
EXISTENSIL -Pagi merambat di atas air yang menggenangi tanah, membingkai Desa Timbulsloko dalam bayangan yang bergetar. Embun berpadu dengan asin laut, menyisakan jejak perlawanan pada tubuh-tubuh yang bertahan.
Dahulu, desa ini adalah hamparan hijau yang tak pernah letih memberi sawah membentang, kelapa menjulang, dan kebun sayur melimpah. Kini, lautan menelan tanah perlahan, merenggut ingatan akan bumi yang subur.
Di tahun 1970-an, Timbulsloko adalah oase bagi para petani. Namun, tahun 2016 menandai kehancuran terakhir sawah terakhir yang tercatat, jejak terakhir tanah yang bisa diolah. Air laut datang, tak diundang, menjelma tamu yang tak mau pergi.

Di tahun 2025, air yang dahulu sebatas lutut kini merayap hingga pinggang. Jalanan yang pernah riuh kini sunyi, hanya bisa dilalui sampan. Musala dan pemakaman tak lagi suci, terkubur dalam pelukan ombak yang tak pernah benar-benar surut.
Tinggal di sini bukan pilihan, tapi tak pergi juga bukan keinginan. Warga bertahan dalam ketidakpastian, bukan karena ingin, tapi karena harus. Bantuan yang dijanjikan hanya angka-angka di atas kertas, terlalu kecil untuk menukar kehidupan yang telah lama berakar.
Maka, dengan tangan yang tak pernah menyerah, mereka membangun jalan panggung dari bambu dan limbah kayu Bengkirai. Rumah-rumah yang ditelan air tak mereka tinggalkan, tetapi diangkat lebih tinggi, menjadi geladak yang menyangga harapan.

Namun, bertahan saja tak cukup. Nelayan yang menggantungkan hidup pada laut kini harus menghadapi pagar-pagar yang membatasi ruang mereka. Nelayan perempuan, lebih jauh lagi, harus berjuang untuk diakui. Hak mereka, seperti daratan desa ini, semakin terkikis. Tetapi, ketabahan mereka adalah kisah yang layak didengar, narasi yang tak boleh hilang begitu saja.
Di tengah badai, ada nyala kecil yang tetap berkobar. Komunitas Fesyen Berkelanjutan EMPU, bersama Puspita Bahari, Barapuan, YLBHI-LBH Semarang, KIARA, PPNI, dan LBH APIK, menggelar sebuah panggung untuk suara-suara yang tak ingin tenggelam. ‘Gerak Budaya dan Karya Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Warga Pesisir menghadapi Krisis Iklim’ bukan sekadar peragaan busana, melainkan perlawanan dalam bentuk yang lembut dan anggun.

Di atas catwalk yang dikelilingi air, ibu-ibu nelayan dan petani akan melangkah, membawa kisah mereka dalam tenunan dan warna-warna alam.
Di acara ini, fesyen bukan sekadar estetika, tetapi simbol ketahanan. Setiap helaian kain bercerita, setiap pola merekam sejarah. Dari Sumba Timur, Semarang, Sragen, Jakarta, hingga Lombok Timur, pewarna alam dan serat-serat dari bumi menjahit asa dan perjuangan dalam satu benang merah.
Timbulsloko bukan sekadar kisah desa yang tenggelam. Ini adalah puisi yang ditulis oleh gelombang, nyanyian yang dinyanyikan oleh angin, perlawanan yang disulam dalam benang keberanian. Ini adalah bukti bahwa solusi tak selalu harus raksasa.
Kadang, jawaban ada di tangan mereka yang telah lama hidup di pesisir, yang memahami bagaimana berdamai dengan laut tanpa harus menyerah. Dengan menghargai pengetahuan lokal, kita tak hanya menyelamatkan satu desa, tetapi juga merajut masa depan yang lebih adil dan lestari bagi semua.
Co-founder EMPU Leya Cattleya mengungkapkan bahwa fesyen berkelanjutan bukan hanya soal kecantikan, tetapi juga keberpihakan. “Kain bisa menjadi bahasa, motif bisa menjadi perlawanan. Kami ingin memperlihatkan bahwa ada cerita yang lebih dalam dari sekadar busana. Ini adalah kisah tentang bertahan, tentang melawan, tentang tidak tenggelam dalam ketidakpedulian,” ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu (15/03/2024)
Selain busana, di awal pertunjukan fesyen, tarian perempuan pesisir akan menghidupkan panggung. Bukan sekadar gerakan, tetapi doa yang mengalir, ratapan yang menjelma kekuatan. “Suara-suara yang dulu tenggelam kini bergema, mengajak semua pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk melihat, mendengar, dan bergerak,” kata Leya.
Perlawanan melalui fesyen bukan hanya terjadi di Indonesia. Sosok seperti Stella McCartney, desainer asal Inggris, telah lama mengusung keberlanjutan dalam industri mode, menolak penggunaan kulit hewan dan bahan kimia berbahaya.
Di India, Ritu Kumar memadukan teknik tradisional dengan inovasi ramah lingkungan, memastikan bahwa fesyen tidak hanya menjadi alat ekspresi, tetapi juga penyelamatan warisan budaya dan lingkungan.
Sementara itu, di Amerika Latin, Maria Cornejo menegaskan bahwa produksi busana berkelanjutan adalah langkah konkret dalam menghadapi krisis iklim.
Fesyen memiliki dampak besar dalam perjuangan mengatasi krisis iklim. Industri mode merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia, dengan produksi tekstil yang menghasilkan limbah dan pencemaran air yang signifikan.
Oleh karena itu, peralihan ke fesyen berkelanjutan, seperti penggunaan bahan ramah lingkungan, teknik pewarnaan alami, serta praktik produksi yang adil dan transparan, menjadi langkah penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Gerakan seperti Fashion Revolution dan Ellen MacArthur Foundation telah mengadvokasi ekonomi sirkular dalam fesyen, menekankan pentingnya desain yang tahan lama, daur ulang bahan, dan pengurangan limbah tekstil.
Industri fesyen memiliki dampak signifikan terhadap perubahan iklim, beberapa pengaruh industri fesyen yang tidak berkelanjutan nyatanya malah memperparah derita bumi, bahwa industri fesyen bertanggung jawab atas sekitar 8% dari total emisi gas rumah kaca global, yang setara dengan hampir 4 gigaton CO₂-ekuivalen.
Produksi pakaian memerlukan jumlah air yang sangat besar. Sebagai contoh, dibutuhkan sekitar 3.781 liter air untuk memproduksi satu celana jeans, mulai dari produksi kapas hingga produk akhir
Industri fesyen menghasilkan limbah kimia yang sering dibuang ke sungai atau laut, menyebabkan pencemaran yang berbahaya bagi ekosistem air. Selain itu, penggunaan serat sintetis dalam produksi pakaian berkontribusi pada peningkatan limbah plastik yang sulit terurai.
Komunitas EMPU justru melawan arus industri fesyen yang merusak, komunitas ini awalnya adalah komunitas yang peduli dengan batik tenun ramah lingkungan yang pewarnaannya dengan bahan alami, dan dalam perkembangannya komunitas ini, konsen dan peduli untuk merangkul kaum marginal. Saat ini komunitas ini ada di sejumlah kota di Tanah Air.