EXISTENSIL – Siapa sangka, di tengah sejuknya pegunungan Kyoto yang dipeluk hutan dan dialiri sungai jernih, ada aroma khas dari Indonesia yang menyusup ke udara: tempe. Bukan tempe biasa, melainkan tempe yang dibuat dengan sepenuh hati, penuh dedikasi, dan diproduksi dalam skala internasional oleh tangan seorang anak bangsa: Rustono.
Di sela kunjungan ke Osaka Expo 2025, jajaran pimpinan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) berkesempatan mengunjungi pabrik tempe milik Rustono, seorang diaspora Indonesia yang telah mengubah bahan pangan sederhana menjadi komoditas bernilai miliaran rupiah. Atiek Sarjana (Ketua), Ratu Dian Hatifah (Wasekjen), Triana Wulandari (Tim Ahli Bidang Ekonomi), Retno (Bendahara Umum), dan Herwin Wanggai tampak antusias menyusuri kawasan pabrik yang dibangun dari 10 kontainer bekas namun tampil begitu higienis dan modern.
Rustono, laki-laki kelahiran 1968, memulai perjalanannya sebagai pelayan di Hotel Sahid Yogyakarta. Siapa sangka, perjalanan hidup membawanya merantau hingga ke Jepang, menikah dengan perempuan Tsuruko Kuzumoto pada 1997, dan kini menetap di desa terpencil namun asri di Kyoto bersama dua putri mereka yang turut membantu menjalankan bisnis keluarga: Rusto Tempeh.
Pabrik tempe miliknya memproduksi 3.000 hingga 5.000 bungkus tempe setiap hari yang dipasarkan ke seluruh Jepang dan bahkan hingga ke Prancis, Jerman, Polandia, Meksiko, Korea, dan Tiongkok. Omzet bulanannya menyentuh angka fantastis: Rp 2 miliar. Tapi bukan hanya angka yang membuat kisah Rustono menginspirasi melainkan filosofi hidupnya.
“Kenapa tempe dianggap makanan orang miskin?” ujar Triana Wulandari, mengutip kalimat reflektif dari Rustono, Jumat (11/07/2025)
Triana melajutkan, tempe membuat hidup warga Indonesia makmur di luar negeri. “Padahal dari tempe kita bisa makmur, asal ada kerja keras, inovasi, dan ketekunan. Kisah ini seharusnya menjadi pelecut semangat bagi UMKM Indonesia untuk tidak minder terhadap produk lokal,” katanya.

Tempe ala Rustono bahkan dikemas dengan label bergambar suasana kampung Jawa, membawa rasa nostalgia dan identitas budaya ke panggung global.
Bagi Ratu Dian Hatifah, Rustono bukan sekadar pengusaha diaspora adalah sosok profesional yang fokus dan teguh pada jalannya. “Beliau tidak tergoda mendiversifikasi usahanya ke hal lain. Ia tahu betul kekuatannya ada pada tempe, dan ia tekuni itu sampai menembus pasar dunia,” ujarnya.
Meski bisnisnya kini berskala internasional, Rustono tetap rendah hati. Ia pernah diundang sebagai pembicara oleh Kementerian Koperasi dan UMKM Indonesia, namun lebih banyak memilih tinggal di desa, merawat pabrik, dan menjaga kualitas produksi bersama keluarganya.
Dari 10 kontainer bekas yang disulap menjadi pabrik, dari bahan pangan yang kerap diremehkan, Rustono membuktikan bahwa kemandirian ekonomi bisa dibangun dari hal yang paling sederhana. Bahwa jika dijalani dengan cinta, kesetiaan, dan visi global, tempe pun bisa menjadi jalan menuju kemakmuran. (Herwin/Kyoto-Jepang)