EXISTENSIL – Suasana siang itu terasa berbeda. Puluhan pelajar duduk dengan mata berbinar, sebagian menggenggam buku catatan, sebagian lain sibuk merekam dengan ponsel mereka. Bukan pelajaran biasa yang mereka tunggu, melainkan kesempatan langka, belajar langsung dari para pelaku industri film tanah air. Di SMKN 47 Jakarta, mimpi tentang dunia sinema seakan menemukan ruangnya.
Di tengah derasnya arus konten digital, kemampuan untuk membuat cerita visual yang kuat menjadi semakin relevan. Bagi para siswa, keterampilan ini bukan hanya membuka peluang karier, tetapi juga menjadi medium untuk menyuarakan realitas dan pengalaman mereka sendiri.
Kegiatan di SMKN 47 Jakarta ini pun bukan akhir dari perjalanan. Rencananya, program serupa akan dilanjutkan ke berbagai sekolah lain, mulai dari Bogor, Depok, Tangerang Selatan, hingga Bandung.
Langkah ini menunjukkan bahwa upaya membangun ekosistem perfilman tidak bisa dilakukan secara sporadis. Ia membutuhkan keberlanjutan, kolaborasi, dan komitmen untuk menjangkau lebih banyak ruang belajar.
Di tengah segala tantangan industri kreatif, satu hal menjadi jelas, masa depan film Indonesia tidak hanya ditentukan oleh sineas yang sudah mapan, tetapi juga oleh mereka yang hari ini masih duduk di bangku sekolah, memegang kamera sederhana, dan bermimpi tentang layar lebar.
Di aula SMKN 47 Jakarta, mimpi-mimpi itu mulai menemukan bentuknya. Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, nama-nama baru akan muncul di layar bioskop membawa cerita yang lahir dari ruang kelas, dari pelatihan sederhana, dan dari keberanian untuk bermimpi lebih jauh.
Siswi kelas 10 jurusan Produksi dan Siaran Program Televisi Clara Octaviana Wijaya, menjadi salah satu yang merasakan langsung dampak kegiatan ini. Baginya, pelatihan ini bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga membuka cara pandang baru terhadap dunia film.
“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber. Materi yang disampaikan sangat jelas dan mudah dipahami. Pertanyaan yang saya ajukan juga dijawab dengan penjelasan yang runtut, sehingga benar-benar membuka wawasan saya,” ungkap Clara.
Clara juga menyimpan harapan agar kegiatan seperti ini terus berlanjut. Baginya, dunia film bukan lagi sekadar tontonan, tetapi kemungkinan masa depan.” Saya berharap bisa berkarir di dunia perfilman di masa depan,” ucapnya.
Kepala Subbagian Tata Usaha SMKN 47 Jakarta Dinyatip, menekankan pentingnya kegiatan semacam ini dalam membangun kemampuan praktis siswa. “Kegiatan ini sangat bagus untuk melatih siswa dalam produksi film. Saya sendiri belajar dari pengalaman menjadi aktor dalam produksi film siswa untuk FLS3N 2026. Ternyata tidak mudah,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar refleksi personal, tetapi juga penegasan bahwa dunia film membutuhkan proses panjang, latihan, dan pengalaman nyata hal yang tak selalu bisa didapat dari teori di kelas.
Sineas Bayu Pamungkas yang juga menjadi pemateri menuturkan, keterlibatan dalam kegiatan ini juga memiliki makna yang lebih luas. Ia melihat pelatihan seperti ini sebagai jembatan antara sineas dan penonton, terutama generasi muda yang menjadi tulang punggung industri film ke depan.
“Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Selain berbagi wawasan, ini juga menjadi cara untuk mendekatkan film nasional dengan penontonnya. Apalagi, sekitar 60 persen penonton film Indonesia adalah remaja,” ujarnya.
Bayu mengungkap data dari Badan Perfilman Indonesia (BPI), yang menunjukkan bahwa industri film nasional tengah mengalami kebangkitan signifikan. Setelah terpukul pandemi, jumlah penonton film Indonesia terus meningkat tajam, bahkan melampaui 80 juta pada tahun 2025.
“Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah penanda bahwa minat terhadap film lokal terus tumbuh, dan generasi muda memainkan peran penting dalam pertumbuhan tersebut,” bebernya.
Bayu menyebut, film-film seperti “Jumbo” (2025) yang menembus lebih dari 10 juta penonton, hingga “Agak Laen” (2024) yang mencatat lebih dari 9 juta penonton, menjadi bukti bahwa pasar film Indonesia semakin kuat. “Namun di balik capaian itu, ada kebutuhan mendesak regenerasi sineas,” tegasnya.
Di sinilah pelatihan seperti yang berlangsung di SMKN 47 Jakarta menemukan relevansinya.
Dosen Videografi Fakultas Komunikasi Universitas Nasional (Unas) Jakarta Umar Fauzi Bahanan menegaskan bahwa siswa saat ini memiliki lebih banyak ruang untuk mengukur dan mengembangkan bakat mereka. Tidak hanya melalui jalur akademik atau olahraga, tetapi juga seni, termasuk film. “Sekarang siswa punya banyak ruang untuk menunjukkan bakatnya, termasuk di FLS3N yang memiliki cabang lomba film pendek. Maka pelatihan seperti ini penting untuk meningkatkan kemampuan mereka,” jelasnya.
Umar percaya bahwa kemampuan produksi film tidak hanya soal teknis, tetapi juga soal kepekaan, kreativitas, dan keberanian bercerita. Nilai-nilai inilah yang perlu ditanamkan sejak dini.
Kegiatan pelatihan produksi film yang digelar melalui kolaborasi antara Kreasi Jingga Production dan Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Nasional ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan antara pengalaman profesional dan rasa ingin tahu yang menggebu dari para pelajar.

Beberapa sineas yang hadir dalam gelaran ini mampu memberi semangat siswa untuk meraih mimpinya di dunia perfilmnya, diantaranya Dewi Kusuma, produser eksekutif film “Lantai 4” (2022), yang juga memimpin rumah produksi Kreasi Jingga Production. Ada pula Umar Fauzi Bahanan, dosen videografi sekaligus aktor dalam film “Keadilan – the Verdict” (2025). Serta Bayu Pamungkas, sutradara di balik film “Doti: Tumbal Ilmu Hitam” (2025), dan Erry Sofid, penulis skenario film horor legendaris seperti “Hantu Jeruk Purut”. Namun di balik deretan nama besar itu, yang paling terasa justru adalah energi para siswa.