Yuli Roma, Sang Pendobrak Tradisi Maskulin Reog Ponorogo

Pembarong perempuan pertama pendobrak tradisi maskulin dalam kesenian Reog Ponorogo (Foto: Ist)

EXISTENSIL – Di tengah gemuruh modernisasi, di mana budaya pop menenggelamkan tradisi, seorang perempuan berdiri tegak di panggung Reog, menantang arus yang ingin menggusur warisan leluhurnya.

Yuli Roma bukan sekadar seniman, ia pembarong perempuan pertama yang berani mendobrak tradisi maskulin dalam kesenian Ponorogo Jawa Timur, tetapi penjaga napas seni yang berdenyut di tanah Ponorogo. Reog bukan hanya pertunjukan baginya, tetapi identitas yang mengalir dalam darah, warisan yang ia jaga dengan segenap jiwa dan cinta.

Sejak kecil, perempuan asli Ponorogo telah akrab dengan denting gamelan, tarian Warok yang gagah, serta gemuruh tabuhan kendang yang menggema dalam setiap pertunjukan Reog Ponorogo. Lahir dari keluarga seniman, ia menerima seni bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai takdir. Reog adalah warisan yang tak hanya dijunjung tinggi oleh masyarakat Ponorogo, tetapi juga dijaga dengan penuh pengabdian.

Yuli Roma dan Singo Barong (Foto: ist)

Di sekolah, ia beruntung bisa menyelami seni ini sebagai bagian dari muatan lokal. Tapi baginya, belajar Reog bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan perjalanan hati. Ia bergabung dengan sanggar tari, menyerap ilmu dari para maestro, hingga akhirnya melangkah lebih jauh dengan mendalami seni ini melalui workshop di Universitas Wilatikta, berkat dukungan almarhum Bupati Ponorogo Markum Singoderojo.

Namun, perjalanan seni Yuli Roma tidak selalu diiringi tepuk tangan. Ada gelombang besar yang mencoba mengguncangnya, ada batasan yang ingin menghentikan langkahnya. Bukan karena kurangnya bakat, melainkan karena satu hal: ia adalah perempuan di panggung yang didominasi laki-laki.

Reog adalah seni yang maskulin. Para Warok yang menari dengan gagah, pembarong yang menopang topeng raksasa Singo Barong seberat 50 kilogram dengan gigi mereka, dan suara kendang yang bergemuruh seolah menjadi simbol ketangguhan laki-laki. Dalam tradisi yang telah mengakar kuat, perempuan seolah hanya menjadi penonton dalam cerita besar ini.

Namun, peraih nominasi Eagle Award tahun 2016 di salah satu televisi swasta Indonesia ini menolak menjadi sekadar penonton. Ia memutuskan untuk memegang peran yang selama ini tabu bagi perempuan: menjadi pembarong.

Langkahnya tidak diterima dengan mudah. Ia menghadapi tentangan dari berbagai pihak, bahkan sempat didemo oleh ormas Islam yang menganggap perempuan tidak pantas menari sebagai pembarong. Tapi ia tak gentar. Ia tetap menari, tetap menopang topeng Singo Barong dengan kekuatan yang tak hanya berasal dari fisiknya, tetapi juga dari tekad yang membara.

“Saya menjadi pembarong perempuan pertama di Ponorogo. Awalnya banyak yang menentang, tapi saya terus berkarya. Kini, sudah banyak perempuan yang berani mengambil peran sebagai pembarong dan Bujang Ganong,” kisah perempuan yang lahir 44 tahun silam ini.

Yuli Roma telah membuka jalan. Dengan setiap langkah kakinya di atas panggung, ia telah merobohkan tembok tradisi yang membatasi perempuan. Kini, perempuan-perempuan lain mulai mengikuti jejaknya, berani berdiri di panggung Reog tanpa rasa takut.

Laskar Biyungku: Melestarikan, Mengasuh, Mewariskan

Perjalanan seni Yuli Roma tak berhenti di Reog. Ia melihat kesenian Jaranan, yang sering dipandang sebelah mata, sebagai bagian dari warisan yang juga harus dijaga. Kesenian ini kerap dianggap mistis, bahkan hanya sebagai hiburan rakyat biasa. Namun, Yuli melihat keindahan dalam setiap gerakannya, filosofi dalam setiap hentakannya.

Yuli Roma mengenakan kebaya dan ikat khas Ponorogo (Foto: Ist)

Dari kegelisahan itulah, ia membentuk Laskar Biyungku, sebuah komunitas yang berupaya menjaga dan mengembangkan seni Jaranan agar tetap hidup dan bermakna. Nama “Biyungku”, yang berarti ibu, melambangkan perannya dalam membimbing dan mengasuh para seniman muda agar tetap berkarya dengan nilai-nilai luhur.

“Saya ingin memastikan bahwa seni Jaranan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan dihargai sebagai bagian dari kebudayaan Ponorogo. Saya ingin membuktikan bahwa perempuan bisa berperan dalam kesenian tanpa kehilangan adab dan marwahnya sebagai perempuan,” tuturnya.

Di tengah perjuangannya, Yuli Roma tidak berjalan sendirian. Ia mendapatkan dukungan dari tokoh perempuan lain, seperti Wakil Bupati Ponorogo, Lisdyarita, yang percaya bahwa seni adalah jiwa yang harus dijaga bersama.

Pemerintah daerah yang kini di pimpin oleh Sugiri Sancoko mulai memberikan perhatian lebih, termasuk dalam upaya memasukkan Reog Ponorogo dalam daftar United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) agar warisan ini tidak hanya bertahan, tetapi juga diakui dunia.

Reog Ponorogo resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO pada 3 Desember 2024. Pengakuan ini diumumkan dalam Sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage yang diselenggarakan di Paraguay.

“Sebagai perempuan dan seorang ibu, saya percaya bahwa keberhasilan kesenian tradisional tak lepas dari didikan ibu. Kesenian Ponorogo ini adalah warisan adiluhung yang harus kita jaga dan wariskan dengan cara yang lebih baik lagi,” katanya.

Yuli Roma dan komunitas Laskar Biyungku yang ikut serta dalam festival kebudayaan di Jakarta (Foto: ist)

Mimpi Yuli Roma belum selesai. Ia ingin lebih banyak anak muda yang mencintai kesenian, bukan sekadar menjadi penonton, tetapi juga pelaku. Baginya, Reog bukan sekadar pertunjukan, tetapi simbol identitas, keberanian, dan ketangguhan masyarakat Ponorogo.

“Masih banyak harapan saya yang belum terealisasi, tetapi saya yakin akan ada regenerasi yang lebih baik dari saya. Ini bukan sekadar seni, ini adalah identitas kita sebagai orang Ponorogo,” tandasnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Yuli Roma menari di antara gagahnya Reog, membuktikan bahwa perempuan pun bisa menjadi penjaga warisan budaya. Ia bukan hanya seorang seniman, tetapi api yang terus menyala, menerangi jalan bagi generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *