Dari Sunyi Melindungi hingga Bunga Tumbuh Kembali: Airportradio, Ruang Aman, dan Perjalanan Penyintas Kekerasan

EXISTENSIL – Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh statistik kekerasan, perdebatan hukum, dan pernyataan pejabat yang berjarak dengan luka korban, ada sunyi yang justru bekerja sebagai penyelamat. Sunyi yang tidak menghakimi. Sunyi yang tidak memaksa. Sunyi yang hanya menyediakan ruang untuk bernapas kembali. Dari sunyi seperti inilah Airportradio merangkai dua lagu yang tidak sekadar menjadi karya musik, tetapi juga menjadi pernyataan sikap, keberpihakan, dan politik perawatan, “Semesta Kecil” dan “Bunga Tengah Hari.”

Dua lagu ini dirilis pada 6 Desember 2025, bertepatan dengan rangkaian Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (25 November–10 Desember).

Momentum ini bukan kebetulan. Airportradio secara sadar menempatkan karyanya dalam pusaran perjuangan melawan kekerasan berbasis gender (KBG) bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai bagian dari narasi itu sendiri. Kedua lagu tersebut bekerja sama dengan label Demajors Independent Music Industry (DIMI), yang juga dikenal memiliki komitmen inklusif dan keberpihakan terhadap isu ruang aman bagi perempuan

Berbeda dari banyak band yang memilih kebisingan sebagai bentuk perlawanan, Airportradio sejak awal justru berangkat dari kesunyian. Sejak berdiri, mereka memilih tidak menggunakan gitar, menghindari instrumen yang identik dengan suara ingar-bingar. Yang mereka hadirkan justru bunyi-bunyian rendah, ganjil, minimalis, dan berjarak.

Mereka menyebutnya sebagai “kebisingan dalam kesunyian.” Sebuah paradoks yang justru merepresentasikan dengan tepat kondisi batin banyak penyintas kekerasan, luka yang tidak selalu berteriak, tetapi terus berdetak di dalam tubuh.

Di “Semesta Kecil,” pendengar langsung disambut dengan puisi yang sepi, nyaris seperti bisikan dari ruang terdalam. Lalu perlahan, ketukan drum masuk sebagai penanda bahwa ada energi yang sedang dikumpulkan. Pada bagian puncak lagu, suara sintetis, bass, french horn, biola, dan cello bertemu dalam keriuhan yang tidak meledak, tetapi menguatkan. Lagu ini berkisah tentang kehadiran yang aman tentang seseorang yang hadir tanpa dominasi, tanpa glorifikasi, tanpa tuntutan. Kehadiran yang menyembuhkan justru karena ia tidak menekan.

Yang paling simbolik dalam lagu ini adalah panggilan Raka Senyawa, yang merepresentasikan nyala semangat kolektif. Kehadiran suara ini seperti ingin mengatakan bahwa penyintas tidak sendiri. Ada lingkar-lingkar kecil yang mungkin tampak remeh di mata sistem besar, tetapi justru menjadi penopang utama untuk tetap hidup.

Jika “Semesta Kecil” adalah ruang aman yang dirawat bersama, maka “Bunga Tengah Hari” adalah saat ketika tubuh dan jiwa mulai berani tumbuh kembali. Lagu ini dibuka dengan suara hutan di Kalimantan selama satu menit dari proyek Points of Listening. Sebuah jeda panjang yang terasa seperti tarikan napas setelah sekian lama tenggelam. Hutan dihadirkan bukan sebagai latar eksotis, melainkan sebagai ruang pemulihan—tempat hidup menemukan ritmenya kembali.

Lagu ini tidak menggunakan drum. Hanya suara sintetis, bass, dan cello yang berlapis. Bunyi simbal yang muncul pelan-pelan melambangkan proses pertumbuhan bunga. Liriknya lirih, namun menghantam dengan kedalaman yang menyayat:

Namanya disebut Bunga Tengah Hari, padahal ia senja yang enggan pergi. Tumbuh diam di reruntuh yang asri.

Ini bukan sekadar metafora puitik. Ini adalah potret penyintas yang berulang kali ingin menyerah, berkali-kali berdiri di ambang kematian, tetapi pelan-pelan belajar mencintai hidupnya kembali meski dunia pernah mematahkan segalanya.

Yang membuat dua lagu ini tidak berhenti sebagai sekadar karya estetika adalah kenyataan bahwa sebagian personel dan kolaborator Airportradio adalah penyintas kekerasan berbasis gender. Mereka membawa pengalaman langsung tentang trauma panjang, ketiadaan keadilan, stigma sosial, serta kerusakan reputasi yang sering kali harus ditanggung korban, bahkan setelah kekerasan itu berlalu.

Benedicta R. Kirana, vokalis Airportradio, menegaskan bahwa KBG bagi mereka bukanlah isu dari kejauhan. “Ini adalah pengalaman hidup,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (8/12/2025)

 

Dalam konteks Indonesia, di mana banyak penyintas memilih diam karena tekanan sosial, suara musik menjadi alat untuk merebut kembali narasi diri. Bukan sebagai korban semata, tetapi sebagai subjek yang berhak atas proses penyembuhan

Dan data memang memotret situasi yang mengkhawatirkan. Hingga awal Agustus 2025, Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) mencatat 17.355 kasus kekerasan, dengan 14.919 korban adalah perempuan sekitar 80,6 persen.

Angka ini hanyalah puncak dari gunung es. Lebih menyesakkan lagi, data dari UN Women menunjukkan bahwa hanya sekitar 40 persen perempuan yang mencari bantuan setelah mengalami kekerasan. Artinya, mayoritas penyintas memilih bertahan dalam sunyi, dengan luka yang terus mengendap di tubuh dan pikirannya.

 

                                                                            Band Airportradio (Foto: Ist)

 

Di titik inilah “Semesta Kecil” dan “Bunga Tengah Hari” menemukan relevansi sosial-politiknya. Lagu-lagu ini tidak berbicara tentang aparat, pasal hukum, atau prosedur birokrasi. Lagu-lagu ini berbicara tentang apa yang sering dilupakan sistem: rasa aman, relasi, dan keberanian untuk tetap hidup.

Dua Lagu, Satu Perjalanan Penyintas

Ign Ade, bassist Airportradio, menggambarkan dua lagu ini sebagai satu alur perjalanan utuh seorang penyintas. “Semesta Kecil” adalah fase ketika luka masih diakui, dirawat, dan ditopang oleh ekosistem pertemanan yang saling menjaga. Di ruang aman itulah, “Bunga Tengah Hari” bisa tumbuh sebagai simbol kebangkitan, penemuan kembali nilai diri, dan keberanian untuk merancang masa depan.

Narasi ini menjadi penting karena ruang publik sering kali berhenti pada satu titik: peristiwa kekerasan itu sendiri. Media mengejar sensasi luka, kronologi berdarah, dan konflik hukum. Tetapi proses setelahnya—hari-hari panjang penyintas untuk bangkit, ketakutan yang terus menghantui, rasa malu yang ditanamkan oleh masyarakat—sering kali tenggelam dari sorotan.

Airportradio justru menggeser fokus itu. Mereka berbicara tentang kehidupan setelah kekerasan, tentang bagaimana seseorang belajar berdiri kembali di antara reruntuhan hidupnya sendiri.

Kedua lagu ini juga menjadi pintu masuk menuju album ketiga Airportradio yang direncanakan rilis pada 2026. Proses produksi album ini berlangsung sangat singkat hanya tujuh hari. Namun di balik durasi yang singkat itu, terdapat lapisan emosi, pengalaman hidup, dan kelelahan batin yang dalam.

Para personel, Benedicta, Deon Manunggal, Ign Ade, dan Prihatmoko “Moki” berkumpul di Yogyakarta pada Juli 2025. Mereka menjalani inkubasi selama empat hari di rumah sewa, menyusun tujuh aransemen pilot, lalu menyempurnakan semuanya selama dua hari di studio Kua Etnika. Hari ketujuh ditutup dengan rekaman.

Tetapi yang paling mereka ingat dari proses ini bukanlah tekanan artistik, melainkan rutinitas kecil yang hangat: obrolan pagi, kopi bersama, dan tawa di sela pembuatan lagu. “Tanpa beban, hanya kebersamaan,” ujar Moki. Dalam dunia yang sering memaksa orang untuk sembuh secara cepat dan produktif, kebersamaan semacam ini menjadi bentuk perlawanan yang lembut: bahwa pemulihan tidak harus tergesa-gesa, dan tidak harus dijalani sendirian

Album ketiga ini kembali berada di bawah naungan Demajors Independent Music Industry (DIMI)—label yang juga aktif membangun ruang aman dalam industri musik. Melalui program seperti #SalingSilang di Synchronize Fest, Demajors bekerja sama dengan Yayasan Pulih dan LBH Apik, membangun ekosistem yang lebih aman bagi perempuan di ruang-ruang publik dan industri kreatif.

Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa perjuangan melawan KBG tidak bisa dibebankan hanya pada penyintas. Ia membutuhkan sistem pendukung, solidaritas lintas sektor, dan keberanian kolektif untuk mengubah cara kerja ruang-ruang sosial.

Dari Sunyi Bandara ke Sunyi yang Memulihkan

Nama Airportradio sendiri diambil dari metafora yang indah dan terasa sangat relevan: sunyi yang riuh di landasan bandara. Dari kejauhan tampak senyap, tetapi sesungguhnya penuh lalu lintas suara yang bersahutan. Metafora ini kini terasa menemukan makna sosialnya. Dalam isu kekerasan berbasis gender, banyak luka yang tampak sunyi di permukaan, tetapi sebenarnya riuh oleh tangisan yang tertahan, ketakutan yang tidak terucap, dan trauma yang terus berulang setiap hari.

“Semesta Kecil” dan “Bunga Tengah Hari” bekerja di wilayah sunyi itu. Mereka tidak memaksa penyintas untuk bercerita. Mereka hanya menyediakan ruang. Ruang untuk diam. Ruang untuk menangis. Ruang untuk pelan-pelan mengingat bahwa hidup ini masih layak diperjuangkan.

Di tengah sistem hukum yang sering lamban, aparat yang belum sepenuhnya berpihak pada korban, serta budaya masyarakat yang masih gemar menyalahkan penyintas, musik menjadi medium alternatif untuk merawat luka sosial. Bukan sebagai pengganti keadilan struktural, tetapi sebagai ruang bertahan sementara—agar penyintas tidak tenggelam sendirian dalam kesunyian yang mematikan.

“Pesan kami jelas dan tegas,” kata Benedicta, “bahwa tidak seorang pun harus menghadapi luka itu sendirian.” Kalimat ini sederhana, tetapi sekaligus sangat politis. Sebab dalam konteks kekerasan berbasis gender, kesendirian sering kali adalah bentuk kekerasan lanjutan yang paling menyakitkan.

“Semesta Kecil” dan “Bunga Tengah Hari” bukan lagu yang menawarkan kemenangan besar atau akhir yang gemilang. Ia tidak menjanjikan bahwa luka akan hilang sepenuhnya. Tetapi ia menawarkan sesuatu yang sering kali jauh lebih penting: harapan yang ditanam pelan-pelan.

Harapan bahwa di luar sana, selalu ada satu ruang kecil yang aman. Harapan bahwa di antara reruntuhan hidup, bunga masih bisa tumbuh. Harapan bahwa luka tidak harus dilalui sendirian.

Dan di tengah dunia yang terlalu sering mengabaikan jeritan penyintas, dua lagu ini menjadi pengingat yang lembut sekaligus tegas: pemulihan adalah hak, bukan kemewahan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *