Atas Nama Investasi, Fakta Getir Kebakaran Hutan Berulang di Kalimantan dan Sumatera

EXISTENSIL – Setiap Oktober, langit di sebagian Indonesia berubah warna. Bukan biru cerah atau kelabu hujan, melainkan putih pekat bercampur cokelat. Asap menggantung rendah, menutup matahari, merayap ke paru-paru. Di desa-desa sekitar lahan gambut, orang-orang kembali mengunci pintu lebih rapat, menutup celah jendela dengan kain basah. Anak-anak dilarang keluar rumah. Sekolah kadang diliburkan, kadang dipaksa tetap berjalan. Api kembali dating dan seperti tahun-tahun sebelumnya, ia datang ke tempat yang sama.

Selama 25 tahun terakhir, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menghanguskan 19,6 juta hektare wilayah secara kumulatif luas yang setara satu setengah kali Pulau Jawa. Namun angka ini menyimpan fakta yang lebih getir. Jika kebakaran yang terjadi berulang kali dihitung satu kali saja, total wilayah yang pernah terbakar tetap mencapai 9,5 juta hektare. Dari luasan itu, sekitar 4 juta hektare merupakan area yang terbakar berulang kali menandakan bahwa kebakaran bukan peristiwa acak, melainkan pola yang terus berulang di lanskap yang sama

Data ini dirilis dalam peluncuran Fire  MapBiomas Indonesia Koleksi 2, sebuah platform pemetaan kebakaran berbasis analisis citra satelit yang merekam dinamika areal terbakar di seluruh Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2024. Jika Koleksi 1 sebelumnya mencakup periode 2013–2023, maka Koleksi 2 membuka arsip yang jauh lebih panjang membentangkan sejarah api sebagai bagian tak terpisahkan dari model pembangunan Indonesia

Bagi Technical Coordinator MapBiomas Indonesia Dedy P. Sukmara data kebakaran lintas seperempat abad ini bukan sekadar statistik, melainkan bentuk ingatan ekologis yang selama ini terabaikan.

“Selama ini kebakaran sering dilihat sebagai peristiwa tahunan seolah terputus satu sama lain. Padahal ketika kita susun datanya dari tahun ke tahun, terlihat jelas bahwa kebakaran itu berulang di lokasi yang sama. Ini menandakan ada masalah struktural dalam pengelolaan lanskap,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (16/12/2025).

Menurut Dedy, pendekatan penanggulangan kebakaran di Indonesia masih terlalu reaktif. Negara hadir ketika api membesar mengirim helikopter water bombing, memobilisasi pemadam, membagikan masker. Namun ketika musim hujan datang dan api padam, akar persoalan kembali dilupakan.

MapBiomas Fire mencoba membalik logika itu. Dengan menyediakan data dan peta kebakaran yang terbuka untuk publik, platform ini memungkinkan siapa pun jurnalis, peneliti, masyarakat sipil, hingga pemerintah daerah untuk melihat pola jangka panjang  wilayah mana yang terus terbakar, kapan puncaknya, dan bagaimana perubahan tutupan lahan memengaruhi risiko kebakaran.

Selama bertahun-tahun, pemetaan kebakaran di Indonesia bertumpu pada data pemerintah dan hotspot dari NASA. Meski penting, data tersebut sering kali tidak cukup untuk membaca konteks lanskap secara utuh. MapBiomas Fire hadir sebagai pelengkap memberikan gambaran menyeluruh tentang di mana, kapan, dan bagaimana kebakaran terjadi, serta bagaimana kondisi tutupan lahan sebelum dan sesudahnya.

“Data terbuka ini bisa menjadi alat koreksi, bukan untuk menyalahkan satu pihak, tapi untuk memastikan kebijakan berbasis pada kenyataan di lapangan,” ujar Dedy.

Kalimantan, Sumatera, dan Peta Ketimpangan Api

Peta yang dihasilkan MapBiomas Fire menunjukkan bahwa kebakaran tidak tersebar merata. Kalimantan mencatat luasan terbakar terbesar, mencapai 3,7 juta hektare atau 39,1 persen dari total nasional. Diikuti Sumatera dengan 2,9 juta hektare (30,5 persen). Wilayah lain seperti Bali–Nusa Tenggara, Papua, Jawa, Sulawesi, dan Maluku menyusul dengan proporsi lebih kecil

Setiap wilayah memiliki karakteristiknya sendiri. Di Sumatera, kebakaran menunjukkan dua puncak tahunan pada Maret dan September. Sementara secara nasional, 61 persen kebakaran terjadi antara September hingga November, dengan puncak tertinggi pada bulan Oktober. Pola ini berulang hampir setiap tahun, memperlihatkan hubungan erat antara musim kering, aktivitas manusia, dan kondisi lanskap yang rentan

Tahun-tahun tertentu tercatat sebagai periode paling kelam: 2015 dengan kebakaran seluas 2,2 juta hektare, disusul 2014 (1,8 juta hektare) dan 2019 (1,7 juta hektare). Tahun-tahun ini bukan hanya menyisakan abu, tetapi juga krisis kesehatan, kerugian ekonomi, serta konflik lintas batas akibat asap yang menjalar ke negara tetangga

Salah satu temuan paling krusial dari MapBiomas Fire adalah fakta bahwa hanya 1,2 persen kebakaran terjadi di area berhutan. Sebaliknya, 63 persen kebakaran justru terjadi di vegetasi alami non-hutan seperti semak belukar, savana, padang rumput, gambut terbuka, dan rawa tak bervegetasi .

Temuan ini, menurut  Technical Coordinator Fire MapBiomas Indonesia Sesilia Maharani Putri, membongkar narasi lama yang kerap menyederhanakan kebakaran sebagai bencana alam semata. “Data ini menunjukkan bahwa ketika tutupan hutan hilang, risiko kebakaran justru meningkat. Lanskap yang terdegradasi jauh lebih mudah terbakar dibandingkan hutan yang masih utuh,” ujar dia.

Bagi Sesilia, kebakaran adalah konsekuensi dari rangkaian keputusan: pembukaan lahan, pengeringan gambut, dan pengabaian fungsi ekologis. Ketika hutan dibuka dan tanah kehilangan kemampuan menyimpan air, api menemukan bahan bakarnya.

“Kalau kita hanya fokus memadamkan api tanpa melihat sejarah perubahan tutupan lahan, kita hanya mengobati gejalanya, bukan penyebabnya,” tambahnya.

Api dan Jejak Aktivitas Manusia

MapBiomas Fire juga mengonfirmasi bahwa sebagian besar kebakaran terjadi di wilayah yang bersinggungan erat dengan aktivitas manusia, terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa kebakaran di Indonesia lebih sering dipicu oleh praktik pembukaan lahan dan tata kelola yang lemah, ketimbang faktor alam semata

Ketersediaan data historis kebakaran dan perubahan tutupan lahan merupakan modal penting bagi Indonesia dalam merespons krisis iklim dan bencana ekologis. Dengan data jangka panjang, pola dapat dikenali, wilayah rawan dapat dipetakan, dan intervensi dapat dilakukan lebih dini sebelum api menyala.

Namun tantangannya bukan pada ketersediaan data, melainkan kemauan politik untuk menggunakannya. Selama kebijakan masih berorientasi pada pemadaman, bukan pencegahan; selama degradasi ekosistem terus dibiarkan atas nama investasi, api akan terus kembali.

“Tanpa memahami pola jangka panjang, kita akan terus terjebak dalam siklus yang sama: kebakaran, pemadaman, lalu lupa,” kata Sesilia.

Pada akhirnya, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan sekadar soal musim kering atau anomali cuaca. Ia adalah cermin dari pilihan-pilihan pembangunan tentang bagaimana negara memperlakukan hutan, gambut, dan ruang hidup masyarakat.

MapBiomas Fire telah membuka peta dan memperpanjang ingatan kita. Data menunjukkan bahwa api bukan datang tiba-tiba, melainkan tumbuh di lanskap yang telah lama dilemahkan. Pertanyaannya kini bukan lagi apa yang terjadi, melainkan apa yang akan dilakukan setelah mengetahui semuanya.

Jika tidak, Oktober akan selalu datang dengan asap. Dan negeri ini akan terus terbakar bukan karena tak tahu, tetapi karena memilih untuk menunda perubahan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *