EXISTENSIL – Saat hingar-bingar pencapaian Indonesia yang katanya berhasil mencatatkan cadangan beras tertinggi sejak 1969 mencapai 3,7 juta ton pada pertengahan 2025 sebuah pertanyaan menggantung di udara panas kota: mengapa dapur-dapur warga masih berjuang menyiapkan makan sehari-hari?
Sambil menata cabai di atas piring kecil, Ibu Marni (45), warga Depok, mengeluh lirih. “Katanya cadangan beras banyak, tapi kenapa harga di pasar tetap tinggi ya,” ucapnya kepada Existensil melalui pesan singkat, Rabu (09/07/2025)
Pernyataan itu mencerminkan paradoks yang dirasakan jutaan warga Indonesia: antara statistik makro yang gemilang dan realitas mikro yang masih genting.
Existensil mencatat data, pada Mei 2025 lalu, pemerintah mengumumkan kebanggaan nasional: cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 3,7 juta ton, rekor tertinggi dalam sejarah Indonesia modern. Pemerintah juga menghentikan impor beras dan menyerap lebih dari 2 juta ton panen petani hanya dalam 5 bulan pertama tahun ini.
Produksi beras pun melesat: 13,95 juta ton dari Januari hingga April 2025 tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Target tahunan dipatok di angka 34,6 juta ton. Dengan luas panen mencapai 11,4 juta hektare dan ekspansi lahan 3 juta hektare di lahan rawa dan kering, Indonesia digadang-gadang sebagai produsen beras terbesar se-ASEAN. Namun benarkah ini tanda Indonesia menuju kedaulatan pangan sejati?
Harapan dari Halaman Sendiri
Dalam suasana penuh tantangan ini, gerakan-gerakan akar rumput seperti “Satu Rumah Tiga Tanaman Pangan” yang diluncurkan Existensil Leadership Centre (ELC) jadi jawaban kecil yang berdampak besar. Gerakan ini mengajak warga menanam tiga tanaman pangan lokal di rumah masing-masing baik itu di halaman, balkon, maupun pot daur ulang.
Di balik tembok dapur yang sempit dan balkon kos-kosan yang penuh jemuran, benih-benih kedaulatan pangan tengah ditanam. Bukan oleh korporasi atau negara, tetapi oleh warga biasa, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga jurnalis muda yang mulai menyadari bahwa bertahan hidup di tengah krisis iklim tidak bisa hanya mengandalkan supermarket.
Inilah semangat yang mendorong Existensil Leadership Centre (ELC) meluncurkan gerakan “Satu Rumah Tiga Tanaman Pangan” (1R3T) pada 9 Juli 2025. Sebuah ajakan revolusioner yang sederhana: tanamlah tiga jenis tanaman pangan sayuran cepat panen, umbi lokal, dan rempah keluarga di rumah masing-masing, meskipun hanya dalam pot bekas air galon.
“Menanam bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga soal memimpin,” ujar Edi Setiawan atau biasa akrab dipanggil Awan, Ketua Gerakan dan Kepala Research and Development ELC, Rabu (09/07/2025)

Menurutnya, krisis pangan global bukan hal yang bisa diserahkan semata kepada kebijakan makro atau diplomasi internasional. “Solusinya ada di dapur kita, di halaman rumah, di balkon yang sempit itu.”
ELC merumuskan gerakan ini berdasarkan riset internal yang mencakup 12 kota/kabupaten di Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan. Hasilnya mengejutkan 70% rumah tangga urban sebenarnya ingin menanam, tapi bingung harus mulai dari mana. Sebuah polling tambahan dari enam kota memperkuat temuan ini: 66,7% responden adalah perempuan, dan setengahnya sudah rutin menanam meski dengan lahan terbatas.
Mereka bukan hanya ingin belajar, tetapi siap berbagi: menyumbang pot bekas, bibit, bahkan karya seni. Ada yang ingin membentuk komunitas belajar, ada pula yang siap menjadi relawan pelatih. “Ini bukan sekadar gerakan tanam. Ini gerakan solidaritas,” kata Awan.
Pangan dan Pot Bekas
Awan mengungkap dalam survei ELC, mayoritas peserta adalah ibu rumah tangga dan pekerja perempuan urban yang antusias mengikuti pelatihan menanam tiga tanaman pangan. Tak punya lahan? Tak masalah. Warga mengubah botol bekas, ember pecah, hingga panci tua menjadi wadah kehidupan.
Gerakan ini akan digerakkan dengan pendekatan partisipatif: donasi bibit, penjualan karya seni tematik, acara publik seperti “Tanam Bareng, Panen Solidaritas”, hingga kemitraan dengan CSR dan pemerintah daerah. “Targetnya 1.000 rumah tangga penerima manfaat di tahun pertama,” jelasnya.
Dari Balkon Menuju Gerakan Nasional
Awan menyebut, gerakan ini tidak berhenti pada menanam. ELC juga menyiapkan pelatihan daring, pendampingan komunitas, serta sistem pelaporan digital berbasis warga. Sebuah model kepemimpinan ekologis yang membumi dan bisa direplikasi di berbagai kota.
Di tengah krisis iklim, harga pangan yang terus melambung, dan ketergantungan impor yang kian dalam, gerakan “Satu Rumah Tiga Tanaman Pangan” menjadi jawaban yang bersahaja namun kuat. Ini bukan hanya soal menumbuhkan cabai atau serai, tetapi menumbuhkan harapan.
Awan menegaskan, revolusi hijau yang sesungguhnya dimulai bukan dari sawah luas, tetapi dari pot kecil di balkon sempit.”Menghijaukan Indonesia dimulai dari diri sendiri,” pungkasnya.