya ada pilihan ketiga: beradaptasi tanpa kehilangan diri.
Itu berarti tahu kapan berbicara dan kapan menunggu, kapan bernegosiasi dan kapan berdiri tegak. Tidak semua perlawanan harus dengan teriakan; kadang, keteguhan moral yang diam pun bisa mengguncang sistem.
Filsuf Hannah Arendt menyebutnya sebagai the banality of evil kejahatan yang lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari kebiasaan diam, ikut arus, dan tidak berpikir. Maka, tugas moral manusia bukan sekadar menolak yang jahat, tapi tetap berpikir dan berani menilai, bahkan ketika semua orang berhenti melakukannya.
Mungkin inilah misi baru bagi para pengkritik masa kini, bukan hanya menunjukkan yang salah, tapi membantu sistem belajar memperbaiki diri. Menjadi “penyembuh sosial” orang yang tidak hanya menyalahkan, tapi menyalakan.
Sebagaimana dikatakan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed. “Kritik yang sejati adalah cinta, karena ia lahir dari keyakinan bahwa manusia bisa berubah.”
Kritik tanpa cinta adalah sinisme. Cinta tanpa kritik adalah kepura-puraan. Keduanya perlu berjalan bersama agar masyarakat bisa tumbuh dewasa secara moral.
Menjadi penjilat memang sulit, karena harus menipu hati sendiri. Menjadi pengkritik lebih sulit, karena harus siap ditolak oleh dunia. Tapi menjadi manusia yang tetap jujur, berpikir kritis, dan berbelas kasih adalah panggilan yang paling luhur.
Dunia ini tidak butuh lebih banyak penjilat atau pengkritik ekstrem, tapi lebih banyak manusia bijak yang mampu menjaga integritas tanpa kehilangan empati.
Karena pada akhirnya, seperti kata Vaclav Havel. “Harapan bukan keyakinan bahwa segalanya akan berjalan baik,
tapi keyakinan bahwa sesuatu tetap masuk akal, betapapun hasilnya nanti.”
Dalam hidup, kita tak selalu bisa menjadi pahlawan, tapi kita selalu bisa memilih untuk tidak menjadi pengecut.
Dan kadang, keberanian paling tulus bukan berteriak di jalanan, melainkan tetap jujur dalam ruang rapat yang penuh kepalsuan.