Peran Ekonomi Perempuan Kepala Keluarga yang Diabaikan Negara

EXISTENSIL -Di tengah inflasi yang terus merangkak naik, krisis iklim yang kian tak bersahabat, serta ketidakpastian ekonomi global, ada satu kelompok yang hampir selalu berada di garis depan kerentanan namun kerap luput dari sorotan kebijakan dan pemberitaan: perempuan kepala keluarga.

Mereka bukan hanya menghidupi diri sendiri, tetapi juga menanggung kehidupan anak-anak, orang tua, bahkan anggota keluarga lain. Dalam bahasa kebijakan, mereka kerap disebut kelompok rentan. Namun dalam kehidupan nyata, mereka adalah penyintas perempuan yang terus bekerja, bertahan, dan mengambil keputusan sulit setiap hari. Krisis, pada kenyataannya, tidak pernah netral gender. Dampaknya paling berat dirasakan perempuan, terutama mereka yang memikul tanggung jawab penuh atas keluarga.

Bagi Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), krisis bukan sekadar grafik inflasi atau laporan ekonomi global. Krisis hadir dalam bentuk yang sangat konkret: harga beras yang naik, cuaca ekstrem yang merusak panen, pesanan yang semakin sepi, hingga anak yang tetap harus bersekolah meski uang nyaris tak ada.

“Tanpa krisis pun perempuan sudah rentan. Ketika krisis datang, bebannya menumpuk di perempuan,” ujar Divisi Pendidikan & Kepemimpinan Perempuan PEKKA Dhesi Vienayanti dalam The Exist Talk dengan tema  Cara Cerdas Perempuan Kepala Keluarga untuk Mandiri Ekonomi Saat Krisis, edisi Rabu (14/01/2026)

Dhesi telah mendampingi komunitas perempuan kepala keluarga selama lebih dari dua dekade. Dari pengalamannya, setiap krisis hampir selalu memiliki wajah perempuan terutama mereka yang hidup dari sektor informal.

Ketika daya beli masyarakat menurun, ia tak berhenti. Perempuan mengubah strategi, menerima pesanan makanan tambahan untuk balita (PMT), memasok konsumsi kegiatan masjid, hingga mengelola pesanan kecil dari lingkungan sekitar.

Di daerah lain, perempuan kepala keluarga menambah lapisan kerja. Dari pekerja warung menjadi pemilik laundry rumahan. Dari petani musiman menjadi buruh tani lintas daerah.

Di Bima, sebagian perempuan bahkan harus pergi ke Dompu atau Sumbawa untuk bekerja sebagai buruh tani musiman meninggalkan anak-anak yang masih usia sekolah. “Kalau ibu harus keluar wilayah, ada kader PEKKA yang menggantikan peran pengasuhan,” cerita Dhesi.

Dhesi melanjutkan, kader-kader ini memastikan anak-anak tetap makan, mengerjakan pekerjaan rumah sekolah, dan terpantau kesehariannya. “Inilah sisi yang jarang muncul dalam diskusi ekonomi arus utama: solidaritas sosial sebagai strategi bertahan hidup,” katanya.

Bergabung dalam organisasi bagi perempuan kepala keluarga bukan sekadar soal rapat atau struktur. Ia adalah ruang aman. “Kadang masalah perempuan itu bukan cuma ekonomi, tapi juga beban psikologis. Dengan berorganisasi, mereka punya tempat untuk bercerita, berbagi, dan bangkit kembali,” jelasnya.

Melalui Akademi Paradigta, Yayasan PEKKA menyelenggarakan pendidikan terstruktur bagi perempuan kepala keluarga mulai dari kepemimpinan, pengelolaan keuangan rumah tangga, kewirausahaan, hingga advokasi kebijakan.

Sekolah ini dirancang fleksibel, mengikuti ritme hidup perempuan. Pertemuan bisa seminggu sekali atau dua minggu sekali, dengan total sekitar 25 sesi pembelajaran, lengkap dengan modul dan kurikulum khusus.

“Ini sekolah perempuan kepala keluarga,” ujar Desi. “Kami tidak kaku, tapi terstruktur.”

PEKKA, Kata Dhesi,  mendorong advokasi melalui diskusi kampung dan forum pemangku kepentingan, melibatkan kepala desa, tokoh masyarakat, hingga DPRD. Tujuannya satu, memastikan suara perempuan kepala keluarga masuk ke dalam kebijakan publik.

Di saat negara sering absen, perempuan kepala keluarga membangun sistemnya sendiri. Pelan, dari bawah, dan bersama. Dhesi berani bilang bahwa perempuan kepala keluarga bertahan bukan karena kuat sendirian, tetapi karena saling menopang melalui organisasi, koperasi, pendidikan, dan solidaritas.

Dalam lanskap ekonomi yang sering menyingkirkan mereka, Dhesi menyebut, perempuan kepala keluarga menciptakan mekanisme sendiri. Pasar rakyat berbasis barter menjadi bukti bahwa ekonomi tidak selalu harus mengikuti logika pasar formal dan bahwa di tengah krisis, solidaritas bisa menjadi mata uang yang paling bernilai.

Tahan Krisis Lewat Koperasi PEKKA

Di tingkat nasional, Federasi Serikat PEKKA Indonesia  yang menaungi serikat-serikat di tingkat kabupaten menjadi tulang punggung gerakan ini. Salah satu pengurusnya, Mahdalena atau Mahda, telah bergabung sejak 2007. Ia bukan sekadar pengurus, tetapi bagian dari komunitas itu sendiri. “Di PEKKA, kami benar-benar mencari nafkah dan bertanggung jawab penuh pada keluarga, beban ganda itu nyata,” kata dia.

Mahda menyebut, ada satu instrumen penting yang membuat perjuangan ini lebih mungkin dilakukan melalui koperasi.

Saat ini, Mahda menyebut,  PEKKA memiliki 79 koperasi primer, lengkap dengan koperasi sekunder dan induk koperasi. Total asetnya mencapai sekitar Rp70 miliar angka yang bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata kekuatan ekonomi kolektif perempuan miskin.

“Kalau pinjam di koperasi luar, keuntungannya kembali ke pemilik modal, kalau di koperasi PEKKA, manfaatnya kembali ke kami sendiri,” jelasnya

Melalui koperasi, Mahda membiayai sekolah anak, merenovasi rumah, membeli motor, hingga kebutuhan pernikahan anak. “Di akhir tahun, anggota juga mendapatkan Sisa Hasil Usaha (SHU) sesuatu yang hampir tak pernah dirasakan perempuan di sektor informal,” bebernya.

Model ini menjadi antitesis dari sistem keuangan eksploitatif yang kerap menjerat perempuan miskin dengan utang berbunga tinggi.

Mahda menyebut, Lebih dari 90 persen anggota PEKKA bekerja di sektor informal. Sekitar 60 persen di UMKM, 30 persen di pertanian, sisanya buruh nonformal. “Yang bekerja di sektor formal minim, paling tidak hanya 1%,”ucap dia.

Keterampilan mereka sangat beragam, Mahda menyebut perempuan kepala keluarga ini mengolah makanan, membuat jajanan pasar, menganyam rotan dan bambu, menjahit, mengolah limbah plastik menjadi kerajinan, hingga mengelola hasil laut di wilayah pesisir.

Di Bima, sampah plastik diubah menjadi tas dan furnitur. Di Kalimantan, rotan menjadi keranjang dan tikar. Di wilayah pesisir, perempuan mengupas udang dan membersihkan ikan. Di daerah nipah, daun nipah diolah menjadi atap rumah.

“Perempuan PEKKA itu mengelola apa pun yang ada di sekitarnya, mereka sangat kontekstual, jika mereka tinggal di pesisir mereka mengolah hasil laut dari ikan hingga rumput laut,” ucap Mahda.

Pasar Rakyat: Ketika Uang Bukan Satu-satunya Alat Tukar

Di beberapa wilayah dampingan PEKKA, perempuan kepala keluarga tidak hanya mengandalkan pasar formal dan uang tunai untuk bertahan. Mereka membangun pasar rakyat ruang ekonomi alternatif yang memungkinkan barter sebagai alat tukar.

Di pasar ini, perempuan membawa apa yang mereka miliki: sayur dari kebun sendiri, ikan hasil tangkapan, makanan olahan rumahan, kerajinan tangan, hingga jasa sederhana. Tidak semua transaksi harus berujung pada uang. Sebagian berlangsung dalam bentuk tukar barang, sesuai kebutuhan masing-masing.

“Ketika uang tidak ada, kebutuhan tetap harus dipenuhi, pasar barter ini menjadi solusi yang sangat kontekstual bagi perempuan,” ujar Mahda

Bagi perempuan kepala keluarga, pasar rakyat berbasis barter bukan sekadar soal bertahan hidup. Ia menjadi ruang pemulihan martabat. Perempuan tidak diposisikan sebagai peminta, melainkan sebagai produsen dan subjek ekonomi yang memiliki sesuatu untuk dipertukarkan.

Model ini juga mengurangi ketergantungan pada utang, terutama dari lembaga keuangan informal yang kerap memerangkap perempuan dengan bunga tinggi. Dalam situasi krisis, pasar barter membantu menjaga sirkulasi kebutuhan dasar pangan, perlengkapan rumah tangga, hingga layanan kecil tanpa tekanan likuiditas.

Lebih dari itu, pasar rakyat membangun kembali relasi sosial yang tergerus oleh sistem ekonomi uang. Perempuan saling mengenal, saling percaya, dan saling menjaga. “Nilai tukar tidak semata ditentukan oleh harga pasar, tetapi oleh kebutuhan dan kesepakatan bersama,” pungkas Mahda.

 

 

Catatan: 

The Exis Talk adalah ruang dialog kritis dan reflektif yang dihadirkan oleh Existensil untuk membicarakan isu-isu sosial, ekologi, disabilitas, gender, hingga keadilan struktural dari perspektif yang berpihak pada kelompok rentan. Melalui obrolan mendalam bersama aktivis, akademisi, jurnalis, pembuat kebijakan, dan komunitas akar rumput, The Exis Talk tidak sekadar menyajikan opini, tetapi menghadirkan pengalaman, data, dan suara-suara yang kerap disisihkan dari ruang publik.

Setiap episodenya dirancang sebagai percakapan yang jujur, kritis, dan membumi mendorong publik untuk berpikir lebih dalam tentang relasi kuasa, kebijakan yang timpang, serta masa depan yang lebih adil dan inklusif. The Exis Talk menjadi ruang belajar bersama, sekaligus ruang aman untuk bertanya, menyimak, dan merawat empati.

Jangan lewatkan The Exis Talk setiap hari Rabu Pukul 20.00-21.00 WIB, live di Instagram @existensilcom. Mari bertemu, berdiskusi, dan menumbuhkan kesadaran kolektif karena perubahan selalu berawal dari percakapan yang berani.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *