Di suatu senja yang ganjil, ketika lampu-lampu kota mulai menggigil di bawah langit yang makin mahal, suara itu datang bukan dari panggung pidato, bukan pula dari rapat anggaran. Ia datang dari rice cooker yang letih menanak janji, dari panci yang tak kunjung mendidih, dari dispenser yang kehabisan harapan. Suara itu bernama puisi. Dan yang menuliskannya, Dodo Lantang penyair dan Akademisi yang mencatat zaman bukan dengan angka, tapi dengan getar-getar lirih dari ruang-ruang domestik yang sunyi namun sarat makna.
EXISTENSIL – Sabtu (24/05/2025) sore di JPW Garden Café Depok, Jawa Barat tak hanya kopi yang diseduh, tetapi juga kesadaran. Sejumlah kursi penuh oleh akademisi, seniman, jurnalis, dan warga yang ingin tahu: seperti apa rupa puisi yang diberi tajuk Mentang-Mentang Oligarki?
Buku puisi karya Dodo Lantang ini diluncurkan. Wakil Walikota Depok, Chandra Rahmansyah, membuka acara dengan ucapan yang tak kalah reflektif. “Buku ini adalah ilmu, meski disclaimer-nya, ini bukan kritik. Tapi saya suka dikritik. Bahkan hipotesa saya juga sebagai oligarki,” ucapnya sembari tersenyum, mengundang tawa.

Mentang-Mentang Oligarki bukan sekadar antologi puisi. Ini bentuk dokumentasi kultural atas ketimpangan sosial yang kian mengeras. “Puisi-puisi ini lahir dari kegelisahan batin saya terhadap ketidakadilan yang menampakkan wajahnya dalam berbagai bentuk baik di pusat kekuasaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.” Kata Penyair Dodo Lantang kepada awak media.
Dodo menyebut proses kreatif buku ini terinspirasi dari percakapan dengan kawan-kawan sesama jurnalis dan akademisi. “Ini adalah bentuk perlawanan kecil saya. Kalau saya tak bisa berteriak, saya akan menulis,” ujarnya.
Salah satu puisinya, Nasihat Oligarki kepada Ikan, terasa nyaring saat menyentil realitas mutakhir: “Siapa yang lebih berhak atas lautan? Tentu yang punya kuasa, yang sanggup menukar samudera dengan angka.”
Puisi ini seolah merespons langsung tragedi pagar laut Pantai Indah Kapuk (PIK), yang pada awal 2024 memicu protes publik karena menutup akses masyarakat ke laut milik bersama yang kini diprivatisasi oleh pengembang properti elit.
Buku ini kaya dengan metafora benda-benda domestik: rice cooker, microwave, meja makan, dispenser, hingga kabel charger yang diam-diam memendam kritik. Menurut pendekatan semiotika Peirce, benda-benda ini bukan hanya ikon keseharian, tetapi simbol dari struktur kekuasaan yang menindas rakyat secara diam-diam.

Yuri Lotman, dalam The Structure of the Artistic Text, menyebut teks sastra sebagai sistem sekunder yang memetakan relasi budaya. Puisi Dodo, misalnya dalam Demokrasi Panci Kosong, menjadikan peralatan dapur sebagai ruang simbolik yang merepresentasikan absennya keadilan sosial. Ini adalah tanda-tanda sosial yang mengungkap bagaimana kekuasaan mengatur makanan, tubuh, hingga mimpi rakyat.
Sedangkan melalui lensa Roland Barthes dalam Mythologies, terlihat bagaimana Dodo membongkar mitos-mitos pembangunan, investasi, dan kemajuan yang sering dibungkus dalam kata-kata manis, padahal sejatinya menindas.
Menariknya, Dodo menyatakan bahwa buku ini tidak dijual secara komersial. “Kalau ada yang butuh, akan saya beri. Literasi bukan soal uang,” tegasnya.
Ini adalah kritik langsung terhadap praktik elitisme dalam distribusi ilmu. Ia bahkan membawa semangat ini ke ruang kelas, mendorong mahasiswa menulis dan menerbitkan puisi sebagai bagian dari pendidikan yang membebaskan.
Sebagaimana pesan gurunya, Budayawan Putu Wijaya, yang ia kutip: “Menulislah saat tidak ingin menulis. Inspirasi tidak perlu ditunggu, tapi diciptakan”.
Sastra Sebagai Forum Demokrasi
Sesi diskusi dalam bedah buku, menghadirkan nama-nama seperti Prof. Wahyu Wibowo, Prof. Firdaus Syam, Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Nasional Somadi Sosrohadi, dan Sastrawan Senior Fikar W. Eda. Mereka menyambut antusias puisi-puisi Dodo yang dianggap sebagai bentuk perlawanan simbolik.

Buku puisi Mentang-Mentang Oligarki karya Dodo Lantang adalah peta kecil yang menuntun kita menyusuri lorong gelap kekuasaan tanpa perlu meneriakkan revolusi, cukup dengan menyentil nalar, membisikkan satire, dan mengajak kita pulang ke nurani yang sering terasing di negeri sendiri.
“Yang lapar tak selalu miskin,” tulis Dodo dalam puisi Mie Instan di Meja Makan. Di situ kita temukan potret getir seorang manusia yang terlalu lelah untuk memasak cita-cita, hingga memilih menyeduh mimpi dengan air nyaris mendidih. Lapar dalam puisi ini bukan sekadar perut kosong ia adalah metafora untuk kebijakan publik yang gagal matang, untuk keadilan yang dibungkus plastik dan dijual kembali dalam etalase kapitalisme.
Dalam tradisi semiotika Charles Sanders Peirce, benda-benda di dapur yang ditulis Dodo, rice cooker, talenan kayu, kulkas, kabel charger bukan sekadar ikon benda mati, melainkan simbol kompleks dari sistem sosial yang membekukan harapan. Setiap objek menjadi “indeks” penderitaan yang nyata, dan sekaligus “simbol” ketimpangan yang telah diterima sebagai kebiasaan.
Dalam puisi Negara di Dalam Lemari, Dodo menyodorkan ironi yang tak bisa diabaikan. Negara, katanya, terlalu besar untuk masuk ke lemari ibu tapi terlalu kecil saat diminta tanggung jawab. Lemari itu menyimpan bukan hanya kain kafan dan amplop kosong, tapi juga memori kolektif tentang rakyat yang hidup dari ketiadaan, dari “gantung harapan di kawat yang mulai berkarat”.
Dalam bab ketiga buku ini, kita menjumpai dunia yang benar-benar absurd. Ada Undang-Undang Oligarki yang tak tertulis namun ditaati. Ada Oligark Membaca Puisi di podium berkarpet merah, sambil mengusap kening dengan selembar saham. Ada Oligark Dangdutan di atas panggung rakyat, diiringi lagu “Keadilan Sosial” yang ditaburi PHK dan subsidi kemiskinan.
Dodo menampilkan opera kekuasaan sebagai semacam panggung sandiwara, sebagaimana dikatakan Lotman dalam The Structure of the Artistic Text, di mana teks artistik merekam bukan hanya isi, tapi struktur budaya yang menyelubunginya. Puisi-puisi Dodo adalah teks-teks alternatif yang menggeser pusat narasi dari istana ke kos-kosan, dari parlemen ke pasar, dari kementerian ke kontrakan.
Puisi Jangan-Jangan Kita Adalah Oligarki menjadi perenungan yang menohok. Bahwa mungkin, oligarki bukan hanya sistem, tapi juga cara pikir yang menular. “Kita yang menggali lubang, lalu pura-pura jatuh ke dalamnya,” tulis Dodo. Di sini, kritik berubah arah menyasar ke dalam diri sendiri, pada kemunafikan yang tersembunyi di balik retorika moral.
Dalam bait-bait terakhir, kita sampai pada puisi Puasa Para Oligarki, di mana para pemilik kuasa bersolek religius, membaca ayat sambil menyemprotkan parfum ketamakan, dan menyuapi rakyat dengan takjil kebijakan hasil mark-up. Ini bukan lagi sekadar puisi, melainkan satire yang tajam, seperti lelucon pahit yang membuat kita tertawa sambil menggertakkan gigi.
Puisi memang tak akan menggulingkan kekuasaan. Tapi seperti yang tertulis di halaman pembuka buku ini: “Puisi tidak akan menggulingkan oligarki. Tapi puisi bisa membuat mereka kehilangan tidur.” Dalam dunia yang dipenuhi retorika palsu dan statistik manipulatif, Mentang-Mentang Oligarki hadir sebagai suara alternative yang tak bersuara lantang, tapi terus berdetak di dada pembacanya.
Dan barangkali, seperti kata Stuart Hall, perubahan budaya tak harus lewat pidato besar atau revolusi heroik. Cukup lewat bisikan paling lirih bisikan yang ditulis Dodo lewat puisi-puisi ini. Dan kita pun diajak merenung: masihkah kita manusia merdeka, atau telah jadi katalog dalam inventaris meja makan para oligark?
Judul Buku: Mentang-Mentang Oligarki (2025)
Penulis: Dodo Lantang
Editor: Julian Hakim
Desain Sampul: Dzimar
Tata Letak Isi: Taksa
Penerbit:
PT Merah Putih Panji Pustaka
Jl. Salak I No. 79, Abadijaya, Sukmajaya, Depok – 16417
Website: www.merahputihpanjipustaka.com
Email: admin@merahputihpanjipustaka.com