Berburu Takjil Impulsif, Bumi Berisiko Makin Panas saat Ramadan

Komposting dari makanan sisa (Foto: Pixabay)

EXISTENSIL – Saat bedug maghrib berkumandang, kehangatan berbuka puasa menyelimuti rumah Nurul (38). Aroma kolak pisang dan gorengan yang baru matang memenuhi dapurnya. Di meja makan, tersaji beragam hidangan: nasi dengan lauk komplet, sup hangat, serta aneka takjil menggoda. Namun, ketika malam berganti, beberapa piring masih terisi makanan yang tak habis disantap.

Fenomena seperti yang dialami Nurul bukanlah kasus tunggal. Bulan Ramadan kerap diwarnai dengan euforia menyajikan berbagai macam hidangan lezat. Namun, di balik kenikmatan itu, ada ancaman food waste atau pemborosan makanan yang terus meningkat setiap tahunnya.

Nurul mengakui bahwa kebiasaan menyajikan makanan berlimpah sudah menjadi tradisi yang sulit dihindari. “Kalau siang lihat makanan di media sosial atau membayangkan makanan favorit, rasanya ingin masak semuanya. Tapi pas buka, baru beberapa suap sudah kenyang,” katanya.

Takjil juga menjadi penyumbang utama food waste selama Ramadan. “Setiap hari pasti ada kolak, es buah, atau gorengan. Kadang sudah kenyang hanya dengan teh manis, akhirnya takjil nggak dimakan,” tuturnya. Sabtu (15/03/2025)

Berburu takjil jelang buka puasa, gorengan masih menjadi menu yang paling di cari (Devi/Existensil)

Menurut laporan dari FAO (Food and Agriculture Organization), sekitar 30% makanan yang diproduksi di dunia terbuang sia-sia. Data dari Economist Intelligence Unit (EIU) juga menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan food waste terbesar di dunia, dengan rata-rata 300 kg limbah makanan per orang per tahun.

Data dari Waste4Change menunjukkan bahwa selama Ramadan, limbah makanan di Indonesia meningkat hingga 20% dibandingkan bulan-bulan biasa.

Selain itu, banyak orang yang kurang memperhitungkan jumlah makanan yang sebenarnya dibutuhkan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 77 kg per kapita makanan terbuang setiap tahunnya di Indonesia, dengan sebagian besar berasal dari rumah tangga.

                Sumber: Tim Riset Existensil

Kebiasaan membeli makanan secara impulsif di pasar takjil atau supermarket juga menjadi penyebab meningkatnya food waste.

Sebuah survei dari The Economist Intelligence Unit menemukan bahwa selama Ramadan, belanja makanan meningkat hingga 40%, tetapi banyak dari makanan tersebut akhirnya terbuang.

Data menunjukkan bahwa selama bulan Ramadan, terjadi peningkatan signifikan dalam produksi sampah, terutama sampah sisa makanan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaporkan bahwa selama puasa, terjadi peningkatan 10 hingga 20 persen sampah sisa makanan.

Ahli Gizi Masyarakat Ali Khomsan menyebutkan, food waste bukan hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga dari restoran, pesta pernikahan, dan berbagai acara lainnya. “Persoalan food waste muncul di negara maju maupun berkembang. Namun, food waste lebih banyak terjadi di negara maju, sementara di negara berkembang lebih banyak terjadi food loss yang berkaitan dengan keterbatasan teknologi penyimpanan makanan,” jelasnya kepada Existensil.

Ali juga menyoroti kebiasaan konsumsi takjil yang tidak seimbang. Makan gorengan sudah menjadi kebiasaan saat berbuka, demikian juga dengan makanan manis. Boleh dilakukan di awal buka, namun jangan berlebihan. “Setelah salat magrib, sebaiknya langsung makan makanan bergizi dengan sayur dan lauk agar mendapatkan nutrisi yang cukup,” tambahnya.

Es buah menjadi minuman andalan dan salah satu menu wajib saat berbuka (Devi/Existensil)

Koordinator Program Reuse Movement Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN)  Ziadatur Rizqiyah atau biasa disapa Qia, menambahkan bahwa langkah-langkah sederhana dapat membantu mengurangi food waste. “Kita bisa mengukur jumlah makanan yang dibutuhkan, menghindari pembelian berlebihan, serta mengolah kembali makanan sisa menjadi hidangan baru,” ujarnya.

Menurutnya, edukasi mengenai food waste juga perlu digalakkan di tingkat rumah tangga dan komunitas. “Misalnya dengan mengadakan program berbagi makanan berlebih ke tetangga atau panti asuhan, serta memanfaatkan aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk membagikan makanan sisa dengan orang yang membutuhkan. Teknologi bisa menjadi solusi dalam mengurangi pemborosan makanan,” ungkap Qia.

Food waste bukan hanya sekadar makanan yang terbuang, tetapi juga memiliki dampak luas. Peningkatan limbah makanan berkontribusi pada pemakaian sumber daya yang tidak berkelanjutan, peningkatan emisi gas rumah kaca, serta pemborosan ekonomi. “Menurut laporan dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), makanan yang terbuang menyumbang sekitar 8-10% dari total emisi gas rumah kaca global,” ungkap Qia

Selain dampak ekologis, food waste juga memiliki konsekuensi sosial. Di saat banyak keluarga mengalami kesulitan ekonomi dan kesulitan mendapatkan makanan yang layak, pemborosan makanan menjadi ironi yang menyakitkan.

Menurut data Global Hunger Index 2022, sekitar 22 juta orang di Indonesia mengalami kelaparan dan kekurangan gizi, sementara di sisi lain, jutaan ton makanan terbuang sia-sia setiap tahunnya.

Untuk itu, momentum Ramadan seharusnya menjadi ajang refleksi agar lebih bijak dalam mengelola konsumsi. “Dengan perencanaan yang lebih baik dan kesadaran akan pentingnya mengurangi food waste, kita bisa menjadikan Ramadan tidak hanya sebagai bulan yang penuh berkah, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelas Qia

Masyarakat, kata Qia,  diharapkan lebih bijak dalam mengelola konsumsi selama Ramadan. Alih-alih hanya menikmati kelezatan makanan, kita juga bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan dan sesama. “Ramadan yang identik dengan bulan berbagi hendaknya tidak hanya diterjemahkan dalam bentuk memberi, tetapi juga dalam sikap bijak terhadap makanan agar tidak ada lagi yang terbuang sia-sia,” pungkasnya.

Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mengurangi food waste selama Ramadan:

  1. Membuat daftar belanja yang terencana – Hanya membeli bahan makanan yang benar-benar diperlukan dan bisa digunakan untuk beberapa menu.
  2. Menghitung porsi makanan dengan cermat – Memasak dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan keluarga agar tidak ada makanan berlebih.
  3. Mengolah makanan sisa menjadi hidangan baru – Contohnya, nasi sisa bisa diolah menjadi nasi goreng atau bubur, sementara sayuran sisa bisa digunakan dalam sup atau tumisan.
  4. Menyimpan makanan dengan baik – Gunakan wadah kedap udara atau teknologi penyimpanan yang bisa memperpanjang umur makanan.
  5. Membagikan makanan berlebih kepada yang membutuhkan – Bisa dilakukan melalui komunitas sosial atau aplikasi berbagi makanan.
  6. Edukasi dan sosialisasi – Menyebarkan kesadaran tentang pentingnya mengurangi food waste melalui media sosial dan diskusi di lingkungan sekitar.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *