
EXISTENSIL – Di bawah langit yang tak pernah lelah memayungi kota, di antara bising kendaraan dan hiruk-pikuk manusia yang lalu-lalang, ada sesuatu yang selalu tertinggal: sampah. Khususnya sampah plastik benda yang ringan namun meninggalkan beban berat pada bumi. Ia tak hancur oleh waktu, tak lebur dalam tanah, tak larut dalam air. Menumpuk, menggunung, dan perlahan menyesakkan napas planet yang kita cintai bersama.
Namun di tengah tumpukan plastik yang seringkali diabaikan, sekelompok orang melihat sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar limbah yang harus dibuang, tetapi potensi energi yang bisa menggerakkan. Dari keresahan yang begitu nyata, mereka bertanya: Bisakah sampah plastik menyala, bukan hanya di tempat bakar, tapi sebagai energi yang menyalakan musik?
Pertanyaan itu bukan hanya angan. Ia tumbuh menjadi visi, lalu menjadi misi nyata. Lahirlah Get The Fest, sebuah festival yang tidak hanya menyajikan musik dan hiburan, tetapi juga menyelipkan pesan penting tentang lingkungan. Di sana, limbah plastik diubah menjadi bahan bakar untuk menghidupkan panggung, lampu, suara, dan energi yang mengalir ke seluruh penjuru.

Founder Get The Fest Dimas Bagus Wijanarko mengatakan, ide ini lahir dari dua kegelisahan besar: tumpukan sampah plastik yang tak kunjung teratasi, dan kebutuhan energi yang terus meningkat. “Kami ingin membuktikan bahwa plastik tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Plastik bisa punya ‘kehidupan kedua’ sebagai energi yang menghidupkan panggung, dan dari situlah kami mulai membangun Get The Fest,” ujarnya kepada Existensil.
Get The Fest memilih musik bahasa universal yang bisa menembus batas usia, latar belakang, dan budaya sebagai medium penyampai pesan. Festival musik menjadi panggung yang bukan hanya tempat pesta, tetapi ruang menyebarkan kesadaran.

Namun, tidak semua plastik bisa serta-merta diubah menjadi energi. Dalam proses yang cermat, tim Get The Fest memisahkan tujuh jenis plastik: PET, HDPE, PVC, LDPE, PP, PS, dan Other. “Untuk saat ini, kami belum bisa mengolah jenis PET dan PVC karena faktor teknologi dan keamanan lingkungan. Tapi PP, HDPE, LDPE, PS, dan Other semua bisa kami proses menjadi bahan bakar,” jelas Dimas.
Proses ini tentu tidak instan. Tantangan terbesar ada di pendanaan, metode pengumpulan, dan pengolahan limbah yang membutuhkan waktu, tenaga, dan konsistensi. Lebih dari itu, menyebarkan kesadaran ke publik tidak bisa hanya sekali lewat. “Kami tahu ini marathon, bukan sprint. Tapi kami percaya satu hal: perubahan butuh dipelopori, dan kami ingin menjadi bagian dari pemantik itu,” tambah Dimas.

Di balik panggung yang terang benderang, berdiri sebuah mesin yang menjadi kunci: mesin pirolisis. Di dalam tubuh besinya, plastik dipanaskan tanpa oksigen, berubah menjadi gas, lalu dikondensasi hingga menetes menjadi bahan bakar minyak. Satu kilogram plastik PP bahkan dapat menghasilkan sekitar satu liter bahan bakar.
Literatur dari BRIN (LIPI) memperkuat temuan ini, menunjukkan bahwa pirolisis plastik dapat menghasilkan bahan bakar berkualitas jika melalui pengujian dan filtrasi yang ketat
Mereka pun tidak main-main soal keamanan. Bahan bakar dari plastik yang digunakan di Get The Fest telah melalui serangkaian uji di Lemigas, Sucofindo, dan Pertamina. Bahkan bahan bakar solar dari plastik yang digunakan untuk shuttle bus SiThole di Yogyakarta, sudah diuji dampaknya oleh Dinas Perhubungan. Semua dilakukan demi memastikan bahwa energi yang mereka gunakan benar-benar aman bagi lingkungan dan manusia.
Lebih dari sekadar mengubah plastik menjadi bahan bakar, Get The Fest ingin mengubah pola pikir masyarakat. Selama festival berlangsung, mereka menghadirkan workshop pengelolaan sampah, edukasi energi alternatif, hingga ajakan untuk memilah limbah dari rumah. Tempat sampah terpilah disediakan di setiap sudut festival, dan pengelolaan akhir dilakukan dengan sangat serius.
Selain itu, festival ini juga membuka ruang bagi UMKM lokal untuk hadir dalam pasar Get The Fest memperkuat ekonomi sirkular yang berpihak pada lingkungan dan masyarakat.

Get The Fest bukan sekadar festival musik. Ini adalah ruang perjumpaan antara kesadaran, kreativitas, dan aksi nyata. “Kami ingin menunjukkan bahwa dari plastik yang dibuang, bisa lahir energi yang menyala, menari bersama nada, dan menerangi malam-malam penuh harapan,” ucap Dimas.
Langkah ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di mana limbah menjadi sumber daya baru dan mengurangi beban lingkungan. Selain itu, Get The Fest juga menjadi ruang kolaborasi bagi UMKM lokal yang turut diundang untuk mengisi pasar festival, memperkuat ekonomi lokal berbasis keberlanjutan.
Menurut World Bank, model kolaborasi masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah adalah kunci untuk membangun kesadaran publik terhadap isu sampah dan pengelolaannya secara berkelanjutan.
Kolaborasi Menyalakan Panggung
Pendanaan festival sebagian besar datang dari kantong pribadi para pendiri dan Yayasan Get Plastic, dengan dukungan sponsor yang perlahan mulai berdatangan. Tapi bagi Dimas dan tim, keberanian memulai jauh lebih penting daripada menunggu semuanya sempurna.
Menggunakan musik sebagai bahasa universal adalah keputusan cerdas. Penelitian Journal of Environmental Communication membuktikan bahwa kampanye yang disampaikan melalui musik dapat meningkatkan kesadaran audiens hingga 35% lebih efektif dibandingkan metode kampanye biasa.

Lantas, bagaimana keberlanjutan gerakan ini? Dimas percaya kuncinya ada pada kolaborasi. Ketika masyarakat merasakan manfaat, ketika pelaku usaha lokal turut terlibat, dan ketika pesan baik tersebar luas, festival ini akan terus hidup. “Bukan hanya hidup di panggung, tetapi di hati orang-orang yang pernah datang, menyaksikan, dan tersentuh untuk ikut bergerak,” ucapnya.
Di balik dentuman musik, di balik sorak-sorai penonton, di balik lampu yang gemerlap, terselip pesan yang ingin mereka bisikkan ke dunia: bahwa dari sesuatu yang dianggap tak berharga, kita bisa menciptakan sesuatu yang menghidupkan. “Bahwa dari limbah yang dibuang, bisa lahir energi yang menyala, menari bersama nada, dan memberi harapan bagi bumi yang terus berputar,” kata Dimas.
Karena pada akhirnya, lanjut Dimas, yang paling indah dari sebuah festival bukanlah panggung yang megah, tetapi pesan yang melekat dan dibawa pulang oleh setiap orang yang hadir. Pesan bahwa perubahan itu mungkin bahkan dari benda kecil yang selama ini hanya dianggap sampah.