Ramalan Madilog, Algoritma dan Pencarian Kesadaran Manusia

Tan Malaka sudah menulis tentang bahaya ketika manusia menyerahkan kesadarannya kepada sistem. Dalam Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), ia memperingatkan bahwa bangsa yang kehilangan “kesadaran berpikir” akan menjadi budak bukan budak penjajahan fisik, tapi budak cara berpikir yang ditanamkan oleh kekuatan luar.

“Manusia yang tidak berpikir dengan otaknya sendiri, ialah manusia yang telah menyerahkan jiwanya,” tulis Tan Malaka.

Seandainya Tan Malaka masih hidup hari ini, barangkali ia akan tersenyum getir melihat manusia modern menunduk di depan layar, seperti pekerja di ladang pabrik algoritma. Ia akan berkata bahwa “kesadaran palsu” kini tidak lagi datang dari penjajahan bangsa, melainkan dari penjajahan data.

Ia mungkin menulis buku baru: Madilog 2.0: Materialisme, Digitalisme, dan Logika Algoritmik.

Ia akan menganalisis bahwa algoritma adalah bentuk baru dari “alat produksi” dalam kapitalisme digital. Bedanya, kali ini yang diproduksi bukanlah barang, melainkan manusia itu sendiri: perilakunya, emosinya, bahkan kebenciannya.

Dan seperti Karl Marx, Tan akan mengingatkan bahwa ketika alat produksi dikuasai segelintir korporasi raksasa, manusia berubah menjadi komoditas yang bernafas.

Dalam gaya khasnya yang logis sekaligus berani, Tan mungkin akan menulis:

“Dulu buruh menjual tenaga. Kini rakyat menjual perhatian. Dan perhatian itu dibeli oleh algoritma.”

Tan Malaka akan melihat algoritma sebagai perpanjangan dari kapitalisme yang lebih canggih — sistem yang tidak hanya menguasai ekonomi, tapi juga kesadaran.
Dan sebagaimana dalam perjuangan politik, ia akan menyeru agar kesadaran kritis rakyat digital dibangkitkan melalui pendidikan berpikir rasional, bukan sekadar keterampilan teknis.

Ia akan berkata, sebagaimana dulu ia menulis dalam Madilog, bahwa “akal adalah senjata.”
Dan di era algoritma, senjata itu bukan lagi senapan, melainkan kemampuan berpikir bebas dari logika pasar dan logika mesin.

Melawan dengan Kesadaran

Kreator yang menulis puisi di TikTok, yang membaca sajak di tengah kebisingan iklan, yang memilih sunyi di antara viral mereka barangkali tak sadar sedang meneruskan warisan Tan Malaka: melawan dengan kesadaran.

Mereka menolak tunduk pada algoritma, bukan dengan membencinya, tapi dengan menolak tunduk pada nilai-nilai semu yang dibawanya.

Karena algoritma tak bisa menafsir makna; ia hanya mengulang pola.
Dan manusia, kalau masih berpikir, selalu punya ruang untuk keluar dari pola.

Kita hidup di zaman di mana setiap klik adalah pilihan ideologis kecil.
Dan mungkin yang paling berani bukanlah mereka yang viral, melainkan mereka yang tetap menulis meski algoritma tak peduli.

Karena, seperti kata Tan Malaka, “Berpikir bebas adalah pangkal segala kemerdekaan.”

Dan sebelum algoritma mengenali kita, semestinya kita dulu yang mengenali diri sendiri.

Jika dulu “kekuatan luar” itu adalah kolonialisme dan dogma, kini wujudnya adalah algoritma.
Ia mengatur apa yang kita lihat, kapan kita marah, apa yang kita cintai  sambil membuat kita merasa itu semua adalah pilihan kita sendiri. Ini kolonialisme versi baru: kolonialisme kesadaran.

Pertanyaan “mana dulu, perilaku manusia atau algoritma?” kini terasa lebih penting daripada sekadar teka-teki. Ia menyingkap kenyataan baru tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan perilaku manusia di era digital: kita, atau sistem tak kasat mata yang menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, dan percayai?

Dinda (nama samaran), seorang konten kreator pendidikan, menghabiskan dua tahun membuat video reflektif tentang literasi digital dan kesetaraan gender. Ia tekun, konsisten, dan risetnya dalam. Namun, hasilnya tidak pernah “naik”.

“Algoritmanya nggak suka konten saya,” ujarnya lirih.

Akhirnya, Dinda membeli followers agar sistem mengenalinya sebagai “relevan”.

Fenomena seperti ini disebut banyak peneliti sebagai algorithmic anxiety  kecemasan sosial akibat ketidakpastian logika algoritmik (Bucher, 2018). Para kreator berjuang bukan hanya melawan pasar, tetapi melawan mesin yang menentukan siapa yang layak terlihat.

Awalnya, algoritma dirancang untuk mencerminkan perilaku manusia. Tapi seperti dikatakan Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019), algoritma kini bukan lagi cermin, melainkan pengendali perilaku. Ia tak hanya mengamati apa yang kita suka, tapi memprediksi dan mengarahkan tindakan agar selaras dengan kepentingan ekonomi digital.

Kita tidak lagi sekadar mencipta untuk manusia, tetapi menyesuaikan diri dengan logika sistem yang diatur oleh engagement.

Kreator belajar kapan waktu terbaik mengunggah video, gaya bahasa paling diminati, atau bentuk ekspresi yang “aman” bagi algoritma. Kreativitas tak lagi sepenuhnya bebas; ia bernegosiasi dengan logika platform yang menjadi “penguasa simbolik” baru (Couldry & Mejias, 2019).

Mengembalikan Kemanusiaan dalam Algoritma

Seorang kreator muda di Jakarta, sebutlah namanya Rian, telah menghabiskan dua tahun hidupnya membuat video edukasi sosial. Ia bangun subuh, menulis naskah dengan hati-hati, mengedit hingga larut malam. Namun jumlah pengikutnya tak kunjung naik. Ia melihat temannya yang menari sambil bercanda soal politik melonjak sampai ratusan ribu views dalam seminggu. Rian menyerah. Ia membeli followers. Ia tertawa getir saat berkata: “Mungkin yang palsu justru lebih nyata di mata algoritma.”

Di sinilah algoritma menunjukkan wajahnya: bukan lagi alat bantu distribusi, melainkan penentu kebermaknaan. Seperti kata Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism, algoritma adalah ekonomi yang menukar perilaku manusia menjadi data dan data menjadi laba. Ia tidak menunggu perilaku manusia; ia mengarahkannya.

 Disrupsi media membuat algoritma menjadi infrastruktur kekuasaan yang membentuk cara redaksi bekerja, cara berita dibaca, bahkan cara kebenaran dipersepsikan. Namun, menaklukkannya bukan berarti memusuhinya, melainkan memahami logikanya untuk mengembalikan arah pada tujuan manusiawi.

Seperti dijelaskan Tarleton Gillespie dalam Custodians of the Internet (2018), algoritma bekerja dengan logika teknis dan ekonomi yang spesifik. Pelajari polanya jam aktif, tren, minat audiens  tapi jangan biarkan ia mengatur substansi. Gunakan data untuk memahami manusia, bukan untuk meniru mesin.

Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death (1985) memperingatkan bahwa setiap medium membentuk cara berpikir. Di era disrupsi, jangan hanya mengandalkan satu platform. Gunakan newsletter, podcast, longform, atau forum komunitas untuk memperluas konteks dan kedalaman.
Dengan begitu, kamu menciptakan ekologi media pribadi  tidak bergantung pada satu sistem algoritmik.

Dari Disrupsi ke Transformasi

Donna Haraway dalam A Cyborg Manifesto (1985) menggambarkan manusia dan mesin sebagai entitas yang saling membentuk. Kita kini hidup sebagai “cyborg perilaku”  makhluk yang belajar dari mesin sekaligus mengajarinya berpikir. Namun, hanya manusia yang mampu memberi makna dan nilai moral pada tindakan.

Maka, menaklukkan algoritma berarti mengembalikan kedaulatan kemanusiaan dalam komunikasi. Karena pada akhirnya, bukan siapa yang paling sering muncul di beranda yang diingat, melainkan siapa yang paling dalam menyentuh kesadaran publik.

Di tengah disrupsi, konten yang berdampak bukan yang paling banyak dilihat, tapi yang paling lama diingat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *