Sri Wahyuni: Ratu Biogas Menyalakan Energi Berkeadilan dari Limbah

Di satu sudut desa yang sering luput dari peta pembangunan, di antara bau menyengat kandang sapi dan tumpukan sampah organik, seorang perempuan berdiri tegak dengan senyum hangat dan mata yang bersinar oleh keyakinan: limbah bukanlah akhir dari segalanya.

 

EXISTENSIL – Bagi Sri Wahyuni, CEO PT Swen Inovasi Transfer (Swen IT)  limbah adalah awal dari sebuah revolusi sebuah sumber energi, penghidupan, dan keadilan sosial yang ia bangun perlahan, hari demi hari, tabah tanpa tepuk tangan.

“Saya hanya ingin menciptakan energi yang bisa diakses siapa saja, tanpa harus merusak apa-apa,” ucapnya tegas, kepada Existensil Sabtu (7/06/2025)

Sebagai akademisi dengan gelar doktor di bidang pengelolaan lingkungan dan dosen manajemen lingkungan, Sri Wahyuni bisa saja memilih jalan nyaman di ruang kuliah ber-AC atau lembaga donor yang gemerlap. Dosen Universitas Pakuan ini  mendirikan PT Swen Inovasi Transfer (Swen IT) pada 2007 menunjukkan satu hal: ia tidak sedang mencari panggung, tapi perubahan yang bisa digenggam rakyat kecil.

Berbekal teknologi reaktor biogas berbahan fiberglass bahan yang biasa digunakan untuk kapal laut Sri mengolah kotoran ternak dan sampah dapur menjadi gas, pupuk, hingga pestisida alami. Model ini tak hanya minim emisi dan limbah, tapi juga minim konflik. Tidak ada lahan yang harus dikorbankan. Tidak ada hutan yang ditebang. Tidak ada warga yang digusur atas nama “energi hijau”.

“Kalau demi energi bersih tapi malah menggusur petani dan merusak hutan, itu bukan solusi. Itu ketidakadilan,” ujarnya.

Baginya, energi tak seharusnya menjadi komoditas mewah yang hanya bisa dinikmati kota. Energi adalah hak dasar. Harus bisa dimiliki, dipahami, dan dikendalikan oleh rakyat sendiri.

Melalui Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) di Bogor, Sri Wahyuni membuka pintu seluas-luasnya bagi para petani, santri, hingga ibu rumah tangga untuk belajar tentang biogas dan pertanian berkelanjutan. “Swen IT bukan hanya perusahaan, tapi ekosistem pembelajar,” jelasnya.

Antara Sanjungan dan Kebisuan Negara

Meski ide-idenya cemerlang dan solusinya terbukti nyata, Sri Wahyuni sering menemukan kenyataan pahit: ia lebih sering dijadikan ikon daripada didengar. Diundang ke forum-forum energi, disanjung sebagai “Kartini Energi” atau “Ratu Biogas Indonesia”, tapi ketika waktunya menyusun anggaran dan strategi, namanya lenyap dari dokumen resmi.

“Disanjung, iya. Tapi idenya? Berhenti di ruang seminar. Pemerintah kita belum benar-benar paham, atau belum siap, untuk menjadikan biogas sebagai bagian dari strategi energi nasional,” katanya getir.

Panel biogas PT SWEN Inovasi Trasfer (Dok.Ist)

Dalam satu tahun, negara bisa menggelontorkan Rp42 triliun untuk subsidi LPG, namun tak mampu menyisihkan Rp1 triliun untuk sistem biogas yang lebih mandiri, murah, dan lestari. “Apakah itu karena biogas tidak seksi secara politik? Atau karena biogas dikerjakan rakyat, bukan korporasi besar?” tanya Sri.

Transisi Energi: Janji yang Tak Sama Rasa

Di panggung internasional, pemerintah Indonesia bicara lantang soal transisi energi dan net-zero emissions. Tapi di lapangan, proyek-proyek energi terbarukan skala besar justru menorehkan luka: dari konflik agraria hingga perusakan ekosistem. Transisi tanpa keadilan sosial, bagi Sri, hanyalah bentuk kolonialisme baru yang dibungkus jargon hijau.

“Transisi energi harus inklusif. Kalau tidak melibatkan masyarakat akar rumput, itu bukan transisi, tapi perampasan,” katanya.

Sri Wahyuni membuktikan bahwa solusi energi bisa datang dari bawah. Dari kampung. Dari kotoran. Dan dari perempuan. Dalam sunyi, ia menyalakan lentera harapan bahwa keadilan ekologis bukan hanya mungkin, tapi sudah terjadi asal  mau melihat dan mendengarnya.

Sri Wahyuni tidak hanya sedang membangun bisnis. Ia sedang membangun sistem. Bukan hanya teknologi, tapi cara berpikir baru: bahwa energi masa depan tidak harus mahal, tidak harus datang dari megaproyek, dan tidak harus merusak demi pembangunan.

Ia terus berjalan mendampingi komunitas, menjalin kolaborasi dengan sekolah dan pesantren, hingga menjajaki apartemen-apartemen kota. Energi harus hadir di mana pun manusia tinggal.

Di antara pujian yang hampa dan kebijakan yang tuli, Sri Wahyuni berdiri sebagai pelita: perempuan yang menyulap kotoran jadi cahaya, bukan hanya secara teknis, tapi secara etis dan politis.

Sri bukan sekadar “inspirasi”, ia adalah kritik hidup terhadap sistem yang sering melupakan rakyatnya. “Mungkin, seperti limbah, kita pun harus mulai memproses ulang apa arti pembangunan, tujuan akhirnya rakyat sejahtera dan berdaya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *