Kartini Era Baru, Jaga Hutan Sembari Lawan Keserakahan

Aktifitas para perempuan di Desa Damaran Baru, Aceh sudah mulai bahkan saat kabut pagi masih belum beranjak. Di tengan terpaan udara dingin dan kicauan burung, mereka mulai menumbuk padi agar menjadi beras, menyapu halaman dari dedaunan kering hingga menyiapkan sarapan untuk keluarga.
Tak hanya itu, sebagian perempuan lain juga tengah menyiapkan bekal ‘perang’ mereka. Di antaranya catatan kecil, kamera sederhana hingga bekal makan minum. Mereka harus segera memasuki hutan Gunung Leuser untuk melaksanan kewajiban sebagai Ranger Hutan.
Para perempuan tangguh berbagai usia ini bukanlah polisi hutan yang mengenakan seragam. Namun, tugas mereka bisa dibilang mirip dengan polisi hutan. Mereka akan menyusuri hutan berjam-jam lamanya. Tak lain, mereka hanya ingin memastikan tak ada pohon yang ditebang sembarangan dan sungai yang tercemar. Yang tak kalah penting, tak ada lahan adat yang diam-diam terserobot oleh pihak-pihak jahat.
Keperkasaan para ranger hutan ini bahkan telah mendapat sorotan media nasional dan internasional. ABC News, Time Magazine, hingga Associated Press pernah membagikan kisah ketangguhan mereka. Mereka menyebut perempuan Aceh ini sebagai penjaga terakhir hutan Leuser, salah satu kawasan hutan hujan tropis terakhir di dunia.
“Kalau hutan rusak, bukan cuma binatang yang hilang, tapi kami juga. Anak-anak kami tak bisa minum dari sungai, ladang kami kering, dan kami kehilangan segalanya,” ujar seorang ranger perempuan dalam wawancara dengan Kompas.
Hutan: Toko Serba Ada
Bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar lahan luas yang penuh dengan pohon serta berudara sejuk. Hutan ibarat toko serba ada yang menyediakan semua bahan-bahan yang ada di dapur, obat-obatan tradisional. Bahkan hutan merupakan rumah ibadah dan sekolah pertama bagi anak-anak mereka.
Seperti kata Yuliana Wetuq, perempuan Dayak Wehea dari Kalimantan Timur. Perempuan ini telah belajar membaca tanda-tanda alam sejak kecil. Dia mampu membaca arah angin dan suara burung. Dia juga bisa membedakan mana pohon yang buahnya bisa warga makan, mana akar yang bisa jadi obat.
Maka dari itu, saat kawasan Hutan Lindung Wehea terancam alih fungsi, Yuliana tak tinggal diam. Ia bergabung dengan kelompok pelindung hutan adat bernama Petkuq Mehuey.
Sama seperti Ranger Hutan, kelompok ini melakukan patroli rutin, menanam pohon, mengedukasi anak-anak tentang pentingnya hutan. Mereka mengajarkan bahwa hutan bukan warisan, melainkan titipan, yang harus terjaga untuk anak cucu.
“Cinta kepada hutan itu lahir dari lahir batin. Kami lahir di sini, hidup dari hutan, dan kami juga harus mati bersama hutan ini kalau perlu,” ucapnya dalam sebuah wawancara.
Mesin Besar Datang Mewakili Keserakahan
Suatu hari, sejumlah alat berat tiba-tiba datang tanpa permisi di sebuah desa dekat hutan di Mollo Nusa Tenggara Timur (NTT). Mimpi buruk tiba dengan adanya jalanan yang tercipta di dalam hutan. Pohon-pohon raksasa ditumbangkan paksa.
Ya, perusahaan-perusahan tambang, kelapa sawit dan kayu hadir membawa janji manis yang ternyata beracun. Agar warga tak banyak protes, mereka menawarkan pekerjaan, fasilitas dan segudang janji manis. Tapi faktanya, mereka justru menciptakan kerusakan nyata.
Seperti kesaksian yang keluar dari mulut Mama Aleta Baun. Perusahaan tambang hendak mengeruk marmer di Gunung Mutis, wilayah yang dianggap suci oleh masyarakat adat. Tak tinggal diam, Mama Aleta mengajak ratusan perempuan melakukan aksi protes tenun.
Selama berbulan-bulan, mereka duduk di lokasi tambang, bukan dengan spanduk atau teriakan, tapi dengan tenunan tradisional di tangan. Tenunan itu adalah simbol budaya, tanah, dan air — sesuatu yang tak terbeli dengan uang.
“Kami ingin hutan tetap hijau, air tetap mengalir, dan tanah tetap hidup untuk anak-anak kami. Karena ketika semua ini hilang, tak ada perusahaan yang bisa mengembalikannya,” katanya.
Aksi damai ini berhasil. Perusahaan tambang pergi, dan Gunung Mutis kembali tenang.
Kartini Era Modern, Tak Selalu Berkebaya
Kartini di era modern, tak sama dengan pahlawan perempuan zaman dulu yang berkebaya dan hanya menulis dan berbicara tentang emansipasi. Di zaman now, banyak Kartini-Kartini baru lahir dari hutan, sawah, dan desa-desa kecil yang mungkin tak terdeteksi Google Maps.
Kartini hari ini bisa jadi perempuan yang berjalan kaki tiga jam ke dalam hutan, membawa air untuk keluarganya, menanam pohon di tanah gersang, atau menenun kain di atas batu marmer. Mereka hadir di mana-mana. Perjuangan mereka menyentuh sesuatu yang sangat mendasar: hak untuk hidup di tanah yang diwariskan nenek moyang.
“Saat pikiran perempuan sudah terbuka, ia takkan sanggup lagi hidup di dunia lama yang sempit,” tulis R.A Kartini lebih dari seabad lalu.
Dan kini, dunia lama itu bernama keserakahan kapitalis. Mereka yang datang dalam wujud tambang, kebun sawit, dan pabrik kertas. Kartini-kartini masa kini berdiri melawan, tak selalu dengan amarah, tapi dengan tekad yang tenang dan cinta yang tak tergoyahkan.
Yang mereka tahu, hutan yang habis tak bisa ditanam kembali dalam hitungan tahun. Butuh waktu yang sangat panjang untuk bisa mengembalikan hutan sebagaimana seharusnya hutan.
Padahal ekosistem yang rusak, sungai yang kering, tanah yang tercemar — semuanya akan diwariskan ke anak-anak kita.
Perempuan-perempuan penjaga hutan ini sedang berjuang, bukan hanya untuk desanya, tapi juga untuk semua orang. Mereka ingin anak-anak Indonesia masih bisa bermain di bawah pohon rindang, minum air dari sungai yang bersih, dan belajar membaca jejak di tanah basah.
Kartini-Kartini modern inilah yang saat ini masih terus berjuang menjaga kekayaan alam yang selalu menjadi incaran mata dan tangan pihak-pihak jahat. Sepatutnya, kita terus mendukung dan membantu para pahlawan-pahlawan ini.