Anak Muda, Stigma, dan Perlawanan Sunyi terhadap HIV

EXISTENSIL – Di era digital yang serba terbuka, isu HIV justru masih dikepung oleh stigma yang menutup ruang dialog. Ia kerap dibicarakan, tetapi sering dalam nada menghakimi direduksi menjadi persoalan moral, perilaku menyimpang, atau bahkan aib keluarga. Padahal, di balik stigma yang mengeras itu, ada satu fakta penting yang kerap luput dari perhatian publik, anak muda justru memegang posisi paling strategis dalam menghentikan rantai penularan HIV di Indonesia.

Pandangan inilah yang mengemuka dalam diskusi The Exist Talk edisi 6 Januari 2026, forum dialog mingguan yang diinisiasi Redaksi Existensil. Dalam edisi tersebut, Existensil menghadirkan Lely Wahyuniar, Strategic Information Advisor UNAIDS Indonesia, untuk membedah persoalan stigma HIV dan peran generasi muda dari perspektif kesehatan publik dan hak asasi manusia.

“HIV itu tidak pernah berdiri sendiri sebagai isu kesehatan, ini akan selalu beririsan dengan moral, keadilan sosial, dan cara masyarakat memperlakukan sesama manusia,” jelasnya Rabu (6/01/2026)

Selama ini, stigma HIV sering diasumsikan lahir dari kurangnya pengetahuan. Namun, temuan UNAIDS menunjukkan persoalan yang jauh lebih kompleks. Berdasarkan Stigma Index, Global AIDS Monitoring Report, serta berbagai studi kualitatif, akar stigma HIV yang paling kuat justru terletak pada norma sosial dan penilaian moral, termasuk tafsir agama yang kaku dan politis.

“Pengetahuan bisa saja meningkat, tetapi moral judgment sering tetap melekat. Banyak anak muda yang sudah paham soal HIV, namun masih menunjukkan sikap stigma karena tekanan nilai keluarga, komunitas, dan lingkungan sosial,” jelas Lely.

Lely juga menegaskan, Misinformasi digital memang memperparah keadaan, tetapi ia hanya memperkuat stigma yang sudah lebih dulu tertanam. Karena itu, stigma HIV hari ini bukan lagi semata soal knowledge gap, melainkan value-based stigma stigma yang bersumber dari sistem nilai yang menghakimi.

 

Mengubah Arah Kampanye

Pendekatan kampanye HIV pun mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu publik kerap disuguhi gambaran orang dengan HIV (ODHIV) sebagai sosok lemah, sakit, dan bergantung pada belas kasihan, kini pendekatan itu dinilai justru memperkuat stigma.

“Kampanye seperti itu tidak lagi relevan. Sekarang kita ingin menunjukkan bahwa ODHIV adalah manusia yang hidup, produktif, dan berdaya,” ujar Lely.

UNAIDS, lanjut Lely, mendorong kampanye berbasis kontak sosial bermakna, di mana masyarakat diajak melihat dan berinteraksi secara langsung maupun simbolik dengan ODHIV yang bekerja, berolahraga, kuliah, memimpin komunitas, bahkan mendirikan organisasi.

Kampanye yang paling efektif, menurut UNAIDS, adalah yang dipimpin langsung oleh komunitas. Model peer-led dan peer educator terbukti lebih dipercaya karena pesan disampaikan oleh mereka yang memiliki pengalaman hidup serupa. “Pesan dari sesama jauh lebih didengar daripada ceramah top-down,” ujar Dr. Lely.

Salah satu kritik utama dalam diskusi ini adalah kecenderungan kebijakan publik memosisikan anak muda hanya sebagai target program. Padahal, UNAIDS menekankan bahwa anak muda seharusnya ditempatkan sebagai aktor perubahan.

Peran strategis itu mencakup penyebaran informasi yang benar, advokasi kebijakan, hingga inovasi teknologi. Namun, peran tersebut kerap terhambat oleh regulasi yang belum berpihak pada realitas remaja.

Salah satu hambatan utama adalah aturan tes HIV bagi remaja di bawah 18 tahun yang masih mensyaratkan izin orang tua. Kebijakan ini dinilai tidak sejalan dengan fakta sosial bahwa sebagian remaja sudah aktif secara seksual sejak usia dini. “Akibatnya, remaja menunda tes dan datang ke layanan kesehatan dalam kondisi terlambat, risiko penularan pun meningkat,” jelas dia.

UNAIDS mendorong lahirnya layanan HIV yang ramah remaja, non-judgmental, dan bebas stigma. Tenaga kesehatan juga perlu dilatih agar tidak melontarkan komentar moral yang justru membuat remaja menjauh dari layanan kesehatan. “Tes HIV itu harus dinormalisasi, anggap saja seperti tes kesehatan biasa,” kata Lely.

Diskusi juga menyinggung pentingnya PrEP (pre-exposure prophylaxis) sebagai strategi pencegahan HIV. PrEP adalah obat yang dikonsumsi sebelum pajanan risiko untuk mencegah infeksi HIV. Namun, di Indonesia, akses PrEP bagi remaja masih sangat terbatas dan sering disalahpahami sebagai promosi perilaku seksual bebas.

“Ini bukan soal mendorong seks bebas, ni soal menyediakan perlindungan bagi orang yang memang berisiko. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” ucap Lely.

Dari sisi teknologi, Lely menyebut, UNAIDS mengembangkan chatbot anonim, platform rujukan layanan yang aman, serta bekerja sama dengan media sosial untuk pelaporan cepat konten stigma. Anak muda juga didorong menjadi storyteller, membangun narasi tandingan yang berbasis hak dan empati, bukan rasa kasihan.

Isu lain yang kerap luput dari perhatian publik adalah kondisi anak dengan HIV.  Lely menyebut mereka menghadapi kerentanan berlapis mulai dari pengobatan seumur hidup, stigma di sekolah, hingga risiko pengucilan sosial. Status HIV sering disembunyikan demi “melindungi”, tetapi justru membuat akses pengobatan dan dukungan menjadi lebih rumit. “Anak dengan HIV punya hak untuk sehat dan hidup bermartabat dan caregiver juga harus didukung,” ungkapnya.

Lely juga mengungkap, kabar baiknya, jumlah anak yang lahir dengan HIV kini semakin menurun berkat pengobatan ARV bagi perempuan dengan HIV yang ingin hamil. Penularan dari ibu ke anak kini dapat dicegah secara efektif.

Pendidikan yang Belum Berpihak

Masalah struktural lain yang disorot adalah ketiadaan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang komprehensif di sebagian besar wilayah Indonesia. Sistem pendidikan formal dinilai gagal membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan hidup yang aman.

“Remaja bukan tidak bermoral, yang gagal adalah sistem yang tidak memberikan bekal yang benar,” tegas Lely.

Di negara-negara seperti Australia, lanjut Lely, pendidikan kesehatan reproduksi diberikan sejak usia sekolah menengah, dengan hasil angka infeksi baru HIV yang sangat rendah. Indonesia, yang menargetkan nol infeksi baru di masa depan, masih menghadapi pekerjaan rumah besar.

Lely menegaskan, stigma tidak pernah menyelamatkan siapa pun. Ia justru mendorong orang menjauh dari layanan kesehatan, menunda tes, dan menyembunyikan diri. “Sebaliknya, pengetahuan, empati, dan kebijakan yang adil adalah bentuk perlawanan paling efektif. Dan di titik inilah, anak muda berada di garis depan bukan sebagai masalah, melainkan sebagai bagian dari solusi untuk menghentikan HIV di Indonesia,” tutupnya.

 

Catatan: 

The Exis Talk adalah ruang dialog kritis dan reflektif yang dihadirkan oleh Existensil untuk membicarakan isu-isu sosial, ekologi, disabilitas, gender, hingga keadilan struktural dari perspektif yang berpihak pada kelompok rentan. Melalui obrolan mendalam bersama aktivis, akademisi, jurnalis, pembuat kebijakan, dan komunitas akar rumput, The Exis Talk tidak sekadar menyajikan opini, tetapi menghadirkan pengalaman, data, dan suara-suara yang kerap disisihkan dari ruang publik.

Setiap episodenya dirancang sebagai percakapan yang jujur, kritis, dan membumi mendorong publik untuk berpikir lebih dalam tentang relasi kuasa, kebijakan yang timpang, serta masa depan yang lebih adil dan inklusif. The Exis Talk menjadi ruang belajar bersama, sekaligus ruang aman untuk bertanya, menyimak, dan merawat empati.

Jangan lewatkan The Exis Talk setiap hari Rabu Pukul 20.00-21.00 WIB, live di Instagram @existensilcom. Mari bertemu, berdiskusi, dan menumbuhkan kesadaran kolektif karena perubahan selalu berawal dari percakapan yang berani.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *