Nyala Puisi dan Perlawanan Azizah Zubaer dalam Ijablah Aku

Azizah Zubaer saat memberi sambutan dalam Pementasan Puisi di Taman Ismail Marzuki, Minggu (23/02/2025) (Foto: Ist)

EXISTENSIL-Di tengah arus budaya patriarki yang terus mengalir deras, lahirlah Ijablah Aku, sebuah kumpulan puisi yang tak hanya menjadi wadah refleksi, tetapi juga perlawanan. Bukan sekadar rangkaian kata, melainkan nyala batin yang mengupas posisi perempuan khususnya penyair di dalam konstruksi sosial yang masih belum memberi ruang sinergis bagi mereka di luar ranah domestik.

Dan Tuhan pun tersenyum

Pada pemberontakan makhluk-Nya

Mengibas sengit

Sayap Cinta

Persetan orang-orang membenci

Aku tak takut

Bahkan karma

laknat dan kutuk batu

Menggelinding

Rubuhkan penjara sejarah

Batas fana di kulit

Karena kita melukis kekal sorga

dalam dada sendiri

Begitulah sepetik puisi dalam buku puisi Ijablah Aku karya Azizah Zubaer.

Penyair di balik Ijablah Aku, Azizah Zubaer, bukanlah nama yang asing dalam dunia sastra dan aktivisme. Lahir di Demak, 20 Agustus 1983, ia mengawali perjalanan intelektualnya di Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, sebelum akhirnya menyelesaikan studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2006.

Selain dikenal sebagai pecinta sastra dan seni, Azizah juga aktif dalam berbagai gerakan keagamaan dan sosial, mulai dari Conference on Religion and Peace (CRP) 2007, Pusat Studi Pesantren (PSP) 2015, hingga Pimpinan Pusat Fatayat NU (2022-2027).

Sebuah buku puisi karya Azizah Zubaer Ijablah Aku (Foto: Existensil)

Ia tergabung dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dan kerap terlibat dalam forum interfaith lintas negara. Sejak 2010, namanya mulai bersinar di dunia sastra, hingga puisinya lolos kurasi dalam Festival Puisi Internasional Tegal Mas Island dan membawanya menjadi penyair tamu di Lampung pada tahun 2020.

Dalam ranah kesusastraan Indonesia, perempuan penyair sering kali berhadapan dengan dinding yang membatasi suara mereka. Jika kita menelusuri jejak sejarah, nama-nama seperti Nh. Dini, Toeti Heraty, dan Dorothea Rosa Herliany adalah beberapa contoh yang berhasil menembus batasan gender dalam sastra.

Seperti Ijablah Aku, karya-karya mereka membawa pergulatan batin perempuan terhadap budaya yang sering kali mendikte peran mereka di masyarakat. Nh. Dini, misalnya, dalam novel Pada Sebuah Kapal mengupas perjuangan perempuan melawan keterbatasan sosial, sementara Toeti Heraty dalam puisi-puisinya menampilkan kritik tajam terhadap relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

“Inspirasi lahirnya Ijablah Aku bermula dari refleksi tentang posisi perempuan dalam budaya patriarki. Secara faktual, intelektual, dan moral, mereka belum sepenuhnya mendapat tempat yang setara di ruang-ruang non-domestik,” ujar Azizah Zubair kepada Existensil, Kamis (06/03/2025)

Penyair Azizah Zubaer (Foto: Ist)

Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan manifes dari perjalanan panjangnya sebagai perempuan yang bertarung dalam ranah sastra, keagamaan, dan sosial.

Bagi Azizah, proses melahirkan buku ini adalah keniscayaan. “Puisi, dengan sifatnya yang intim dan privat, tidak pernah lahir dari ruang kosong. Saya memeras perjalanan personal menjadi tata nilai baru yang unik,” katanya.

Ia menambahkan bahwa budaya lokal dengan nilai-nilai kearifan yang kaya sangat berpengaruh dalam bentuk dan cara pengungkapan karyanya.

Secara filosofis, Azizah mengungap Ijablah Aku adalah sebuah upaya pembebasan dari alam benda menuju alam metafisis, menembus batas-batas badani yang selama ini membelenggu perempuan.

Buku ini berbicara tentang perjuangan perempuan, baik dalam ranah domestik maupun sosial, sebuah kesaksian atas daya juang yang tak kenal surut. Hal ini sejalan dengan konsep feminisme eksistensial ala Simone de Beauvoir, yang menegaskan bahwa perempuan harus keluar dari belenggu peran-peran tradisional yang menghambat aktualisasi diri mereka.

Puisi dalam Ranah Pertunjukan

Mengawinkan puisi yang biasa menari di atas kertas lalu memindahkannya ke panggung pertunjukan teater menjadi keunikan yang membawa ke sebuah dimensi batin yang belum wajar. “Proses kreatif dalam melahirkan buku ini melewati berbagai dinamika. Ada saatnya menemui kebuntuan imaji, ada pula momen di mana kata-kata mengalir begitu deras,” ungkapnya.

Lab Teater Ciputat mengawinkan dengan apik puisi menjadi punya spektrum yang lebih luas, gerak teater membawa penonton masuk ke dalam pengalaman lain yang belum terbayangkan, Sutradara Holifah Wira mewujudkan ruang imaji penyair menggunakan media bambu dan gerak unik pemain, dengan kombinasi multimedia, musik dan bunyi unik dari hentakan bambu. Dalam perspektif yang spesifik, pohon bambu identik dengan pengalaman hidup dan ketubuhan perempuan.

Bagi Azizah, puisi tak boleh hanya berhenti pada kata. Ia percaya bahwa ada cara lain untuk memperluas pemahaman terhadap puisi, yakni melalui kolaborasi lintas disiplin agar puisinya dapat dinikmati secara visual.

Ketika Ijablah Aku dipentaskan 23 Februari 2025 di Taman Ismail Marzuki, tantangan baru muncul. Bagaimana menafsirkan ruh puisi agar tetap selaras dengan konteks penciptaannya? Azizah memberikan kebebasan pada sutradara Holifah Wira untuk menerjemahkan puisinya, tetapi tetap ikut terlibat dalam aspek artistik, memastikan esensi karyanya tetap terjaga. “Sangat menantang. Butuh imajinasi dan kepekaan untuk menerjemahkan puisi ke dalam pertunjukan, Holifah Wira mampu membaca dan menembus batas imajinasi saya,” ujarnya.

Ijablah aku, dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Minggu (23/02/2025). (Foto: Devi/Existensil)

Namun, ketika pementasan akhirnya terwujud, ada haru yang membuncah sejak dari itu, sastra dan teater muncul sebagai aliran baru. “Ada semacam aliran yang menjadikan kita tiba pada sebuah perasaan akan kepenuhan eksistensial,” tambahnya.

Lebih dari sekadar karya seni, Ijablah Aku ingin menghadirkan kesadaran publik tentang ketangguhan batin perempuan dalam menghadapi suka duka kehidupan. “Perempuan tak mudah jatuh meski berkali-kali patah,” tegas Azizah.

Dalam dunia sastra dan seni pertunjukan, perempuan kini mulai memainkan peran yang semakin signifikan. Mereka tampil, berbicara, menulis, dan berkarya dengan keberanian yang dulu mungkin tak terbayangkan.

Ijablah Aku adalah bagian dari perjalanan itu sebuah suara yang menegaskan bahwa perempuan memiliki tempat yang sama dalam industri sastra dan seni. Jika ada yang membedakan, itu hanyalah cara ungkap, karena perempuan membawa kepekaan yang khas, menelisik dunia dengan sensitivitas yang tajam.

Ijablah Aku, pentas di Taman Ismail Mazuki, Minggu (23/2/2025) (Foto: Devi/Existensil)

Kini, perempuan penyair, kata Azizah semakin berani meradikalisasi bentuk pengucapan dalam kaidah sastra modern. Nama-nama seperti Rupi Kaur, Oka Rosmini, hingga Nawal El Saadawi menjadi suluh yang membakar imajinasi, memantik keberanian untuk terus menulis, terus bersuara.

Seperti halnya Audre Lorde yang menegaskan bahwa puisi adalah tindakan politik, Azizah Zubair juga meyakini bahwa sastra adalah cara untuk membangun kesadaran kritis dan memperjuangkan perubahan sosial.

Azizah pun menegaskan bahwa sastra dan seni pertunjukan tidak hanya menggugah cara berpikir, tetapi juga cara merasa. “Saya akan menempuh jalan selanjutnya agar dapat melahirkan karya-karya baru yang lebih inspiratif,” pungkasnya.

Karena pada akhirnya, kata Azizah, membaca dan menulis adalah latihan jangka panjang, dan tanpanya, tak mungkin ada kata yang lahir untuk menjadi nyala.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *