Gen Z Melawan Krisis Iklim, Menolak Dijadikan Formalitas Kebijakan

EXISTENSIL – Di ruang daring yang dihadiri puluhan anak muda dari berbagai daerah, suara generasi Z terdengar lantang menuntut satu hal sederhana tapi mendasar, keterlibatan yang tulus dan bermakna dalam menghadapi krisis iklim. Bagi mereka, pelibatan anak muda tak boleh lagi sekadar formalitas atau simbolisme belaka.

Diskusi bertajuk “Generasi Z Menagih Tanggung Jawab Iklim”, yang diselenggarakan oleh Justice Coalition for Our Planet (JustCOP) dalam program Nexus Tiga Krisis Planet, menjadi ruang tempat mereka berbicara tanpa basa-basi.

Dua suara utama hari itu datang dari dua ujung Indonesia Dinah Rida dari KATA Indonesia, mewakili anak muda perkotaan membawa kisah kontras tentang kesenjangan pelibatan dan dampak nyata krisis iklim. “Anak muda punya otoritas untuk menentukan arah kebijakan terkait krisis iklim,” tegas Dinah dari keterangan tertulis, Kamis (6/11/2025)

Dinah menilai, partisipasi generasi muda dalam isu iklim selama ini hanya berhenti di permukaan. Mereka sering diundang untuk sekadar hadir, difoto, lalu dilupakan setelah acara selesai. Dinah menyebut hal itu sebagai bentuk pelibatan simbolik yang tak memberi ruang bagi anak muda untuk benar-benar berkontribusi dalam pengambilan keputusan. “Minimnya akuntabilitas membuat anak muda kurang terinformasikan soal pendanaan dan kebijakan iklim yang sedang berjalan,” ujarnya.

Bagi Dinah, pemerintah seringkali menyamaratakan dampak krisis iklim bagi semua anak muda, padahal realitasnya jauh berbeda. “Apa yang dihadapi anak muda di Jakarta tidak sama dengan yang dialami teman-teman di pelosok, kebijakan iklim yang baik seharusnya peka terhadap konteks lokal dan sosial,” kata dia.

Generasi Z menuntut pemerintah agar tidak lagi melihat mereka sebagai ‘generasi penerus’ semata, tapi aktor perubahan masa kini. Mereka ingin keterlibatan yang genuine dan strategis dua kata yang berkali-kali diulang sore itu. “Bicara soal masa depan tanpa melibatkan generasi yang akan menjalaninya adalah bentuk ketidakadilan,” ujar Dinah.

Elsy Grazia dari Yayasan Pikul, Kupang, Nusa Tenggara Timur terdengar getir. Ia bercerita tentang Siklon Seroja, badai dahsyat yang menghantam Nusa Tenggara Timur pada April 2021. Angin dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam menghancurkan rumah, ladang, dan perahu nelayan. Hingga kini, luka itu masih terasa. “Banyak petani dan nelayan muda kehilangan penghidupan,” tutur Elsy. “Mereka terpaksa beralih profesi tanpa skill yang memadai,” jelas dia.

Kapal terbakar akibat hantaman badai Seroja pada April 2021 di Lembata (Foto: Ika)

Di Pulau Sumba, kata Elsy, tanaman lokal yang selama ini menjadi sumber pangan dan simbol budaya mulai lenyap. Tanaman-tanaman itu memiliki nama khas dalam bahasa daerah, dan bila punah, bahasa serta identitas lokal ikut terkikis. “Penyusutan ini bisa membuat generasi muda melupakan kearifan lokalnya sendiri,” ujarnya.

Kondisi tersebut, tambah Elsy, diperparah oleh proyek-proyek besar yang merampas ruang hidup masyarakat. Salah satunya proyek geotermal di Poco Leok, Pulau Flores, yang dikerjakan oleh PLN. “Proyek itu tidak transparan dan mengancam sumber kehidupan warga,” tegasnya.

Elsy mendesak pemerintah untuk mengajak bicara anak muda dan kelompok rentan setempat secara tulus, bukan sekadar mengundang mereka ke forum formal. “Pelibatan yang bermakna itu ketika suara kami benar-benar didengar, bukan hanya dicatat,” tukasnya.

Krisis iklim telah menjadi panggung ujian bagi generasi Z Indonesia bukan hanya tentang kesadaran ekologis, tapi juga soal distribusi kekuasaan. Dalam forum JustCOP itu, mereka tidak hanya berbicara tentang pohon dan karbon, tapi tentang struktur keputusan yang timpang, tentang bagaimana suara mereka kerap dikecilkan di ruang-ruang kebijakan yang didominasi elit.

Agar diketahui, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim (JustCOP) merupakan jaringan masyarakat sipil yang memperjuangkan tata kelola iklim berbasis hak dan demokratis, dengan menempatkan komunitas terdampak sebagai aktor utama perubahan.

Diskusi ini hanyalah satu dari rangkaian upaya mereka memperluas percakapan publik tentang keadilan iklim  percakapan yang kini, dengan lantang, digerakkan oleh generasi muda yang menolak hanya menjadi penonton.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *