Bila Kartini Bertanya: Ada 1000 Profesi, Mana Peran Nyata Pemerintah untuk Kesejahteraan Perempuan?

Bila Kartini Bertanya: Ada 1000 Profesi, Mana Peran Nyata Pemerintah untuk Kesejahteraan Perempuan?

Ilustration by: DW

EXISTENSIL – ​“Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! Baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu sendiri dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain-lain!” — R.A. Kartini​

Pada peringatan Hari Kartini, pemerintah meluncurkan inisiatif “1000 Profesi Perempuan dan Gen Z” sebagai upaya mengatasi pengangguran dan mendorong pemberdayaan perempuan. Namun, di balik semarak perayaan tersebut, muncul pertanyaan tentang sejauh mana inisiatif ini memberikan dampak nyata bagi perempuan pekerja di Indonesia.​

Seribu profesi dijanjikan pemerintah untuk menanggulangi pengangguran. Di atas kertas, janji ini terlihat seperti angin segar.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Hukum dan Anggaran (Puskaha) Indonesia Yenti Nurhidayat, harapan itu tidak lebih dari sekadar bunga-bunga manis yang tak berakar pada kebijakan nyata.

“Kalau pemerintah memang serius mengatasi pengangguran, yang harus dilakukan adalah membangun kapasitas rakyatnya secara komprehensif. Bukan cuma lempar wacana tanpa sistem pendukung yang jelas,” tegas Yenti kepada Existensil, Senin (21/4/2025)

Menurutnya, akses terhadap profesi baru yang banyak digaungkan pemerintah masih sangat bias. Alih-alih menjangkau kelompok rentan, termasuk perempuan, akses itu lebih banyak dinikmati oleh mereka yang sudah memiliki privilese. Salah satu contohnya adalah profesi konten kreator.

“Konten kreator sekarang dianggap profesi baru yang menjanjikan. Tapi pertanyaannya, apakah semua orang bisa mengakses profesi itu? Apakah benar profesi ini bisa menjamin pendapatan tetap? Banyak yang belum menghasilkan apa-apa, tapi sudah diklaim pemerintah sebagai keberhasilan,” ujar Yenti, kritis.

Ia juga menyoroti bagaimana pidato-pidato pejabat negara, termasuk Ibu Negara, kerap hanya mengulang narasi tanpa menyentuh kenyataan di lapangan. “Apa yang disampaikan tidak mendengarkan suara aktivis perempuan. Banyak hanya sekadar copas, tidak dibarengi kebijakan konkret yang berpihak pada perempuan,” lanjutnya.

Janji untuk UMKM Perempuan Sekadar Retorika

Lebih jauh, Yenti menyinggung kebijakan yang katanya pro terhadap pelaku UMKM, khususnya perempuan. Namun kenyataannya, bunga kredit tetap tinggi dan akses terhadap perbankan masih sulit. Pemerintah, menurutnya, hanya mendukung perempuan yang sudah berada di lingkaran kekuasaan.

“Coba lihat siapa yang bisa mengakses fasilitas kredit pemerintah? Kebanyakan yang dekat dengan kekuasaan. Lalu bagaimana dengan perempuan pelaku UMKM kecil-kecilan yang berjuang dari bawah? Mereka tetap kesulitan,” ujarnya.

Kasus mitra MBG menjadi sorotan. Banyak UMKM perempuan di sektor katering dan jasa boga yang tidak dibayar oleh perusahaan, dan negara nyaris tidak memberikan perlindungan.

“Apakah negara hadir untuk mereka? Tidak ada relaksasi utang, tidak ada perlindungan hukum yang memadai. Padahal mereka mayoritas perempuan. Ini nyata, bukan soal statistik,” katanya tegas.

PHK dan Minimnya Perlindungan bagi Perempuan

Dalam sektor manufaktur, PHK besar-besaran pasca-pandemi dan resesi global berdampak serius bagi buruh perempuan. Pemerintah memang menjanjikan jaminan sosial selama enam bulan bagi pekerja yang terkena PHK, namun akses terhadap jaminan itu jauh dari kata mudah.

Peringatan Hari Kartini hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan, Kemen PPA, Senin (21/4/2025) (Devi/Existensil)

“Coba lihat datanya. Berapa persen perempuan yang benar-benar bisa mengakses jaminan sosial itu? Kita bicara soal kebijakan yang bias, bukan sekadar angka,” ucap Yenti.

Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan perempuan bukan sekadar label “profesi”, tapi lapangan kerja nyata yang bisa menghasilkan pendapatan, serta jaminan perlindungan saat krisis datang.

“Perempuan tidak butuh janji-janji baru. Mereka butuh sistem ekonomi yang adil dan kebijakan yang benar-benar berpihak,” tegasnya.

1000 Profesi Perempuan dan Gen Z

Sebelumnya, Peringatan Hari Kartini tahun ini ditandai dengan peluncuran gerakan Mewujudkan Asta Cita Bersama: ‘1000 Profesi Perempuan dan Gen Z’ oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Acara ini dihadiri oleh Ibu Wakil Presiden RI, Selvi Ananda, dan Menteri PPPA, Arifah Fauzi, yang menekankan pentingnya peran perempuan dan generasi muda dalam pembangunan bangsa.​

Gerakan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mengapresiasi beragam profesi perempuan dan Gen Z, serta mendorong literasi karier, teknologi, dan kepemimpinan berkelanjutan. Namun, pertanyaannya adalah sejauh mana inisiatif ini dapat memberikan dampak nyata dalam

Istri Wakil Presiden RI, Selvi Ananda, mengajak perempuan milenial dan boomer untuk terus belajar dari Gen Z.

​“Tanggal 21 April adalah peringatan Hari Kartini, namun keinginan kita bukanlah hanya momentum peringatannya saja, tapi kita bisa meneruskan cita-cita dari Raden Ajeng (RA) Kartini. Menghadirkan Seribu Profesi Perempuan dan Gen Z’ dan menghadirkan representasi perempuan dari 18 zona sektor strategis,” Katanya dalam pidatonya.

Selvi mengatakan kemandirian perempuan akan merubah masa depan bangsa. “Ke depannya adalah perempuan akan menjadi perempuan yang berdaya, mandiri, berpendidikan, mempunyai mimpi tinggi, bisa meraih mimi-mimpinya dan berguna bagi bangsa dan negara,”pesan Ibu Wakil Presiden Republik Indonesia,” ujarnya.

Peringatan Hari Kartini di Tenis Indor Senayan, Senin 21 April 2024 (Devi/Existensil)

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, menyatakan bahwa Hari Kartini adalah momentum reflektif untuk menyambung perjuangan perempuan Indonesia yang selama ini tertinggal dalam akses, partisipasi, dan pengambilan keputusan. Namun, pernyataan ini perlu diiringi dengan langkah konkret untuk mengatasi ketimpangan yang masih ada

Arifah menuturkan, Kartini menulis  surat-suratnya yang kita kenal dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. “Hari ini, terang itu kita saksikan dalam sosok-sosok perempuan Indonesia yang diwakili oleh seribu profesi Perempuan dan Gen Z yang hadir. Profesi Perempuan dan Gen Z yang menjadi inspirasi dan harapan bagi perempuan lain, untuk berani melangkah, bersuara, dan memimpin bangsa Indonesia,” ujar dia.

Ketua Umum Kowani, Nannie Hadi Tjahjanto, menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran dan kepemimpinan perempuan dalam pembangunan nasional

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran dan kepemimpinan perempuan dalam pembangunan nasional. Menjunjung kesetaraan, inklusivitas, dan keberagaman dalam berbagai peran serta profesi untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045,” jelasnya

“Kegiatan puncak peringatan Hari Kartini ini menjadi cerminan kontribusi nyata perempuan Indonesia dalam membangun bangsa yang setara dan inklusif. Tajuk Seribu profesi perempuan dan Gen Z merujuk pada lebih dari 900 profesi strategis dari berbagai sektor. Angka Seribu menjadi simbol peluang perempuan tak terbatas, bahwa perempuan serta Gen Z bisa dan hadir di setiap profesi bahkan menciptakan profesi baru,” ungkap dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *