Ekofeminisme: Ketika Alam dan Perempuan Sama-Sama Dieksploitasi

Ilustrasi Perempuan dan Alam semesta (Foto: AI)

Oleh: Nosa Nurmanda (@eseinosa)

 

Bayangkan ini: kamu sedang duduk di kafe, menyeruput kopi oat milk, menikmati suasana urban yang sibuk. Di layar ponsel, notifikasi berita membanjir—hutan terbakar, suhu bumi naik, laut dipenuhi sampah plastik. Kamu menghela napas, lalu scroll ke bawah.

Tapi di tengah semua itu, ada fakta yang sering diabaikan: perempuan berada di garis depan dampak krisis ini. Dari ibu rumah tangga yang terpaksa mencari air bersih karena kekeringan, pekerja tekstil di pabrik fast fashion yang hidup dengan upah minim, hingga aktivis lingkungan yang dibungkam karena melawan industri ekstraktif.

Ini bukan kebetulan. Cara sistem patriarki memperlakukan perempuan dan cara sistem ekonomi mengeksploitasi alam memiliki pola yang sama: eksploitasi tanpa batas, pengabaian, dan ketika terjadi krisis—mereka yang paling lemah yang harus menanggung beban terberat.

Lalu, bagaimana kita melihat keterkaitan ini? Jawabannya: ecofeminisme.

Apa Itu Ecofeminisme?

Ecofeminisme adalah perspektif yang melihat hubungan antara eksploitasi lingkungan dan penindasan terhadap perempuan sebagai dua sisi dari sistem yang sama. Dalam sistem ini, alam dan perempuan dianggap sebagai sumber daya yang bisa diambil manfaatnya tanpa perlu dihormati keberadaannya.

Di bawah kapitalisme industri, alam diperlakukan sebagai objek yang bisa dieksploitasi demi keuntungan segelintir orang. Sama seperti bagaimana tubuh perempuan sering kali dikontrol—baik dalam konteks kerja, peran domestik, maupun reproduksi.

Vandana Shiva, seorang aktivis dan pemikir ecofeminisme, menjelaskan bahwa ekspansi industri dan kapitalisme global tidak hanya menghancurkan lingkungan, tetapi juga memperburuk ketimpangan sosial, terutama bagi perempuan di negara berkembang. Dalam bukunya Staying Alive: Women, Ecology and Development, ia mengungkap bagaimana sistem ini telah menciptakan krisis lingkungan dan sosial yang saling berkaitan.

Kenapa Ini Relevan Buat Kita yang Tinggal di Kota?

Mungkin ada yang berpikir, “Oke, tapi aku tinggal di Jakarta. Aku nggak ngerasain langsung dampaknya.” Salah besar.

Polusi dan Krisis Kesehatan Publik

Udara di Jakarta yang membuat paru-paru seperti alat peraga eksperimen sains itu bukan cuma akibat kendaraan pribadi, tapi juga industri besar yang lebih peduli pada profit daripada manusia.

Pekerja Perempuan di Sektor Rentan

Dari buruh tekstil yang terjebak dalam sistem produksi murah hingga pekerja rumah tangga yang bekerja tanpa perlindungan hukum, perempuan sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak oleh kebijakan ekonomi eksploitatif.

Konsumsi dan Fast Fashion

Tiap tahun, brand fashion besar memproduksi koleksi baru yang membuat kita terus membeli. Padahal, di baliknya ada rantai produksi yang melibatkan eksploitasi pekerja perempuan dan limbah industri yang mencemari sungai.

Ketika kita berbicara tentang ecofeminisme, kita tidak sedang membicarakan gerakan spiritual yang hanya memuja alam. Ecofeminisme bukan sekadar “perempuan dan alam itu sama-sama lembut.” Ada cabang yang lebih radikal, yang mengkritik kapitalisme, kolonialisme, dan struktur kekuasaan yang menormalisasi eksploitasi.

Bagaimana Ecofeminisme Melawan Eksploitasi?

Ecofeminisme tidak hanya bicara soal menyelamatkan lingkungan dengan cara “lebih ramah lingkungan.” Itu terlalu dangkal. Yang diperjuangkan adalah perubahan sistemik.

Carol J. Adams dalam The Sexual Politics of Meat menunjukkan bagaimana industri daging tidak hanya mengeksploitasi hewan, tetapi juga mendukung budaya maskulinitas toksik yang menganggap dominasi sebagai norma. Hubungan ini sama dengan bagaimana perempuan direduksi menjadi objek dalam sistem patriarki.

Sementara itu, Maria Mies dan Vandana Shiva dalam Ecofeminism menunjukkan bagaimana kolonialisme dan kapitalisme telah membentuk hubungan kekuasaan yang membuat eksploitasi terhadap alam dan perempuan dianggap wajar.

Ecofeminisme bukan hanya soal mengurangi sampah plastik atau menggunakan produk vegan. Ini soal memahami bahwa eksploitasi terhadap perempuan dan alam berasal dari sistem yang sama—dan kalau kita mau perubahan yang nyata, kita harus menantang sistem itu.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kurangi konsumsi produk dari industri yang eksploitatif

Fast fashion, produk kecantikan berbahan kimia beracun, dan industri makanan yang tidak etis adalah bagian dari sistem yang menindas alam dan manusia.

Dukung gerakan perempuan dan lingkungan yang benar-benar progresif

Bukan sekadar influencer yang jualan tote bag “go green,” tapi aktivis yang benar-benar berjuang melawan kebijakan destruktif.

Kritis terhadap kebijakan lingkungan di sekitarmu

Jangan cuma puas dengan greenwashing perusahaan. Perubahan sistem terjadi dari kebijakan, bukan dari sekadar “switch ke sedotan bambu.”

Ecofeminisme bukan sekadar tren, ini adalah cara memahami dunia. Jika lingkungan hancur, perempuan yang pertama kali terkena dampaknya. Jika kita benar-benar peduli soal keadilan, kita tidak bisa hanya peduli pada satu sisi—lingkungan dan hak perempuan harus diperjuangkan bersama.

Atau, kita bisa duduk diam dan menunggu dunia benar-benar hancur. Your choice.

 

Referensi Bacaan:

Maria Mies & Vandana Shiva – Ecofeminism

Vandana Shiva – Staying Alive: Women, Ecology and Development

Carol J. Adams – The Sexual Politics of Meat

Nosa Normanda, Antropolog

 

Tentang Penulis:

Nosa Normanda adalah seorang antropolog, pembuat film, dan penulis yang aktif dalam dunia seni dan ilmu pengetahuan. Sebagai antropolog, ia fokus pada seni pertunjukan, globalisasi, dan etnografi visual. Di dunia perfilman, ia mendirikan MondiBlanc Film Workshop dan terlibat dalam produksi film fiksi dan dokumenter. Selain itu, ia juga aktif dalam dunia musik dan penulisan, serta terlibat dalam berbagai proyek kreatif lainnya, termasuk podcast dan festival film.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *