EXISTENSIL – Di antara lorong-lorong sempit Kampoeng Batik Laweyan, aroma malam batik dan suara canting yang meneteskan lilin panas masih menjadi nyawa kehidupan sehari-hari. Namun kini, ada cerita baru yang menetes bersama malam itu kisah tentang transformasi sebuah tradisi menjadi simbol keberlanjutan global.
Pada 5 November 2025, Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) di Solo mencatat sejarah. Mereka menjadi UMKM batik pertama di dunia yang memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) label global untuk produk berbasis sawit berkelanjutan.
Kini, setiap kain batik Laweyan tak hanya menceritakan kisah tentang pewarisan budaya Jawa, tetapi juga tentang tanggung jawab global. Lilin sawit berkelanjutan yang meleleh di ujung canting menjadi simbol masa depan — masa depan di mana budaya, ekonomi, dan ekologi bertemu dalam harmoni.
Laweyan telah membuktikan, dari kampung kecil di Solo, perubahan besar untuk bumi bisa dimulai. Sebuah cerita yang bukan hanya menenun motif di atas kain, tapi juga menenun harapan bagi dunia yang lebih lestari.
Kolaborasi ini lahir dari kerja sama WWF-Indonesia, CECT Sustainability Universitas Trisakti, dan dukungan audit independen dari Control Union. Bagi warga Laweyan, ini bukan sekadar sertifikat melainkan tonggak sejarah bahwa tradisi batik dapat berdiri sejajar dengan praktik bisnis hijau tingkat dunia.
Kampoeng Batik Laweyan bukan sekadar destinasi wisata budaya. Di balik warna-warna kain yang merekah, ada perjuangan panjang menjaga lingkungan di tengah tekanan industri.
Sebagai kawasan batik tertua di Solo, Laweyan telah membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengurangi pencemaran sungai, serta memasang panel surya di sejumlah rumah produksi batik. Namun langkah paling inovatif justru datang dari bahan paling kecil namun vital dalam proses membatik: lilin malam.
Biasanya, lilin malam dibuat dari parafin atau minyak non-renewable. Kini, FPKBL memproduksi lilin berbasis minyak sawit berkelanjutan (sustainable palm oil-based batik wax) bahan yang telah lulus sertifikasi RSPO. Inovasi ini memastikan bahwa setiap garis dan motif batik Laweyan tidak hanya indah dipandang, tetapi juga ramah bagi bumi.
“Kami ingin menjadikan batik bukan hanya simbol budaya, tapi juga simbol tanggung jawab ekologis, pendampingan WWF-Indonesia membuka mata kami bahwa keberlanjutan bukan beban, tapi peluang untuk berinovasi,” Ketua FPKBL Alpha Febela Priyatmono.
Beberapa pengrajin kini bereksperimen dengan pewarna alami, sementara generasi muda mulai tertarik kembali ke dunia batik kali ini dengan semangat inovasi hijau. “Anak-anak muda Laweyan mulai melihat batik bukan sekadar warisan, tapi masa depan, kami ingin membuktikan bahwa melestarikan budaya bisa berjalan seiring dengan melestarikan alam,” ujar Alpha.
Proses menuju sertifikasi RSPO tidak singkat. WWF-Indonesia memberikan pendampingan intensif bagi FPKBL melalui program RSPO Supply Chain Certification Standards (SCCS).
Pendampingan ini mencakup pembuatan Rencana Aksi Keberlanjutan (Sustainability Action Plan), pelatihan standar RSPO SCCS, penyusunan SOP penyimpanan dan penanganan bahan baku sawit berkelanjutan, hingga simulasi audit internal sebelum penilaian resmi dilakukan.
Setiap tahap dilakukan dengan prinsip transparansi dan keterlibatan anggota komunitas. “Kami tidak hanya ingin mengejar label, tapi membangun sistem yang benar-benar berkelanjutan dari hulu ke hilir,” tutur Ketua Harian FPKBL Setiawan Muhammad.
Pencapaian ini bukan hanya kebanggaan lokal, melainkan pembuka jalan bagi ribuan UMKM Indonesia yang selama ini sulit menembus pasar hijau internasional.
Menurut Direktur Iklim dan Transformasi Pasar WWF-Indonesia Irfan Bakhtiar keberhasilan Laweyan membuktikan bahwa bisnis kecil pun dapat menjadi pelaku perubahan besar. “UMKM bisa jadi pionir dalam bisnis berkelanjutan. Sertifikasi seperti RSPO kini menjadi indikator penting daya saing global,” kata Irfan.
Laweyan, kata Irfan, telah menunjukkan bahwa batik Indonesia bisa menjadi contoh bisnis yang bertanggung jawab terhadap keanekaragaman hayati.
Keberhasilan FPKBL juga menunjukkan arah baru bagi ekonomi kreatif, ketika produk tradisional tak hanya bernilai estetika, tetapi juga memiliki jejak lingkungan yang positif. “Di tengah krisis iklim, konsep “batik hijau” ini menjadi oase di antara industri yang kerap abai terhadap dampak ekologis,” jelas Irfan.
Irfan menuturkan, bagi masyarakat Laweyan, sertifikasi RSPO bukan garis akhir. Ia justru menjadi titik awal perubahan gaya hidup produksi yang lebih sadar lingkungan.
Keberhasilan FPKBL, lanjut Irfan, menjadi pelopor UMKM batik tersertifikasi RSPO pertama di dunia menjadi inspirasi bagi banyak sektor. WWF-Indonesia berharap pencapaian ini menjadi model bagi industri budaya dan kreatif di Indonesia untuk mengadopsi bahan baku berkelanjutan.
Dengan semakin banyaknya produk lokal yang ramah lingkungan, konsumen pun memiliki pilihan untuk mendukung perubahan. “Konsumen berperan penting, setiap keputusan membeli bisa menjadi bentuk dukungan terhadap planet yang lebih sehat,” tegas Irfan.