Di Balik 2.382 Kasus KBGO, Represi Digital Kian Manipulatif Karena AI

EXISTENSIL – Jelang berbuka puasa Rabu sore itu, sambungan internet sempat tersendat, suara terputus-putus. Tapi topik yang dibicarakan terlalu penting untuk ditunda. Di tengah bulan Ramadan, Nabilah Saputri dari Divisi Kesetaraan dan Inklusi Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) berbicara tentang sesuatu yang tak kalah deras dari hujan: gelombang Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang terus meningkat.

Mengulik laporan Situasi Hak Digital Indonesia 2025 bertajuk “Orba Datang Lagi, Represi Tak Pernah Pergi”, SAFEnet mencatat 2.382 kasus KBGO sepanjang tahun. Angka itu bukan sekadar lonjakan statistik, melainkan sinyal bahaya tentang ruang digital yang semakin tidak aman terutama bagi perempuan dan kelompok minoritas gender.

“Ini bukan hanya soal kekerasan berbasis gender online, Kita melihat bagaimana hak digital warga juga dicabut dan direpresi. KBGO sering dipakai sebagai senjata untuk membungkam suara-suara kritis, terutama perempuan,” ujar Nabilah dalam The Exist Talk, Rabu (25/01/2025)

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dalam laporan tersebut adalah meningkatnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk melakukan manipulasi konten seksual. Praktik morphing rekayasa gambar intim tanpa persetujuan kini menjadi instrumen baru untuk mempermalukan dan mendiskreditkan korban.

“Dari Januari sampai pertengahan tahun, ada dominasi laporan yang berbasis AI, teknologi yang seharusnya membantu, justru dipakai untuk merepresi,” jelas Nabilah.

Aktivis, jurnalis, akademisi, hingga mahasiswa yang bersuara kritis tentang politik atau kebijakan publik, menjadi target. Foto mereka diambil dari media sosial, lalu dimanipulasi seolah-olah sedang melakukan tindakan asusila. Narasi dibangun: korban dianggap tidak bermoral, tidak waras, atau tidak pantas berbicara.

Bagi Nabilah, ini bukan sekadar serangan personal, tujuannya jelas, membuat mereka takut. Membuat mereka berhenti.

Bentuk kekerasan yang dilaporkan tidak tunggal. Ada flaming melalui direct message, ancaman lewat WhatsApp, penyusupan akun karena tidak menggunakan pengamanan ganda (2FA), hingga penyebaran konten intim di grup Telegram. Dalam beberapa kasus, pelaku mengaku sebagai aparat atau memiliki relasi dengan institusi tertentu. Simbol seragam dan klaim kekuasaan digunakan sebagai intimidasi.

“Kami menemukan sekitar belasan aduan yang diinisiasi oleh relasi kuasa, pelaku merasa punya posisi tawar. Ada yang terang-terangan bilang, daripada kamu kritik politik, mending jadi perempuan yang tahu diri,” kata Nabilah.

Serangan itu jarang menyasar substansi kritik. Nabilah mengungkap diserang adalah tubuh, moralitas, dan identitas gender korban. Di sinilah KBGO menjadi alat represi politik yang efektif. Ia tidak membungkam lewat penangkapan, melainkan lewat rasa malu, takut, dan kelelahan mental.

Menurut Nabilah, dampak KBGO tidak berhenti di layar ponsel, psikologis pasti. Banyak korban akhirnya tidak mau lagi mengakses media sosial, tapi juga ada dampak sosial dan ekonomi,” ungkapnya.

Ia menceritakan kasus seorang calon legislatif yang batal mencalonkan diri karena konten intimnya tersebar luas. Ada pula seorang pelajar yang bunuh diri setelah videonya beredar di grup sekolah. “Dalam satu kasus, korban kehilangan sampai tujuh juta rupiah dalam satu transaksi karena awalnya dijebak,” tambahnya.

Rasa malu di lingkungan sosial, tekanan keluarga, hingga hilangnya peluang kerja menjadi efek domino yang sulit dihentikan. Tubuh perempuan kembali dijadikan objek kontrol sosial kali ini melalui algoritma.

Apakah ini fenomena baru? Nabilah menggeleng. KBGO itu awalnya dianggap ekspansi dari kekerasan berbasis gender. Tapi sekarang kita tahu, ia adalah kekerasan itu sendiri. Sejak polemik Undang-Undang Pornografi 2008 hingga maraknya akun-akun yang mengobjektifikasi perempuan, pola kontrol terhadap tubuh perempuan tidak pernah benar-benar hilang. Bedanya, kini teknologi mempercepat dan memperluas dampaknya. “Dulu pembungkaman bisa sangat langsung. Sekarang lebih halus, tapi lebih masif,” katanya.

Represi tidak selalu hadir dalam bentuk larangan formal. Kadang ia hadir sebagai ribuan komentar seksis, akun anonim yang menyerang, atau foto palsu yang viral dalam hitungan menit. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP). Namun menurut Nabilah, masih banyak celah.

“TPKS memang mengatur kekerasan seksual berbasis elektronik, tapi tidak semua bentuk KBGO terakomodasi, flaming, intimidasi simbolik, manipulasi AI belum semuanya jelas secara hukum, nyatanya masih banyak Aparat Penegak Hukum (APH) yang belum punya perspektif korban,” ucap dia.

Di lapangan, aparat penegak hukum juga belum selalu memiliki perspektif gender dan pemahaman teknologi yang memadai. Sementara itu, platform digital sering kali lambat merespons laporan korban.

Bagi Nabilah, persoalan KBGO bukan sekadar isu keamanan digital. Ini soal demokrasi. “Kalau perempuan takut bersuara karena diserang tubuhnya, itu berarti ada yang salah dengan ruang publik kita,” ujarnya.

Angka 2.382 kasus bukan hanya data. Ia adalah cerita tentang perempuan yang memilih diam demi keselamatan mentalnya. Tentang aktivis yang menghapus unggahan. Tentang jurnalis yang membatasi opini dan ketika ketakutan itu menjadi norma, demokrasi perlahan kehilangan keberaniannya. “Represi digital bekerja tanpa perlu membredel media, cukup membuat orang takut untuk berbicara,” tutupnya.

 

 

Catatan: 

The Exis Talk adalah ruang dialog kritis dan reflektif yang dihadirkan oleh Existensil untuk membicarakan isu-isu sosial, ekologi, disabilitas, gender, hingga keadilan struktural dari perspektif yang berpihak pada kelompok rentan. Melalui obrolan mendalam bersama aktivis, akademisi, jurnalis, pembuat kebijakan, dan komunitas akar rumput, The Exis Talk tidak sekadar menyajikan opini, tetapi menghadirkan pengalaman, data, dan suara-suara yang kerap disisihkan dari ruang publik.

Setiap episodenya dirancang sebagai percakapan yang jujur, kritis, dan membumi mendorong publik untuk berpikir lebih dalam tentang relasi kuasa, kebijakan yang timpang, serta masa depan yang lebih adil dan inklusif. The Exis Talk menjadi ruang belajar bersama, sekaligus ruang aman untuk bertanya, menyimak, dan merawat empati.

Jangan lewatkan The Exis Talk setiap hari Rabu Pukul 20.00-21.00 WIB, live di Instagram @existensilcom. Mari bertemu, berdiskusi, dan menumbuhkan kesadaran kolektif karena perubahan selalu berawal dari percakapan yang berani. Spesial Ramadhan The Exist Talk mengudara di waktu ngabuburit.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *