Kami Tumbuh di Dunia yang Lebih Panas! Suara Orang Muda dari Amazon ke Indonesia

EXISTENSIL – Di tengah suhu bumi yang kian membara dan janji negara-negara untuk menekan emisi yang kian melambat, suara itu menggema dari ruang-ruang pertemuan Conference of Children and Youth (COY20) di Belém, Brasil. Suara yang datang dari ribuan anak muda lintas benua, dari Amazon hingga Nusantara. Mereka membawa mandat yang sama: hentikan energi fosil, jangan rusak masa depan kami.

Suara itu terwujud dalam Global Youth Statement (GYS) dokumen yang merangkum aspirasi lebih dari 150 negara dan diserahkan langsung kepada pimpinan COP30 serta perwakilan UNFCCC.

Dari Indonesia, Climate Rangers menjadi satu-satunya organisasi yang hadir membawa mandat orang muda tanah air, hasil dari National Children and Youth Statement (NYS) yang melibatkan lebih dari 900 anak dan remaja dari 30 provinsi.

Proses penyusunan NYS Indonesia bukan sekadar konsultasi daring atau survei simbolik. Ia lahir dari rentetan Local Conference of Children and Youth (LCOY) yang diadakan di berbagai daerah sejak pertengahan 2025.

Dari ruang kelas di pesisir Sulawesi yang terendam air rob, hingga aula desa di Nusa Tenggara yang retak karena kekeringan, anak muda Indonesia berbicara tentang hidup mereka yang berubah oleh iklim: laut yang makin asam, tambang yang makin luas, dan udara yang kian sesak.

Dari seluruh aspirasi itu, lahir tiga tuntutan utama yang kini bergema di panggung global. Transisi energi harus adil dan berpihak pada rakyat, bukan menjadi proyek elite yang memperpanjang ketergantungan pada batu bara dan industri ekstraktif. Pendanaan iklim tidak boleh berbasis utang, melainkan berbentuk hibah dan dukungan langsung bagi komunitas rentan, dan partisipasi orang muda dan masyarakat adat adalah hak, bukan sekadar formalitas dalam forum kebijakan.

“Kami Tumbuh di Dunia yang Lebih Panas”

“Kami tumbuh di bumi yang jauh lebih panas, lebih bising, dan lebih rapuh daripada yang diwariskan orang tua kami,” ujar  Koordinator Climate Rangers Indonesia Ginanjar Ariyasuta, Senin (9/11/2025)

Bagi Ginanjar,  keadilan iklim bukan sekadar soal teknologi rendah karbon atau target emisi, tetapi soal nasib generasi. “Generasi kami sudah kehilangan banyak hal udara bersih, laut yang sehat, dan musim yang bisa diprediksi. Jika kebijakan hari ini masih terus memihak industri fosil, maka generasi setelah kami akan hidup di dunia yang lebih tidak adil daripada yang kami alami sekarang,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah peringatan dari generasi yang akan mewarisi bumi paling panas dalam sejarah modern.

Di forum COY20, suara orang muda dunia terdengar lantang: hentikan seluruh proyek batu bara sebelum 2030, akhiri pendanaan energi fosil, dan percepat transisi ke energi bersih yang demokratis dan inklusif.

GYS menyoroti ketimpangan global yang masih menganga  di mana negara maju kerap menunda tanggung jawab pendanaan iklim sambil tetap membuka investasi di sektor ekstraktif negara berkembang.

Dalam salah satu sesi bertema “Youth as Drivers for Just Energy Transition” yang diselenggarakan oleh International Energy Agency (IEA), delegasi Indonesia Fadilla Miftahul menyampaikan pesan tegas:

“Orang muda di Indonesia telah menolak pendanaan kotor dari bank untuk proyek batu bara. Di banyak desa, mereka membangun pembangkit energi terbarukan secara mandiri. Ini bukti bahwa solusi sejati bisa lahir dari komunitas, bukan dari korporasi besar,” ujarnya.

Bagi Fadilla, sistem energi yang eksploitatif bukan hanya soal sumber daya, tapi juga soal paradigma. “Sistem yang kita jalani hari ini adalah desain generasi tua. Sudah saatnya kita mendesain ulang pembangunan yang berpihak pada keberlanjutan dan kehidupan manusia, bukan sekadar keuntungan ekonomi,” ucap dia.

Dari hutan Amazon hingga pesisir Kalimantan, dari komunitas adat di Andes hingga remaja di Lombok, pesan itu sama: keadilan iklim adalah hak antargenerasi.

Apa yang disuarakan oleh pemuda Brasil tentang deforestasi dan pencemaran, sejatinya sejalan dengan jeritan anak muda Indonesia yang hidup berdampingan dengan tambang dan udara beracun dari PLTU.

“Ini bukan lagi soal utara atau selatan, tapi soal masa depan bersama. Dari masyarakat pesisir hingga pemuda adat, kami membawa mandat yang sama: wujudkan keadilan iklim demi masa depan yang adil, lestari, dan sejahtera,” kata Fadilla saat menutup sesi COY20.

Di akhir acara, dokumen Global Youth Statement secara simbolik diserahkan kepada Ana Toni, CEO COP30, dan perwakilan UNFCCC. Namun sesungguhnya, mandat itu bukan sekadar kertas, melainkan suara yang tumbuh dari akar  dari anak-anak yang sudah terbiasa melihat banjir di depan rumahnya, dari remaja yang kehilangan sawah karena tambang, dari generasi yang menolak menyerah pada warisan bumi yang retak.

Mereka bukan penerima dampak pasif. Mereka adalah aktor utama perubahan, penjaga masa depan yang kini berdiri di garis depan perjuangan iklim global. Dan di antara gemuruh pidato para pemimpin dunia, suara mereka terdengar paling jujur. “Kami bukan masa depan. Kami adalah masa kini dan masa kini sedang terbakar.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *