Body Shaming, Moralitas Publik dan Tubuh Perempuan, Studi Kasus Lisa Mariana

Body Shaming, Moralitas Publik dan Tubuh Perempuan, Studi Kasus Lisa Mariana

Lisa Mariana mendapat body shaming akibat kasus dengan Ridwan Kamil. (Sumber : Instagram/@lisamarianaaa/@lisamarianaaofc)

Kasus dugaan perselingkuhan Ridwan Kamil dan seorang perempuan bernama Lisa Mariana sontak mengagetkan masyarakat. Apalagi kaum hawa. Hal ini wajar, karena mantan Gubernur Jawa Barat itu terkenal sebagai sosok pria dan suami ideal. Dia pun menjadi idola kaum perempuan berbagai umur.

Tak jarang, Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil juga mengumbar kemesraannya dengan sang istri, Atalia Praratya atau yang kerap disapa Bu Cinta di berbagai media sosial. Bahkan, pasangan ini dulu kerap mendapat sebutan Couple Goals karena tampak sangat harmonis dan bahagia.

Munculnya sosok Lisa Mariana di depan public sontak mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, sebelum berani menampakkan diri, telah beredar banyak foto-foto dari model seksi itu di berbagai media. Dalam foto, dia tampak seksi dan memiliki tubuh yang menarik.

Namun saat muncul di depan public untuk melakukan konferensi pers, public baru mengetahui jika bentuk tubuhnya kini tak sama dengan foto yang beredar sebelumnya. Tubuhnya jauh lebih besar bahkan terbilang overweight meski mukanya masih tampak cantik.

Tak pelak, masyarakat segera menjadikannya sebagai bahan omongan. Apalagi kalau bukan tubuhnya.

Setelah ramai-ramai menyerang Lisa atas kelakuanya menjadi wanita simpanan Kang Emil, masyarakat seperti mendapat amunisi baru untuk menyerang Lisa atas kondisi fisiknya. Lucunya (atau tragisnya), seolah-olah dosa seseorang bisa jadi makin berat hanya karena tubuhnya dianggap ‘enggak ideal’.

Entah banyak atau sedikit orang yang sadar, fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya standar ganda yang masih berlaku di sekitar kita, apalagi buat perempuan. Tubuh perempuan bukan sekadar tubuh, tapi juga simbol, alat kontrol sosial, bahkan objek untuk melegitimasi kemarahan publik.

Terlihat bagaimana tubuh perempuan tak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri.

 

Tubuh Perempuan: Ternyata Bukan Milikku Sepenuhnya

Di negeri ini, tubuh perempuan sering menjadi urusan orang banyak. Mau kurus, gendut, tinggi, pendek — selalu ada saja komentar. Bahkan di kasus Lisa, tubuhnya yang sekarang justru jadi pelampiasan kemarahan netizen. Komentar-komentar seperti “Pantesan aja, udah gendut, jadi simpenan pula” berseliweran di media sosial. Seolah tubuhnya yang tidak sesuai standar kecantikan itu bisa menjadi alasan tambahan untuk lebih merendahkannya.

Padahal, urusan moral dan bentuk tubuh itu dua hal yang sama sekali berbeda. Tapi di budaya kita, tubuh perempuan selalu diperlakukan sebagai simbol. Simbol kehormatan, moralitas keluarga, bahkan harga diri bangsa.

Seperti yang dikatakan Susan Bordo, seorang filsuf feminis dalam bukunya Unbearable Weight (1993):

The body is the medium through which the individual’s cultural and social identity is negotiated and often controlled.”

(Tubuh adalah medium di mana identitas budaya dan sosial seseorang dinegosiasikan — bahkan dikontrol)

Dan itulah yang persis terjadi dalam kasus ini. Tubuh perempuan tidak pernah netral. Dia adalah medan tafsir sosial, alat penilaian moral, bahkan ladang hukuman simbolik.

 

Standar Ganda yang Bikin Capek

Entah sadar atau tidak, perempuan sering menjadi  jadi korban standar ganda.
Kalau cantik dan langsing → “Pantes aja, godain suami orang.”
Kalau badannya overweight → “Lihat tuh, nggak pantes, nggak seimbang sama lakinya.”

Apapun kondisinya, perempuan tetap jadi korban. Tubuhnya terus menjadi bahan perhatian, komentar, dan menjadi bahan hukuman sosial.

Pierre Bourdieu, dalam konsep symbolic violence, menyebutkan:

“Symbolic violence is the gentle, invisible violence which is exercised upon individuals with their complicity.”
(Kekerasan simbolik adalah kekerasan halus dan tak kasat mata, yang terjadi karena diterima begitu saja oleh masyarakat.)

Itulah sebabnya, olok-olok soal tubuh perempuan seperti di kasus Lisa ini seolah menjadi biasa saja — padahal dampaknya luar biasa. Kita terbiasa melibatkan tubuh perempuan dalam segala urusan sosial, bahkan ketika hal itu sama sekali tidak relevan.

Yang lebih tragis, perempuan sering tanpa sadar ikut terlibat dalam reproduksi kekerasan simbolik ini, saling mengomentari dan menertawakan tubuh sesama perempuan

 

Body Shaming yang Berbalut Moralitas

Miris, body shaming sering terkait dengan dalih moralitas. Alasannya? “Dia kan salah duluan.”

Padahal, menurut Dr. Ratih Ibrahim, M.M., psikolog, dalam sebuah wawancara bersama CNN Indonesia (2021):

Body shaming merupakan bentuk kekerasan verbal yang bisa meninggalkan trauma psikologis. Korbannya bisa mengalami gangguan harga diri, kecemasan, hingga depresi.”

Mau orangnya salah, benar, dosa, atau malaikat — tubuhnya tetap bukan bahan hinaan.
Kita sering lupa bahwa komentar jahat soal tubuh bisa meninggalkan luka batin, bikin orang rendah diri, stres, bahkan membenci dirinya sendiri. Dan ini tidak cuma soal Lisa. Bisa menimpa siapa saja — teman kita, saudara kita, bahkan diri kita sendiri.

Faktanya, budaya kita masih memandang tubuh perempuan sebagai wilayah publik yang boleh mendapat penghakiman. Entah soal berat badan, warna kulit, bentuk hidung, atau tinggi badan. Semuanya bisa jadi alasan untuk merendahkan. Yang paling menyedihkan, standar-standar ini seringkali tak berlaku sama pada laki-laki.

 

Perempuan, Moralitas, dan Tuntutan Ganda

Kasus Lisa Mariana ini sebenarnya hanya salah satu contoh dari problem yang jauh lebih luas. Di negara ini, perempuan memang dituntut untuk memenuhi dua hal sekaligus:

  1. Bermoral sesuai norma sosial.
  2. Cantik sesuai standar kecantikan yang kaku.

Kalau gagal di salah satu, perempuan langsung mendapat penghakiman habis-habisan. Seperti kata Naomi Wolf dalam The Beauty Myth (1990):

“The beauty myth is always actually prescribing behavior and not appearance.”
(Mitos kecantikan sebenarnya bukan soal penampilan, tapi tentang bagaimana perempuan seharusnya berperilaku sesuai ekspektasi.)

Jadi, kalau tubuh perempuan tak sesuai standar, itu bukan hanya dianggap soal estetika, tapi juga soal karakter, harga diri, bahkan moralitas. Yang lebih parah, perempuan yang dianggap ‘salah secara moral’ akan semakin dipermalukan lewat tubuhnya. Seolah-olah tubuh yang masyarakat anggap ‘jelek’ itu menjadi cerminan dosanya, menjadi objek hinaan yang sah karena dianggap pantas.

 

Bisa Yuk Kita Lebih Waras

Kasus Lisa Mariana seharusnya jadi pengingat penting buat kita semua, bahwa tubuh perempuan — apapun kondisinya — bukan ruang publik yang bebas mendapat penhakiman dari siapapun. Mengkritik tindakan seseorang tidak harus menyeret tubuhnya sebagai bahan hinaan.

Setiap tubuh punya cerita, punya perjuangan, dan punya hak untuk dihargai. Kita bisa mulai dari hal kecil. Misalnya membiasakan diri untuk tidak mengomentari tubuh orang lain — baik di media sosial maupun di kehidupan nyata.

Lebih jauh lagi, kita bisa belajar membedakan antara tindakan yang patut mendapat kritikan dan tubuh yang tetap harus dihargai. Karena pada akhirnya, kita hidup di dunia yang keras. Jangan sampai kita ikut memperkerasnya dengan menormalisasi kekerasan simbolik dalam bentuk olok-olok fisik, apalagi kepada sesama perempuan.

Setiap tubuh berhak punya ruang aman. Standar ganda itu bikin capek banget.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *